Situs Sejarah

Museum Mandar Majene

di Majene, Sulawesi Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menelusuri Jejak Peradaban Mandar: Sejarah dan Warisan Museum Mandar Majene

Museum Mandar Majene bukan sekadar gedung penyimpan benda kuno; ia adalah kristalisasi memori kolektif masyarakat Mandar di Sulawesi Barat. Terletak di jantung Kabupaten Majene, museum ini berdiri sebagai saksi bisu transisi kekuasaan dari era kolonial Hindia Belanda menuju kemerdekaan Indonesia, sekaligus menjadi penjaga api kebudayaan suku Mandar yang agung.

#

Asal-Usul Historis dan Periode Pendirian

Cikal bakal Museum Mandar Majene berakar pada masa kolonial. Bangunan yang kini menjadi museum ini awalnya berfungsi sebagai Gedung Rumah Sakit (Hospital) peninggalan pemerintah Hindia Belanda yang dibangun sekitar tahun 1908. Pada masa itu, Majene merupakan pusat kedudukan Afdeeling Mandar, sebuah wilayah administratif penting di bawah kendali Belanda.

Setelah masa kemerdekaan, fungsi gedung ini mengalami beberapa kali perubahan. Barulah pada tanggal 2 Agustus 1984, atas inisiasi para tokoh adat, budayawan, dan pemerintah daerah setempat, gedung ini resmi dialihfungsikan menjadi sebuah museum. Peresmiannya dilakukan oleh Gubernur Sulawesi Selatan saat itu, Prof. Dr. Ahmad Amiruddin (mengingat Sulawesi Barat saat itu masih menjadi bagian dari Sulawesi Selatan). Tujuan utamanya adalah untuk menyelamatkan artefak budaya Mandar yang mulai tercecer dan hilang akibat kurangnya wadah pelestarian.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi: Gaya Indische Empire

Gaya arsitektur Museum Mandar Majene sangat kental dengan pengaruh Indische Empire Style, sebuah gaya arsitektur yang berkembang di Hindia Belanda pada abad ke-18 dan ke-19. Karakteristik utama yang masih terjaga hingga kini adalah dindingnya yang sangat tebal, mencapai 30 hingga 40 sentimeter, yang dirancang untuk meredam panas tropis.

Bangunan ini memiliki langit-langit (plafon) yang sangat tinggi dengan jendela-jendela besar yang berfungsi sebagai sistem ventilasi silang (cross ventilation). Lantai aslinya menggunakan tegel klasik bermotif yang masih dipertahankan di beberapa ruangan. Keunikan lainnya terletak pada struktur atapnya yang kokoh dan penggunaan pilar-pilar beton yang masif di bagian depan, memberikan kesan megah dan berwibawa. Meskipun telah mengalami beberapa kali renovasi ringan, struktur utama bangunan peninggalan Belanda ini tetap dijaga keasliannya sebagai bagian dari pelestarian cagar budaya.

#

Signifikansi Historis dan Peristiwa Terkait

Museum ini memegang peranan vital dalam mendokumentasikan sejarah perjuangan rakyat Mandar melawan kolonialisme. Salah satu peristiwa sejarah yang melekat pada lokasi ini adalah memori mengenai perlawanan Mara’dia (Raja-raja) di tanah Mandar terhadap hegemoni Belanda.

Di dalam museum ini tersimpan catatan dan artefak yang merujuk pada Perjanjian Pitu Ba'ba Binanga (Tujuh Kerajaan di Muara Sungai) dan Pitu Ulunna Salu (Tujuh Kerajaan di Hulu Sungai). Aliansi ini merupakan sistem pemerintahan konfederasi unik di Mandar yang mengatur tatanan sosial dan pertahanan wilayah. Museum ini menjadi satu-satunya tempat di mana pengunjung dapat memvisualisasikan bagaimana sistem pemerintahan tradisional tersebut beroperasi sebelum akhirnya dikooptasi oleh administrasi kolonial.

#

Tokoh dan Koleksi Ikonik

Beberapa tokoh besar yang dikaitkan dengan narasi sejarah di museum ini antara lain adalah tokoh pejuang kemerdekaan asal Mandar, seperti Ibu Depu (Andi Depu), yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Meski koleksi pribadinya tersebar, Museum Mandar menyimpan dokumentasi mengenai perannya dalam mempertahankan merah putih di tanah Mandar.

Koleksi paling unik dan spesifik dari museum ini adalah Perahu Sandeq. Museum ini menyimpan miniatur dan fragmen sejarah mengenai Sandeq, perahu layar tradisional Mandar yang diakui sebagai salah satu perahu tercepat di dunia. Selain itu, terdapat koleksi "Sure' Kondogo", yaitu naskah-naskah kuno yang ditulis di atas daun lontar, berisi tentang silsilah raja-raja Mandar, hukum adat, hingga mantra-mantra pengobatan kuno.

Peninggalan lain yang tak kalah penting adalah koleksi keramik peninggalan Dinasti Ming dan Ching yang ditemukan di perairan Mandar, membuktikan bahwa wilayah Majene dahulu merupakan pelabuhan transit yang sangat sibuk dalam jalur perdagangan maritim internasional.

#

Upaya Pelestarian dan Restorasi

Sebagai situs sejarah yang terdaftar dalam cagar budaya, Museum Mandar Majene terus mendapatkan perhatian dari Balai Pelestarian Kebudayaan. Restorasi yang dilakukan sejauh ini sangat berhati-hati agar tidak mengubah fasad asli bangunan. Tantangan terbesar dalam pelestarian ini adalah kelembapan udara karena lokasinya yang dekat dengan pesisir pantai Majene, yang berpotensi merusak kertas naskah kuno dan artefak berbahan logam.

Pemerintah Kabupaten Majene secara rutin melakukan tata kelola koleksi (kurasi) dan digitalisasi naskah-naskah kuno Mandar agar isi dari naskah tersebut tetap dapat dipelajari oleh generasi mendatang tanpa harus menyentuh fisik naskah yang sudah rapuh.

#

Kepentingan Budaya dan Identitas Mandar

Bagi masyarakat lokal, museum ini adalah simbol identitas "Malaqbi" (bermartabat/mulia). Museum ini sering menjadi pusat kegiatan budaya, seperti festival sastra Mandar dan pameran seni rupa. Keberadaan museum ini mempertegas posisi Majene sebagai "Kota Tua" dan pusat pendidikan di Sulawesi Barat. Secara religius, museum juga menyimpan artefak-artefak penyebaran Islam di Mandar, termasuk Al-Qur'an tulis tangan kuno, yang menunjukkan bagaimana nilai-nilai Islam berasimilasi dengan adat istiadat setempat melalui prinsip Adat Mapurondo.

#

Fakta Unik: Dari Kamar Jenazah ke Ruang Budaya

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui umum adalah bahwa bagian belakang bangunan museum ini dulunya merupakan area kamar jenazah dan ruang tindakan medis berat saat masih berfungsi sebagai rumah sakit Belanda. Aura historis yang kuat terkadang memberikan kesan mistis bagi sebagian pengunjung, namun hal itu justru menambah daya tarik museum sebagai tempat yang benar-benar menyimpan "ruh" masa lalu.

Melalui keberadaan Museum Mandar Majene, sejarah panjang peradaban bahari, keteguhan politik kerajaan-kerajaan Mandar, dan estetika arsitektur kolonial menyatu dalam satu harmoni. Ia bukan sekadar tempat penyimpanan barang mati, melainkan ruang hidup yang terus bercerita tentang jati diri manusia Mandar kepada dunia.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Raden Suradi No. 2, Pangali-Ali, Banggae, Kabupaten Majene
entrance fee
Sukarela
opening hours
Senin - Jumat, 08:00 - 16:00

Tempat Menarik Lainnya di Majene

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Majene

Pelajari lebih lanjut tentang Majene dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Majene