Benteng Delft
di Maluku Barat Daya, Maluku
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Jejak Kolonial di Ujung Selatan Maluku: Sejarah dan Kejayaan Benteng Delft
Benteng Delft merupakan salah satu monumen bisu dari era kolonialisme Eropa yang berdiri tegak di wilayah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (3T) Indonesia, tepatnya di Pulau Babar, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku. Sebagai situs sejarah yang strategis, benteng ini menyimpan narasi panjang mengenai persaingan perdagangan rempah global, diplomasi antar-bangsa, dan struktur pertahanan militer Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di wilayah Kepulauan Terselatan.
#
Latar Belakang dan Asal-Usul Pendirian
Pembangunan Benteng Delft tidak dapat dipisahkan dari ambisi VOC untuk memonopoli perdagangan hasil bumi di wilayah Maluku bagian selatan pada abad ke-17 dan ke-18. Nama "Delft" diambil dari salah satu kota penting di Belanda yang juga merupakan salah satu dari enam kantor cabang (Kamer) utama VOC. Pendirian benteng ini di Pulau Babar bertujuan untuk mengamankan jalur pelayaran dari gangguan bajak laut serta membendung pengaruh pedagang asing lainnya, seperti Inggris dan Portugis, yang mencoba masuk ke wilayah perairan Maluku Tenggara.
Secara spesifik, Benteng Delft didirikan pada pertengahan abad ke-17, sekitar tahun 1650-an, ketika VOC mulai memperkuat cengkeramannya di Kepulauan Babar dan Kepulauan Tanimbar. Lokasinya yang berada di Tepa (ibu kota lama Maluku Barat Daya) dipilih karena posisi geografisnya yang terlindung dan memiliki akses pandang yang luas ke arah laut lepas, menjadikannya titik pengintaian yang ideal bagi kapal-kapal yang melintas di Laut Banda menuju Laut Timor.
#
Arsitektur dan Detail Konstruksi
Secara arsitektural, Benteng Delft mengadopsi gaya benteng pertahanan Eropa klasik yang disesuaikan dengan kondisi tropis Indonesia. Struktur utamanya berbentuk segi empat dengan bastion atau menara pengintai di setiap sudutnya. Penggunaan bastion ini merupakan ciri khas teknik militer Belanda untuk memastikan tidak ada "titik buta" (blind spot) saat menghadapi serangan musuh, karena setiap sisi dinding dapat dilindungi oleh tembakan menyilang dari bastion tetangga.
Material konstruksi Benteng Delft sangat unik karena memadukan material lokal dan teknik Eropa. Dinding benteng dibangun menggunakan susunan batu karang (limestone) yang sangat tebal, yang direkatkan dengan campuran kapur pasir dan kemungkinan putih telur sebagai bahan perekat organik yang kuat pada masanya. Ketebalan dindingnya mencapai lebih dari satu meter, dirancang untuk menahan hantaman meriam kapal perang. Di bagian dalam benteng, terdapat sisa-sisa fondasi bangunan yang dahulunya berfungsi sebagai gudang penyimpanan rempah, barak prajurit, dan kediaman bagi Posthouder (pejabat perwakilan VOC).
#
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting
Benteng Delft memainkan peran krusial dalam sistem pertahanan berlapis Belanda di Maluku. Selain sebagai basis militer, benteng ini berfungsi sebagai pusat administrasi dan titik pengumpul komoditas. Meskipun wilayah Maluku Barat Daya tidak menghasilkan cengkih atau pala sebanyak Maluku Utara, wilayah ini merupakan sumber penting untuk komoditas lain seperti kayu, budak pada masa lampau, dan hasil laut yang bernilai tinggi.
Salah satu peristiwa sejarah yang signifikan terkait Benteng Delft adalah fungsinya sebagai pos pemantauan terhadap gerakan perlawanan lokal. Masyarakat di Kepulauan Babar dikenal memiliki struktur adat yang kuat. Kehadiran benteng ini sering kali menjadi titik gesekan antara kebijakan monopoli Belanda dengan kedaulatan para raja-raja kecil di Pulau Babar. Benteng ini juga menjadi saksi bisu masa transisi kekuasaan dari VOC ke Pemerintah Hindia Belanda (setelah VOC bangkrut pada 1799) hingga masa pendudukan Jepang di Perang Dunia II, di mana beberapa bagian benteng sempat dimanfaatkan kembali oleh tentara Jepang sebagai garis pertahanan pantai.
#
Tokoh dan Periode Terkait
Beberapa tokoh yang tercatat dalam catatan kolonial terkait operasional benteng ini adalah para Resident dan Posthouder yang bertugas menjaga stabilitas di wilayah Zuidwestereilanden (Kepulauan Barat Daya). Selain itu, benteng ini juga terkait erat dengan misi penginjilan di Maluku Selatan. Para misionaris Belanda sering kali menggunakan perlindungan di dalam atau di sekitar benteng sebelum mereka masuk ke pedalaman untuk menyebarkan agama Kristen, yang kemudian membentuk wajah religius masyarakat Maluku Barat Daya hingga saat ini.
#
Pentingnya Budaya dan Religi
Bagi masyarakat lokal di Tepa dan sekitarnya, Benteng Delft bukan sekadar tumpukan batu mati. Situs ini dianggap sebagai simbol identitas sejarah yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Keberadaan benteng telah memengaruhi tata kota Tepa dan sosiologi masyarakat setempat. Secara budaya, situs ini sering dikaitkan dengan cerita-cerita rakyat mengenai ketangguhan leluhur dalam menghadapi bangsa asing. Dalam konteks religi, kedekatan benteng dengan gereja-gereja tua di wilayah tersebut menunjukkan pola pemukiman kolonial yang menempatkan pusat kekuasaan militer berdampingan dengan pusat kegiatan spiritual.
#
Status Konservasi dan Upaya Restorasi
Saat ini, kondisi Benteng Delft merupakan tantangan besar bagi pelestarian cagar budaya di Indonesia. Faktor usia, cuaca ekstrem di wilayah kepulauan, dan pertumbuhan vegetasi liar telah menyebabkan kerusakan di beberapa bagian dinding dan bastion. Sebagian struktur telah runtuh, namun sisa-sisa kemegahannya masih dapat dilihat dengan jelas.
Pemerintah Daerah Maluku Barat Daya bersama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) wilayah XX telah berupaya melakukan pendataan dan penetapan Benteng Delft sebagai Situs Cagar Budaya. Upaya restorasi yang berkelanjutan sangat diperlukan, mengingat lokasinya yang jauh dari pusat administrasi provinsi di Ambon, yang sering kali menghambat mobilisasi logistik untuk perbaikan fisik. Revitalisasi benteng ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi objek wisata sejarah (heritage tourism), yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat lokal di Pulau Babar.
#
Fakta Unik dan Penutup
Salah satu fakta unik dari Benteng Delft adalah keberadaan meriam-meriam kuno yang beberapa di antaranya masih tertimbun atau berpindah tempat di sekitar situs. Berbeda dengan benteng-benteng di Banda Neira yang sangat populer, Benteng Delft menawarkan suasana yang lebih otentik dan "sunyi", memberikan gambaran nyata tentang betapa terisolasinya para serdadu Belanda yang ditugaskan di ujung selatan Nusantara pada masa itu.
Sebagai penutup, Benteng Delft adalah permata sejarah yang terlupakan di Maluku Barat Daya. Ia adalah bukti bahwa sejarah Indonesia tidak hanya berpusat di Jawa atau Maluku Tengah, tetapi juga membentang hingga ke pulau-pulau kecil di perbatasan Australia. Menjaga kelestarian Benteng Delft berarti menjaga memori kolektif bangsa tentang perjuangan, kedaulatan, dan kerumitan masa lalu yang membentuk Indonesia hari ini.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Maluku Barat Daya
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Maluku Barat Daya
Pelajari lebih lanjut tentang Maluku Barat Daya dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Maluku Barat Daya