Situs Sejarah

Makam Mgr. Johannes Aerts dan Rekan

di Maluku Tenggara, Maluku

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Makam Mgr. Johannes Aerts dan Rekan: Monumen Iman dan Tragedi Perang di Kepulauan Kei

Makam Mgr. Johannes Aerts dan Rekan merupakan salah satu situs sejarah paling penting dan sakral di Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku. Terletak di pesisir pantai Langgur, situs ini bukan sekadar kompleks pemakaman biasa, melainkan monumen peringatan atas peristiwa kelam Perang Dunia II yang mengubah wajah misi Katolik di wilayah Maluku dan Papua. Situs ini menjadi saksi bisu kekejaman pendudukan Jepang serta keteguhan iman para misionaris Missionarii Sacratissimi Cordis (MSC).

#

Latar Belakang Sejarah dan Peristiwa 13 Juli 1942

Berdirinya situs sejarah ini berakar pada tragedi berdarah yang terjadi pada tanggal 13 Juli 1942. Saat itu, pasukan Kekaisaran Jepang baru saja menduduki Kepulauan Kei. Mgr. Johannes Aerts, yang menjabat sebagai Vikaris Apostolik wilayah Nugini Belanda (saat ini mencakup Maluku dan Papua), menjadi target utama pengejaran militer Jepang.

Pada sore hari yang nahas itu, Mgr. Johannes Aerts bersama lima imam dan tujuh bruder MSC digiring oleh tentara Jepang ke tepi pantai Langgur. Tanpa proses peradilan yang jelas, mereka dieksekusi mati di hadapan masyarakat lokal yang hanya bisa menyaksikan dengan penuh ketakutan. Ke-13 martir tersebut ditembak karena dituduh bekerja sama dengan pihak Sekutu (Belanda) dan menolak untuk menyerahkan aset-aset misi kepada militer Jepang. Jenazah mereka kemudian dikuburkan secara massal dalam kondisi yang sangat memprihatinkan di lokasi eksekusi tersebut, sebelum akhirnya dipindahkan ke lokasi makam permanen yang kita kenal saat ini.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi Situs

Makam Mgr. Johannes Aerts dan Rekan menampilkan gaya arsitektur memorial yang kental dengan simbolisme religius Katolik. Struktur utama makam ini didominasi oleh beton kokoh yang dirancang untuk bertahan menghadapi iklim pesisir yang korosif. Visual utama dari situs ini adalah barisan salib putih yang melambangkan kemurnian dan pengorbanan para misionaris.

Secara tata letak, makam ini diatur secara simetris. Di bagian tengah, terdapat nisan utama Mgr. Johannes Aerts yang dibuat lebih menonjol sebagai pemimpin misi. Di sekelilingnya, berjajar rapi nisan-nisan rekan-rekannya. Salah satu ciri khas konstruksi pada situs ini adalah penggunaan material batu karang lokal yang dipadukan dengan semen modern dalam beberapa bagian dinding pembatas, menciptakan harmoni antara alam Maluku Tenggara dengan arsitektur kolonial-religius.

Pada bagian dinding monumen, terdapat prasasti yang memuat nama-nama para martir dalam bahasa Latin dan bahasa Indonesia. Relief yang menceritakan kronologi peristiwa 13 Juli 1942 juga terukir di area sekitar makam, memberikan edukasi visual bagi para peziarah mengenai beratnya perjuangan para misionaris tersebut.

#

Tokoh-Tokoh Penting di Balik Situs

Selain Mgr. Johannes Aerts sendiri, tokoh-tokoh yang dimakamkan di tempat ini merupakan figur-figur kunci dalam pembangunan pendidikan dan kesehatan di Maluku Tenggara pada awal abad ke-20. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, namun dipersatukan oleh kaul misi MSC. Beberapa di antaranya adalah:

1. P. Gerardus Berns, MSC

2. P. Jacobus van Bodegraven, MSC

3. P. Andreas Sol, MSC (yang di kemudian hari menjadi penerus semangat misi di Kei)

4. Para bruder yang ahli dalam pertukangan dan pertanian, yang telah membantu masyarakat lokal membangun kemandirian ekonomi sebelum perang pecah.

Keberadaan tokoh-tokoh ini di dalam satu liang lahat (atau kompleks yang sama) menandakan persaudaraan yang tak terputus bahkan oleh maut. Mgr. Johannes Aerts sendiri dikenal sebagai sosok yang sangat dicintai rakyat Kei karena sikapnya yang rendah hati dan keberaniannya berdialog dengan para pemuka adat (Rat) di Kepulauan Kei.

#

Signifikansi Budaya dan Religi

Bagi masyarakat Maluku Tenggara, khususnya umat Katolik di Kepulauan Kei, Makam Mgr. Johannes Aerts dan Rekan adalah "Tanah Suci" kedua setelah gereja. Situs ini memiliki signifikansi religius yang sangat dalam sebagai tempat ziarah utama. Setiap tanggal 13 Juli, ribuan orang dari berbagai desa (Ohoi) di Maluku Tenggara berkumpul di lokasi ini untuk melaksanakan misa peringatan martir.

Secara budaya, situs ini juga menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan. Masyarakat Kei melihat para misionaris ini bukan sebagai orang asing, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar mereka. Kematian para misionaris ini dianggap sebagai pengorbanan tertinggi demi melindungi domba-domba (umat) di tanah Kei. Situs ini juga memperkuat identitas Langgur sebagai pusat pendidikan dan spiritualitas di wilayah Maluku.

#

Upaya Pelestarian dan Status Konservasi

Makam Mgr. Johannes Aerts dan Rekan saat ini dikelola oleh Keuskupan Amboina bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara. Situs ini telah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya penting di Maluku Tenggara. Upaya restorasi dilakukan secara berkala, terutama pada bagian pengecatan ulang nisan dan perawatan area taman di sekitar makam agar tetap asri bagi para peziarah.

Pemerintah daerah juga memasukkan situs ini ke dalam peta wisata sejarah dan religi. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa generasi muda Maluku Tenggara tidak melupakan sejarah kelam namun heroik yang pernah terjadi di tanah mereka. Tantangan utama dalam pelestarian adalah abrasi pantai karena lokasinya yang sangat dekat dengan garis laut, sehingga pembangunan tanggul penahan ombak menjadi bagian dari proyek konservasi jangka panjang.

#

Fakta Unik dan Warisan Sejarah

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa sebelum eksekusi, Mgr. Johannes Aerts sempat memberikan pemberkatan terakhir kepada rekan-rekannya dan bahkan kepada para serdadu Jepang yang akan menembaknya, sebuah tindakan pengampunan yang sangat luar biasa. Selain itu, lokasi makam ini kini menjadi simbol kerukunan antarumat beragama di Kei; tidak jarang warga Muslim di sekitar Langgur turut membantu menjaga kebersihan area makam saat perayaan-perayaan besar, mencerminkan filosofi Ain ni Ain (kita semua punya satu/bersaudara) yang dianut masyarakat Kei.

Sebagai kesimpulan, Makam Mgr. Johannes Aerts dan Rekan adalah pilar sejarah yang menyatukan memori kolektif tentang perang, iman, dan kemanusiaan. Berkunjung ke situs ini memberikan perspektif mendalam tentang bagaimana sejarah gereja dan sejarah perjuangan lokal di Maluku saling berkelindan, menyisakan warisan keteguhan yang tak lekang oleh waktu.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Langgur, Maluku Tenggara
entrance fee
Gratis / Donasi
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 18:00

Tempat Menarik Lainnya di Maluku Tenggara

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Maluku Tenggara

Pelajari lebih lanjut tentang Maluku Tenggara dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Maluku Tenggara