Situs Sejarah

Tjong A Fie Mansion

di Medan, Sumatera Utara

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Tjong A Fie Mansion: Permata Arsitektur dan Simbol Harmoni Sejarah Medan

Tjong A Fie Mansion, atau Rumah Tjong A Fie, berdiri megah di Jalan Ahmad Yani, Kesawan, sebagai saksi bisu kejayaan masa lalu Kota Medan. Bangunan dua lantai ini bukan sekadar sebuah rumah tinggal, melainkan monumen sejarah yang merepresentasikan asimilasi budaya, kejayaan ekonomi, dan kedermawanan luar biasa dari sosok yang pernah menjadi orang paling berpengaruh di Sumatera Utara pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

#

Asal-Usul dan Sosok Legendaris Tjong A Fie

Pembangunan mansion ini dimulai pada tahun 1895 dan selesai pada tahun 1900. Sosok di balik kemegahan ini adalah Tjong A Fie (1860–1921), seorang imigran asal Meixien, Guangdong, Tiongkok, yang datang ke Medan dengan tangan hampa pada usia 18 tahun. Berkat kerja keras, kecerdasan bisnis, dan kemampuannya menjalin hubungan diplomatis, ia tumbuh menjadi pengusaha perkebunan sukses yang menguasai komoditas karet, teh, dan tembakau.

Karier Tjong A Fie mencapai puncaknya ketika ia diangkat oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai Majoor der Chinezen (Mayor Tionghoa), sebuah jabatan administratif tertinggi bagi warga Tionghoa di Medan. Ia dikenal sebagai tokoh multikultural yang sangat dihormati tidak hanya oleh komunitas Tionghoa, tetapi juga oleh Kesultanan Deli, pemerintah Belanda, serta masyarakat Melayu dan pribumi lainnya. Kediaman ini dibangun sebagai simbol kesejahteraan sekaligus pusat aktivitas sosial dan diplomatik di jantung kawasan Kesawan.

#

Arsitektur: Fusi Tiga Budaya dalam Satu Struktur

Salah satu keunikan utama Tjong A Fie Mansion terletak pada gaya arsitekturnya yang eklektik. Bangunan ini merupakan perpaduan harmonis antara gaya Tionghoa, Eropa (Viktoria), dan Melayu. Luas bangunan ini mencapai sekitar 8.000 meter persegi dengan total 35 ruangan yang masing-masing memiliki fungsi spesifik.

1. Sentuhan Tionghoa: Terlihat sangat dominan pada bagian gerbang utama, ukiran kayu pada pintu dan jendela, serta keberadaan taman di tengah rumah (courtyard) yang dirancang sesuai prinsip Feng Shui. Area terbuka ini berfungsi untuk sirkulasi udara dan pencahayaan alami, sekaligus melambangkan keberuntungan yang mengalir ke dalam rumah.

2. Elemen Eropa: Pengaruh kolonial Belanda dan gaya Viktoria tampak pada penggunaan ubin lantai yang didatangkan langsung dari Italia dan Belgia, kolom-kolom besar yang kokoh, serta jendela-jendela tinggi dengan kaca patri yang berwarna-warni. Furnitur di dalam rumah pun mencerminkan gaya hidup aristokrat Eropa pada masa itu.

3. Nuansa Melayu: Adaptasi terhadap iklim tropis dan penghormatan terhadap budaya lokal terlihat pada penggunaan material kayu dan desain ventilasi yang memungkinkan udara mengalir bebas, mirip dengan konsep rumah panggung Melayu tradisional yang dimodifikasi.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Tjong A Fie Mansion bukan hanya rumah pribadi, melainkan pusat pergerakan ekonomi Medan. Di gedung inilah keputusan-keputusan besar mengenai pembangunan infrastruktur kota diambil. Tjong A Fie sendiri merupakan tokoh kunci di balik pembangunan Masjid Raya Al-Mashun, Gereja Immanuel, dan rumah ibadah lainnya di Medan. Ia adalah sosok yang membiayai pembangunan menara lonceng di Balai Kota lama Medan.

Ruang tamu di lantai bawah dibagi menjadi beberapa bagian berdasarkan siapa yang datang berkunjung. Ada ruang tamu khusus untuk pejabat Belanda, ruang tamu untuk Sultan Deli dan bangsawan Melayu, serta ruang tamu untuk masyarakat umum. Hal ini membuktikan betapa cairnya hubungan sosial yang dibangun oleh Tjong A Fie di tengah sekat-sekat rasial masa kolonial.

Fakta sejarah unik lainnya adalah bahwa rumah ini pernah menjadi tempat perlindungan dan pusat koordinasi bantuan saat terjadi bencana atau krisis pangan di wilayah Sumatera Timur. Tjong A Fie menginstruksikan agar pintu rumahnya selalu terbuka bagi mereka yang membutuhkan bantuan, tanpa memandang latar belakang etnis.

#

Interior dan Detail Konstruksi yang Memukau

Memasuki lantai dua, pengunjung akan menemukan aula besar yang dikenal sebagai Ballroom. Ruangan ini dahulu digunakan untuk pesta dansa dan pertemuan formal dengan tamu-tamu mancanegara. Lantainya terbuat dari kayu jati berkualitas tinggi yang masih terawat hingga saat ini. Di dinding-dindingnya, tergantung foto-foto asli keluarga yang memberikan gambaran visual tentang kehidupan sosial di Medan pada era Belle Époque.

Langit-langit bangunan dihiasi dengan lukisan tangan bermotif floral dan naga, yang dikerjakan oleh seniman yang didatangkan langsung dari Tiongkok. Detail kecil seperti kenop pintu berbahan kuningan, lampu gantung kristal asli, dan tempat tidur berkelambu sutra di kamar utama menunjukkan tingkat kemewahan yang luar biasa pada masanya.

#

Pelestarian, Restorasi, dan Status sebagai Situs Warisan

Setelah Tjong A Fie wafat pada tahun 1921, mansion ini tetap dihuni oleh keturunannya. Namun, seiring berjalannya waktu, beberapa bagian bangunan sempat mengalami kerusakan akibat usia dan cuaca tropis. Pada tahun 2009, bertepatan dengan perayaan 150 tahun lahirnya Tjong A Fie, rumah ini resmi dibuka untuk umum sebagai museum dan situs sejarah.

Upaya restorasi dilakukan dengan sangat hati-hati untuk mempertahankan keaslian materialnya. Pihak keluarga, yang kini mengelola yayasan Tjong A Fie, berkomitmen untuk menjaga setiap detail bangunan agar tetap sesuai dengan bentuk aslinya saat pertama kali dibangun. Pemerintah Kota Medan juga telah menetapkan bangunan ini sebagai Bangunan Cagar Budaya yang dilindungi oleh undang-undang.

#

Nilai Budaya dan Edukasi di Masa Kini

Bagi masyarakat Sumatera Utara, Tjong A Fie Mansion adalah simbol dari semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" yang dipraktikkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Keberadaan altar pemujaan leluhur di bagian belakang rumah menunjukkan ketaatan Tjong A Fie pada tradisi Konfusianisme, namun di sisi lain, sumbangsihnya pada pembangunan masjid dan gereja menunjukkan toleransi beragama yang sangat tinggi.

Saat ini, Tjong A Fie Mansion menjadi destinasi wisata sejarah utama di Medan. Wisatawan tidak hanya diajak melihat kemegahan arsitektur, tetapi juga mempelajari nilai-nilai integritas, kedermawanan, dan kerja keras. Setiap sudut rumah ini menyimpan cerita tentang bagaimana seorang imigran mampu mengubah wajah sebuah kota dan meninggalkan warisan yang melampaui batas-batas zaman.

Sebagai "Rumah Sejarah", Tjong A Fie Mansion terus berdiri tegak di tengah kepungan gedung-gedung modern, mengingatkan warga Medan akan akar sejarah mereka sebagai kota kosmopolitan yang dibangun di atas fondasi keberagaman dan kolaborasi antar-etnis.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Jend. Ahmad Yani No.105, Kesawan, Kec. Medan Barat, Kota Medan
entrance fee
Rp 35.000 per orang
opening hours
Setiap hari, 09:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Medan

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Medan

Pelajari lebih lanjut tentang Medan dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Medan