Situs Sejarah

Dokterswoning (Rumah Dokter)

di Metro, Lampung

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul dan Konteks Historis Kolonisasi

Sejarah Dokterswoning tidak dapat dilepaskan dari program Kolonisatie yang dicanangkan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1930-an, wilayah yang kini dikenal sebagai Metro merupakan bagian dari distrik Sukadana yang masih berupa hutan lebat. Di bawah kepemimpinan Residen Lampung saat itu, serta asisten residen dan kontrolir, wilayah ini dibuka untuk menampung limpahan penduduk dari Pulau Jawa.

Pembangunan Dokterswoning diperkirakan dilakukan pada kurun waktu 1937 hingga 1939. Pada masa itu, pemerintah kolonial sedang gencar membangun infrastruktur dasar untuk mendukung keberlangsungan hidup para transmigran (kolonis). Karena masalah kesehatan seperti malaria dan desentri menjadi ancaman utama di lahan bukaan baru, keberadaan fasilitas medis dan tenaga medis menjadi prioritas utama. Dokterswoning dibangun khusus sebagai rumah dinas bagi dokter pemerintah yang bertugas memimpin pelayanan kesehatan di wilayah Kolonisatie Metro.

Arsitektur Indies: Perpaduan Estetika dan Fungsi

Secara arsitektural, Dokterswoning mengusung langgam Indische Empire Style yang telah disesuaikan dengan iklim tropis Nusantara. Karakteristik utama bangunan ini adalah dindingnya yang tebal dengan langit-langit (plafon) yang sangat tinggi, sebuah teknik arsitektur khas Belanda untuk memastikan sirkulasi udara tetap terjaga dan suhu di dalam ruangan tetap sejuk tanpa bantuan alat pendingin mekanis.

Bangunan ini memiliki struktur simetris dengan teras depan yang luas. Jendela-jendelanya berukuran besar dengan model krepyak (jalusi kayu) yang berfungsi ganda: memberikan privasi sekaligus membiarkan angin masuk. Salah satu detail unik yang membedakan Dokterswoning dengan bangunan kolonial lainnya di Lampung adalah penggunaan material batu bata yang diproduksi secara lokal pada masa itu, namun dengan standar kualitas pengawasan Belanda yang ketat. Lantainya menggunakan ubin tegel bermotif klasik yang masih dipertahankan hingga kini, memberikan nuansa nostalgia yang kuat bagi setiap pengunjung.

Halaman luas yang mengelilingi bangunan ini dulunya berfungsi sebagai taman botani kecil dan ruang terbuka hijau, mencerminkan konsep tata kota kolonial yang mengedepankan aspek kebersihan dan kesehatan lingkungan (sanitasi).

Peran dalam Pergerakan dan Pelayanan Publik

Penyebutan "Rumah Dokter" merujuk pada fungsinya yang tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai pusat koordinasi medis. Tokoh paling legendaris yang dikaitkan dengan bangunan ini adalah dr. Swoning (sebuah miskonsepsi populer, di mana nama jabatan "Dokterswoning" sering disalahartikan sebagai nama orang). Faktanya, bangunan ini ditempati oleh dokter-dokter pemerintah yang ditunjuk oleh Dienst der Volksgezondheid (Dinas Kesehatan Masyarakat).

Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), bangunan ini sempat beralih fungsi menjadi markas medis militer Jepang. Namun, nilai historisnya mencapai puncak pada masa awal kemerdekaan. Dokterswoning menjadi saksi bisu bagaimana para tenaga medis Indonesia mengambil alih peran dokter Belanda untuk melayani masyarakat Metro yang tengah berjuang dalam kancah revolusi fisik. Keberadaan bangunan ini memastikan bahwa layanan dasar tetap berjalan meski situasi politik sedang bergejolak.

Signifikansi Budaya dan Identitas Kota

Bagi masyarakat Metro, Dokterswoning adalah "titik nol" identitas kota. Kota Metro sering dijuluki sebagai Kota Pendidikan dan Kota Sejarah di Lampung, dan Dokterswoning adalah pilar utama dari narasi tersebut. Bangunan ini mewakili fase transisi di mana Metro mulai dirancang sebagai kota modern dengan perencanaan wilayah yang matang (urban planning).

Secara budaya, Dokterswoning mengingatkan penduduk akan semangat gotong royong para kolonis awal dan dedikasi para tenaga kesehatan. Keberadaannya di dekat Masjid Taqwa dan Taman Merdeka Metro membentuk segitiga emas sejarah yang menggambarkan kerukunan antara fungsi pemerintahan, religi, dan sosial.

Upaya Pelestarian dan Restorasi

Selama beberapa dekade, Dokterswoning sempat mengalami masa-masa pengabaian yang mengancam keutuhan strukturnya. Kerusakan pada bagian atap dan pelapukan kayu jendela sempat menjadi kekhawatiran para penggiat sejarah lokal. Namun, dalam satu dekade terakhir, kesadaran akan pentingnya cagar budaya mulai meningkat secara kolektif di Metro.

Pemerintah Kota Metro melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, bekerja sama dengan komunitas sejarah seperti Metro Heritage, telah melakukan langkah-langkah konservasi yang sistematis. Saat ini, Dokterswoning telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya. Proses restorasi dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, berusaha mempertahankan sebanyak mungkin material asli.

Kini, Dokterswoning telah bertransformasi menjadi ruang publik yang edukatif. Bagian dalamnya sering digunakan sebagai museum mini yang memajang artefak-artefak sejarah Metro, foto-foto lama periode kolonisasi, serta alat-alat medis kuno. Halamannya sering menjadi tempat berkumpulnya komunitas kreatif, diskusi sejarah, hingga pameran seni.

Fakta Unik dan Warisan

Salah satu fakta unik mengenai Dokterswoning adalah sistem drainasenya yang masih berfungsi dengan baik sejak zaman Belanda. Desain saluran air di sekitar bangunan diciptakan sedemikian rupa sehingga area ini hampir tidak pernah mengalami banjir meski curah hujan tinggi. Selain itu, terdapat tradisi lisan di masyarakat mengenai lorong bawah tanah yang konon menghubungkan rumah ini dengan bangunan vital lainnya, meskipun secara arkeologis hal ini belum terbukti sepenuhnya dan lebih bersifat mitos urban yang menambah daya tarik bangunan.

Dokterswoning bukan sekadar benda mati; ia adalah narator yang menceritakan bagaimana sebuah peradaban dibangun dari nol. Keberadaannya menantang generasi muda Metro untuk tidak melupakan akar sejarah mereka. Sebagai salah satu dari sedikit bangunan kolonial yang masih berdiri tegak di Provinsi Lampung, Dokterswoning terus berdiri sebagai pengingat akan pentingnya ilmu pengetahuan (medis) dan perencanaan dalam membangun sebuah bangsa. Dengan perawatan yang berkelanjutan, "Rumah Dokter" ini dipastikan akan terus menjadi jantung sejarah Kota Metro untuk berabad-abad mendatang.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Dokter Sutomo, Metro, Metro Pusat
entrance fee
Donasi sukarela
opening hours
Setiap hari, 09:00 - 16:00

Tempat Menarik Lainnya di Metro

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Metro

Pelajari lebih lanjut tentang Metro dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Metro