Metro

Rare
Lampung
Luas
73,54 km²
Posisi
tengah
Jumlah Tetangga
3 wilayah
Pesisir
Tidak

Dipublikasikan: Januari 2025

History

#

Sejarah dan Perkembangan Kota Metro: Oasis Kolonisasi di Jantung Lampung

Kota Metro, yang terletak di posisi tengah Provinsi Lampung, memiliki narasi sejarah yang unik dan spesifik dibandingkan dengan wilayah pesisir di sekitarnya. Dengan luas wilayah 73,54 km², Metro berdiri sebagai bukti sejarah keberhasilan program migrasi internal yang dirancang sejak era kolonial Belanda hingga masa kemerdekaan Indonesia.

Awal Mula dan Era Kolonisasi Belanda

Sejarah Metro dimulai pada tahun 1936, ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda menginisiasi program Kolonisatie untuk mengurangi kepadatan penduduk di Pulau Jawa. Wilayah ini awalnya merupakan bagian dari Distrik Sukadana yang dihuni oleh masyarakat adat Lampung Pubian. Pada tanggal 9 Juni 1937, pemukiman ini secara resmi diberi nama "Meterm" (dari bahasa Belanda yang berarti pusat atau tengah). Nama ini kemudian diserap oleh lidah lokal menjadi "Metro".

Tokoh kunci dalam pembangunan awal Metro adalah Raden Mas Arsyad Thohir, yang memimpin rombongan transmigran gelombang pertama dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di bawah pengawasan asisten residen J.D. Carriere, Metro dirancang dengan tata kota yang rapi, mengadopsi sistem grid yang masih terlihat hingga saat ini. Keberhasilan program ini ditandai dengan pembangunan jaringan irigasi teknis yang memanfaatkan aliran Sungai Way Sekampung, mengubah hutan belantara menjadi lumbung padi yang produktif.

Masa Pendudukan Jepang dan Perjuangan Kemerdekaan

Selama pendudukan Jepang (1942–1945), Metro mengalami masa sulit di mana hasil bumi dikuras untuk kepentingan perang. Namun, semangat nasionalisme tumbuh subur. Tokoh pejuang lokal seperti KH. Gholib memainkan peran penting dalam menggerakkan perlawanan rakyat. Pasca Proklamasi 1945, Metro menjadi salah satu basis pertahanan dalam menghadapi Agresi Militer Belanda. Kedudukan geografisnya yang terkunci di daratan (non-pesisir) menjadikan Metro sebagai titik strategis bagi para gerilyawan untuk mengatur logistik dan komunikasi antarwilayah di Lampung Tengah.

Warisan Budaya dan Situs Bersejarah

Identitas budaya Metro merupakan hasil asimilasi harmonis antara tradisi Jawa yang dibawa para kolonis dengan kearifan lokal Lampung. Salah satu warisan fisik yang paling ikonik adalah Menara Masjid Taqwa dan Health Center peninggalan Belanda yang kini menjadi RSUD Ahmad Yani. Selain itu, terdapat Monumen Meterm yang memperingati berdirinya kota ini. Tradisi gotong royong dan sistem pengairan "Subak" yang dimodifikasi menjadi identitas sosial yang membedakan Metro dari wilayah lain.

Transformasi Menuju Kota Modern

Setelah melalui berbagai perubahan status administratif, Metro secara resmi ditetapkan sebagai Kota Otonom pada tanggal 27 April 1999 berdasarkan UU No. 12 Tahun 1999. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Lampung Tengah di sisi Utara dan Barat, serta Lampung Timur di sisi Selatan dan Timur, Metro kini bertransformasi menjadi "Kota Pendidikan".

Meskipun tidak memiliki garis pantai, keunggulan Metro terletak pada tata ruangnya yang tertib dan sejarahnya sebagai pusat inovasi pertanian. Sejarah Metro bukan sekadar cerita tentang pemindahan penduduk, melainkan simbol keberhasilan integrasi etnis dan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan di jantung Pulau Sumatera.

Geography

#

Geografi Kota Metro: Jantung Agraris di Provinsi Lampung

Kota Metro merupakan sebuah entitas wilayah yang unik di Provinsi Lampung. Memiliki luas wilayah sebesar 73,54 km², kota ini menyandang status sebagai daerah yang "langka" karena merupakan satu-satunya kota administratif di Lampung yang sepenuhnya dikelilingi oleh daratan tanpa garis pantai (landlocked). Terletak di koordinat 5°06'–5°09' Lintang Selatan dan 105°17'–105°19' Bujur Timur, Metro menempati posisi cardinal tepat di bagian tengah dari Provinsi Lampung. Secara administratif, kota ini berbatasan langsung dengan tiga wilayah penyangga utama, yaitu Kabupaten Lampung Tengah di sisi utara dan barat, serta Kabupaten Lampung Timur di sisi selatan dan timur.

##

Topografi dan Bentang Alam

Secara topografis, Metro didominasi oleh dataran rendah dengan kemiringan lereng yang sangat landai, berkisar antara 0-3%. Ketinggian wilayahnya berada pada rentang 30 hingga 60 meter di atas permukaan laut. Meskipun tidak memiliki pegunungan atau lembah yang curam, karakteristik tanah di Metro sangat dipengaruhi oleh sedimen sungai. Jaringan hidrologi kota ini diperkuat oleh keberadaan Way Batanghari dan beberapa anak sungai kecil yang mengalir membelah kota. Keberadaan sistem irigasi teknis yang dibangun sejak zaman kolonial (Irigasi Way Sekampung) menjadi fitur geografis buatan yang sangat vital, menciptakan lanskap perairan darat yang tertata rapi di tengah pemukiman.

##

Pola Iklim dan Variasi Musiman

Kota Metro memiliki iklim tropis basah yang dipengaruhi oleh angin muson. Suhu udara rata-rata berkisar antara 26°C hingga 28°C dengan tingkat kelembapan yang cukup tinggi. Curah hujan tahunan di wilayah ini tergolong tinggi, mencapai 2.000 mm hingga 2.500 mm per tahun. Musim hujan biasanya terjadi antara bulan Oktober hingga April, sementara musim kemarau berlangsung dari Mei hingga September. Posisinya yang berada di tengah daratan membuat fluktuasi suhu harian cenderung stabil, meskipun terkadang terjadi fenomena suhu panas yang meningkat akibat minimnya hambatan topografi berupa perbukitan tinggi di sekitar kota.

##

Sumber Daya Alam dan Zona Ekologi

Kekuatan utama geografis Metro terletak pada sektor agraris. Tanah di wilayah ini merupakan jenis podsolik merah kuning dan latosol yang sangat subur untuk kegiatan pertanian. Sebagian besar wilayah Metro masih berfungsi sebagai zona ekologi persawahan teknis yang luas, menjadikannya lumbung pangan bagi daerah sekitarnya. Meskipun tidak memiliki hutan lindung yang luas atau deposit mineral tambang yang besar, Metro memiliki biodiversitas air tawar yang kaya di sepanjang aliran irigasi dan sungai-sungai kecilnya. Pohon-pohon peneduh kota dan taman-taman terbuka hijau berfungsi sebagai koridor ekologi bagi berbagai spesies burung lokal, menjaga keseimbangan ekosistem di tengah pembangunan urban yang terkendali. Strategisnya letak Metro di tengah daratan menjadikannya pusat distribusi logistik yang krusial bagi konektivitas antarwilayah di Lampung.

Culture

#

Warisan Budaya dan Identitas Kota Metro: Jantung Pendidikan Lampung

Kota Metro, dengan luas wilayah 68,74 km² yang terletak strategis di tengah-tengah Provinsi Lampung, menyandang status unik sebagai kota administratif yang tidak memiliki garis pantai. Meski wilayahnya tergolong kecil dan dikelilingi oleh tiga wilayah tetangga—Lampung Tengah di utara dan barat, serta Lampung Timur di timur dan selatan—Metro memiliki kekayaan budaya yang merupakan perpaduan harmonis antara nilai pribumi Lampung dan pengaruh transmigrasi yang kuat.

##

Harmoni Tradisi dan Keberagaman Bahasa

Masyarakat Metro hidup dalam dualisme budaya yang saling melengkapi. Sebagai bagian dari Lampung, adat istiadat S Pepadun tetap menjadi pilar utama, terutama dalam upacara penyematan gelar adat atau Begawi. Namun, karena sejarahnya sebagai daerah tujuan transmigrasi (kolonisasi) sejak tahun 1930-an, nuansa budaya Jawa sangat kental terasa. Hal ini tercermin dalam penggunaan bahasa; selain Bahasa Indonesia, masyarakat sehari-hari berkomunikasi menggunakan dialek Jawa (Mataraman) dan Bahasa Lampung dialek O atau A. Ungkapan "Metro Kota Pendidikan" bukan sekadar slogan, melainkan identitas budaya yang membentuk karakter masyarakatnya menjadi lebih egaliter dan terbuka.

##

Seni Pertunjukan dan Kerajinan Tangan

Seni tari di Metro merupakan representasi dari keramah-tamahan. Tari Sembah (Sigeh Penguten) selalu hadir sebagai pembuka prosesi adat untuk menyambut tamu agung. Selain itu, pengaruh Jawa membawa kesenian seperti *Kuda Lumping* dan *Wayang Kulit* yang sering dipentaskan dalam perayaan hari jadi kota. Di sektor kerajinan, Metro dikenal dengan pengembangan motif Batik Metro yang unik, menggabungkan simbol ikonik kota—seperti Menara Masjid Taqwa—dengan ornamen khas Lampung seperti pucuk rebung. Kain Tapis dengan sulaman benang emas tetap menjadi primadona, dikenakan oleh kaum wanita dalam upacara-upacara sakral sebagai simbol status sosial dan keanggunan.

##

Kuliner Khas dan Cita Rasa Lokal

Geografi Metro yang agraris dan dikelilingi persawahan subur memengaruhi kulinernya. Salah satu sajian khas yang sulit ditemukan di tempat lain adalah Seruit versi Metro, yaitu ikan bakar yang dinikmati dengan sambal terasi, tempoyak (durian fermentasi), dan berbagai macam *lalapan* segar. Untuk kudapan, Kemplang dan Keripik Pisang khas Metro memiliki tekstur yang lebih renyah karena teknik pengolahan tradisional yang dipertahankan. Kota ini juga populer dengan budaya "angkringan" di malam hari, yang menjadi ruang interaksi budaya bagi mahasiswa dan penduduk lokal.

##

Religi dan Perayaan Budaya

Sebagai kota yang religius, hari besar Islam dirayakan dengan semarak di Masjid Taqwa yang menjadi pusat spiritual kota. Salah satu tradisi yang masih terjaga adalah Nyambai, ajang silaturahmi muda-mudi dalam balutan adat Lampung untuk mempererat persaudaraan. Selain itu, Festival Putri Nuban menjadi agenda tahunan yang menampilkan parade budaya, memamerkan busana adat Siger, dan perlombaan seni tradisional yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat dari berbagai etnis, menegaskan posisi Metro sebagai kota yang harmonis di tengah keberagaman.

Tourism

#

Menemajahi Pesona Kota Metro: Jantung Pendidikan dan Wisata Hijau di Lampung

Kota Metro merupakan sebuah permata unik di Provinsi Lampung yang berdiri di atas lahan seluas 73,54 km². Berbeda dengan wilayah Lampung lainnya yang masyhur karena garis pantainya, Metro adalah kota daratan yang terletak tepat di tengah (cardinal position) dan dikelilingi oleh tiga wilayah tetangga: Kabupaten Lampung Tengah, Lampung Timur, dan berdekatan dengan akses menuju ibu kota provinsi. Keunikan Metro terletak pada tata kota peninggalan era kolonialisasi Belanda yang rapi, menjadikannya destinasi wisata sejarah dan keluarga yang menenangkan.

##

Wisata Alam dan Ruang Terbuka Hijau

Meski tidak memiliki pantai atau pegunungan tinggi, Metro menawarkan pesona agrowisata dan taman kota yang asri. Dam Raman adalah ikon wisata air utama; sebuah bendungan bersejarah yang kini disulap menjadi destinasi swafoto dengan jembatan gantung dan wahana perahu edukasi. Selain itu, terdapat Taman Merdeka yang menjadi paru-paru kota, tempat wisatawan bisa menikmati suasana sore yang sejuk di bawah pepohonan rindang sembari melihat tatanan kota yang simetris.

##

Jejak Sejarah dan Budaya

Sebagai kota yang dibangun dengan konsep *Kolonisasi* pada tahun 1935, Metro menyimpan kekayaan sejarah yang terjaga. Wisatawan wajib mengunjungi Dokterswoning (Rumah Dokter), sebuah bangunan cagar budaya yang kini menjadi pusat informasi sejarah dan ruang kreatif. Budaya lokal Lampung yang berakulturasi dengan budaya Jawa dapat dirasakan melalui berbagai festival seni tahunan dan kerajinan tangan khas seperti Batik Metro yang memiliki motif pucuk rebung unik.

##

Petualangan Kuliner dan Pengalaman Lokal

Wisata kuliner di Metro adalah perpaduan cita rasa tradisional dan modern. Pengalaman unik yang wajib dicoba adalah menyambangi Pasar Kreatif (seperti Pasar Payungi), di mana pengunjung dapat menikmati jajanan pasar tradisional dengan sistem transaksi menggunakan koin kayu. Jangan lewatkan mencicipi Seruit khas Lampung atau kopi robusta lokal di kafe-kafe tematik yang menjamur di sepanjang Jalan Sudirman.

##

Aktivitas Luar Ruangan dan Edukasi

Bagi pencinta aktivitas luar ruangan, taman edukasi di Metro menawarkan pengalaman berkebun dan memetik buah langsung dari pohonnya. Kota ini juga sangat ramah bagi pesepeda; menyusuri jalanan kota yang bersih dengan pemandangan irigasi yang tertata rapi memberikan sensasi ketenangan yang jarang ditemukan di kota besar lainnya.

##

Akomodasi dan Keramahtamahan

Dikenal sebagai "Kota Pendidikan", masyarakat Metro sangat terbuka dan ramah terhadap pendatang. Pilihan akomodasi sangat beragam, mulai dari hotel berbintang di pusat kota hingga guest house bergaya kolonial yang menawarkan suasana hunian otentik bagi wisatawan yang mencari ketenangan.

##

Waktu Kunjungan Terbaik

Waktu terbaik untuk mengunjungi Metro adalah pada bulan Juni hingga Agustus, saat cuaca cenderung cerah untuk aktivitas luar ruangan, atau bertepatan dengan perayaan Hari Jadi Kota Metro di bulan Juni yang biasanya dimeriahkan dengan karnaval budaya dan pameran ekonomi kreatif berskala besar.

Economy

#

Profil Ekonomi Kota Metro: Pusat Jasa dan Pendidikan Lampung Tengah

Kota Metro merupakan entitas unik dalam konstelasi ekonomi Provinsi Lampung. Dengan luas wilayah hanya 73,54 km², Metro menyandang status sebagai daerah "langka" karena merupakan salah satu dari sedikit kota administratif yang sepenuhnya dikelilingi daratan (landlocked) di jantung Lampung. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur, posisi geografisnya yang strategis di jalur perlintasan utama menjadikannya hub ekonomi vital bagi wilayah sekitarnya.

##

Transformasi Sektor Pertanian dan Ketahanan Pangan

Meski tidak memiliki garis pantai atau ekonomi maritim, Metro memiliki sektor pertanian yang sangat efisien. Melalui sistem irigasi teknis peninggalan era kolonial (Sistem Irigasi Way Sekampung), Metro bertransformasi menjadi lumbung pangan di tengah modernisasi. Sektor pertanian di wilayah seperti Metro Utara tetap menjadi penyumbang PDRB yang signifikan, dengan fokus pada padi sawah dan hortikultura. Keunikan ekonominya terletak pada keterbatasan lahan yang memicu adopsi teknologi pertanian perkotaan (urban farming) yang lebih maju dibandingkan daerah tetangga.

##

Dominasi Sektor Jasa, Perdagangan, dan Pendidikan

Struktur ekonomi Metro didominasi oleh sektor tersier. Sebagai "Kota Pendidikan," keberadaan institusi besar seperti Universitas Muhammadiyah Metro dan IAIN Metro menciptakan ekosistem ekonomi mikro yang kuat. Sektor jasa pendidikan ini memicu pertumbuhan usaha turunan seperti indekos, kuliner, dan jasa fotokopi/percetakan yang menyerap ribuan tenaga kerja lokal. Di sektor perdagangan, pusat perbelanjaan seperti Chandra Superstore dan Pasar Tejoagung menjadi motor penggerak sirkulasi uang yang melayani warga dari tiga kabupaten sekitar.

##

Industri Kreatif dan Kerajinan Lokal

Sektor industri di Metro berfokus pada pengolahan skala kecil dan menengah (UMKM). Salah satu produk unggulan yang menjadi identitas ekonomi daerah adalah Batik Ciprat dan kerajinan sulam usus. Selain itu, industri pengolahan makanan seperti keripik pisang khas Metro dan produksi kopi lokal mulai menembus pasar nasional. Pemerintah kota secara aktif mendorong "Metro Bangga Beli" sebagai gerakan untuk memperkuat daya saing produk lokal di pasar regional.

##

Infrastruktur, Transportasi, dan Tren Ketenagakerjaan

Pembangunan infrastruktur di Metro diarahkan pada penguatan konektivitas darat. Sebagai titik tengah, perbaikan jalan lingkar luar sangat krusial untuk mobilitas logistik dari Lampung Tengah menuju Bandar Lampung. Tren ketenagakerjaan menunjukkan pergeseran dari sektor agraris ke sektor formal dan jasa profesional. Angka pengangguran di Metro relatif terkendali karena tingginya serapan tenaga kerja di sektor kesehatan (rumah sakit rujukan regional) dan sektor perbankan.

##

Potensi Pariwisata Berbasis Komunitas

Tanpa wisata pantai, Metro mengandalkan kreativitas melalui pariwisata buatan dan sejarah. Destinasi seperti "Dam Raman" dan "Payungi" (Pasar Yosomulyo Pelangi) menjadi model ekonomi kreatif berbasis komunitas yang berhasil meningkatkan pendapatan rumah tangga secara langsung melalui pemberdayaan ekonomi warga lokal di akhir pekan.

Demographics

#

Profil Demografis Kota Metro, Lampung

Kota Metro merupakan entitas urban yang unik di Provinsi Lampung. Dengan luas wilayah hanya 73,54 km², kota yang terletak di posisi tengah (pedalaman) ini tidak memiliki garis pantai, namun berfungsi sebagai simpul pendidikan dan perdagangan bagi tiga wilayah tetangganya: Kabupaten Lampung Tengah, Lampung Timur, dan sebagai penyangga koridor menuju Bandar Lampung.

Pertumbuhan dan Kepadatan Penduduk

Berdasarkan data terbaru, jumlah penduduk Kota Metro mencapai lebih dari 170.000 jiwa. Karakteristik yang paling menonjol adalah kepadatan penduduknya yang mencapai sekitar 2.300 jiwa/km². Angka ini menjadikannya wilayah terpadat kedua di Lampung setelah ibu kota provinsi. Distribusi penduduk terkonsentrasi di Metro Pusat dan Metro Timur, yang berfungsi sebagai pusat gravitasi ekonomi dan birokrasi.

Komposisi Etnis dan Keberagaman Budaya

Sebagai kota yang tumbuh dari sejarah kolonisasi (transmigrasi awal), Metro memiliki struktur etnis yang sangat heterogen. Suku Jawa merupakan mayoritas dominan yang membawa pengaruh kuat dalam pola pemukiman dan interaksi sosial. Namun, keberadaan suku asli Lampung, Bugis, Minang, dan keturunan Tionghoa menciptakan mosaik budaya yang harmonis. Toleransi antarumat beragama sangat tinggi, menjadikannya salah satu kota paling kondusif di Sumatera bagian selatan.

Struktur Usia dan Piramida Penduduk

Kota Metro memiliki piramida penduduk ekspansif yang mulai mengarah ke konstruktif. Proporsi penduduk usia produktif (15-64 tahun) sangat mendominasi, mencapai lebih dari 68%. Karakteristik unik di Metro adalah lonjakan populasi "penduduk tidak tetap" pada kelompok usia 15-24 tahun, yang merupakan pelajar dan mahasiswa dari luar daerah yang menetap di pemukiman kost atau asrama.

Pendidikan dan Literasi

Dijuluki sebagai "Kota Pendidikan", Metro memiliki tingkat literasi yang hampir mencapai 100%. Tingkat pendidikan rata-rata warganya jauh melampaui rata-rata provinsi. Keberadaan institusi pendidikan tinggi yang masif untuk ukuran kota kecil menciptakan ekosistem demografi yang terpelajar, yang berdampak pada rendahnya angka pengangguran terdidik dibandingkan kota-kota besar lainnya.

Urbanisasi dan Pola Migrasi

Berbeda dengan kota pesisir yang mengandalkan logistik laut, Metro tumbuh melalui urbanisasi internal. Migrasi masuk didominasi oleh arus pelajar dan pencari kerja dari kabupaten sekitarnya (Lampung Tengah dan Timur). Dinamika rural-urban di Metro sangat tipis; hampir seluruh wilayahnya kini telah terintegrasi dalam pola kehidupan perkotaan, meskipun sektor pertanian (persawahan teknis) masih dipertahankan di pinggiran kota sebagai identitas historis dan penyangga pangan.

💡 Fakta Unik

  • 1.Wilayah ini merupakan satu-satunya daerah di Lampung yang pernah menjadi lokasi pendaratan pesawat amfibi Belanda di aliran sungai besar pada masa kolonial untuk kepentingan logistik.
  • 2.Tradisi memukul bedug raksasa saat menyambut malam Idul Fitri yang dikenal dengan sebutan Tabuh Bedug menjadi kompetisi budaya tahunan yang sangat bergengsi di kawasan ini.
  • 3.Meskipun berada di dataran rendah dan dikelilingi oleh daratan tanpa garis pantai, wilayah ini secara geografis terbelah oleh aliran Way Pengubuan yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakatnya.
  • 4.Pusat kota ini dikenal sebagai titik pertemuan jalur lintas tengah Sumatera yang sangat sibuk dan menjadi markas besar bagi salah satu produsen tapioka serta pemrosesan nanas terbesar di dunia.

Destinasi di Metro

Semua Destinasi

Tempat Lainnya di Lampung

Lokasi Serupa

Panduan Perjalanan Terkait

Memuat panduan terkait...

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Uji Pengetahuanmu!

Apakah kamu bisa menebak Metro dari siluet petanya?