Kawasan Cagar Budaya Nasional Muaro Jambi
di Muaro Jambi, Jambi
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Kawasan Cagar Budaya Nasional Muaro Jambi: Jejak Episentrum Intelektual Asia Tenggara
Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muaro Jambi bukan sekadar tumpukan bata merah di tepi Sungai Batanghari. Ia adalah saksi bisu kejayaan peradaban Buddhis di Nusantara yang membentang luas lebih dari 3.981 hektar, menjadikannya kompleks percandian terluas di Asia Tenggara. Terletak di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, situs ini merupakan universitas kuno yang pernah menjadi pusat pembelajaran teologi dan sains yang sejajar dengan Universitas Nalanda di India.
#
Asal-Usul Historis dan Periode Pembentukan
Eksistensi Muaro Jambi diperkirakan bermula sejak abad ke-7 hingga ke-13 Masehi. Periode ini bertepatan dengan masa keemasan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu kuno. Berbeda dengan candi-candi di Jawa yang mayoritas menggunakan batu andesit, Muaro Jambi dibangun menggunakan bata merah hasil pembakaran tanah liat setempat. Hal ini disebabkan oleh kondisi geologis tepi sungai yang tidak memiliki sumber batu alam yang cukup.
Secara historis, situs ini pertama kali dilaporkan kembali ke dunia modern pada tahun 1824 oleh seorang perwira angkatan laut Inggris bernama S.C. Crooke. Namun, upaya sistematis untuk memahami signifikansi situs ini baru dimulai berpuluh-puluh tahun kemudian. Lokasinya yang strategis di daerah aliran sungai (DAS) Batanghari menjadikannya titik temu perdagangan internasional antara India, Tiongkok, dan kepulauan Nusantara.
#
Karakteristik Arsitektur dan Teknik Konstruksi
Keunikan arsitektur Muaro Jambi terletak pada sistem "Menapo"—gundukan tanah yang di dalamnya menyimpan reruntuhan struktur bata. Terdapat lebih dari 80 menapo yang telah diidentifikasi, namun baru segelintir yang telah dipugar sepenuhnya, seperti Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kembar Batu, dan Candi Kedaton.
Teknik konstruksi yang digunakan menunjukkan kemajuan teknologi pada masanya. Bata-bata merah dipasang dengan teknik gosok atau menggunakan perekat alami yang sangat kuat. Candi-candi di sini dikelilingi oleh pagar tembok dan sistem kanal air yang sangat kompleks. Kanal-kanal ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi antar-candi, tetapi juga sebagai sistem drainase untuk mengantisipasi luapan Sungai Batanghari. Salah satu ciri khas unik adalah adanya "makara" (makhluk mitologi laut) yang dipahat dengan detail halus, berfungsi sebagai hiasan tangga masuk candi.
#
Signifikansi Historis: Pusat Pendidikan Global
Salah satu fakta sejarah yang paling menonjol dari Muaro Jambi adalah fungsinya sebagai pusat pendidikan tinggi agama Buddha. Berdasarkan catatan I-Tsing, seorang pendeta dari Tiongkok yang singgah di wilayah ini pada abad ke-7, ia menyarankan agar para pelajar dari Tiongkok menetap di sini selama satu atau dua tahun untuk memperdalam tata bahasa Sanskerta dan teologi sebelum melanjutkan perjalanan ke Nalanda, India.
Muaro Jambi bukan sekadar tempat pemujaan, melainkan sebuah kompleks biara (vihara) yang luas. Di Candi Gumpung, misalnya, ditemukan struktur yang menyerupai ruang-ruang kelas dan tempat tinggal para biksu. Signifikansi intelektual situs ini semakin dipertegas dengan ditemukannya berbagai artefak berupa peralatan tulis, fragmen prasasti, dan arca-arca yang menunjukkan akulturasi budaya yang kental.
#
Tokoh Penting dan Koleksi Artefak
Nama besar seperti Atisha Dipamkara Shrijnana, seorang guru besar Buddha dari India yang mereformasi ajaran Buddha di Tibet, diyakini pernah menetap di Muaro Jambi selama 12 tahun (1011-1023 M). Ia belajar di bawah bimbingan guru besar setempat bernama Serlingpa Dharmakirti. Hubungan antara Muaro Jambi dengan Tibet ini menjadi bukti bahwa situs ini adalah simpul penting dalam jaringan intelektual global di masa lalu.
Ekskavasi di kawasan ini juga menemukan berbagai benda berharga seperti keramik dari dinasti Song, Ming, dan Yuan, yang membuktikan hubungan dagang yang intens dengan Tiongkok. Selain itu, ditemukan pula manik-manik dari Persia dan perhiasan emas yang memiliki ukiran sangat halus, menunjukkan kemakmuran ekonomi masyarakat pendukungnya saat itu.
#
Status Preservasi dan Upaya Restorasi
Pemerintah Indonesia secara resmi menetapkan Muaro Jambi sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 259/M/2013. Sejak saat itu, upaya pelestarian dilakukan secara masif. Tantangan terbesar dalam preservasi adalah ancaman industri di sekitar kawasan, terutama tumpukan batu bara yang sempat berada sangat dekat dengan zona inti situs.
Restorasi dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, menjaga keaslian material bata merah. Saat ini, pemerintah tengah mengupayakan agar Muaro Jambi diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO (World Heritage Site). Program "Revitalisasi Muaro Jambi" yang dicanangkan baru-baru ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi kawasan sebagai pusat edukasi, spiritualitas, sekaligus destinasi wisata sejarah yang berkelanjutan tanpa merusak ekosistem hutan sekitarnya.
#
Makna Budaya dan Religi di Masa Kini
Bagi masyarakat Jambi dan Indonesia secara umum, Muaro Jambi adalah simbol identitas peradaban sungai yang agung. Secara religius, setiap tahunnya ribuan umat Buddha dari berbagai negara datang ke sini untuk merayakan Hari Raya Waisak. Suasana spiritual di bawah pohon-pohon sialang yang menjulang tinggi memberikan pengalaman meditatif yang tidak ditemukan di situs lain.
Keunikan lain adalah keterlibatan masyarakat lokal dalam menjaga situs. Penduduk desa di sekitar candi, seperti Desa Muaro Jambi, memiliki ikatan emosional dengan "menapo-menapo" tersebut. Mereka sadar bahwa di bawah tanah yang mereka pijak, terkubur sejarah besar yang mampu menarik perhatian dunia.
#
Kesimpulan dan Fakta Unik
Muaro Jambi adalah ensiklopedia terbuka mengenai kejayaan maritim dan intelektual Nusantara. Fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa sistem kanal di Muaro Jambi merupakan salah satu bentuk rekayasa air tertua di Indonesia yang masih bisa dilacak jejaknya hingga sekarang. Luas areanya yang mencapai delapan kali lipat dari Candi Borobudur menjadikan Muaro Jambi sebagai laboratorium arkeologi yang tak habis untuk digali. Dengan pelestarian yang tepat, Kawasan Cagar Budaya Nasional Muaro Jambi akan terus berdiri sebagai mercusuar ilmu pengetahuan, mengingatkan generasi mendatang bahwa Indonesia pernah menjadi pusat gravitasi peradaban Asia.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Muaro Jambi
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Muaro Jambi
Pelajari lebih lanjut tentang Muaro Jambi dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Muaro Jambi