Situs Sejarah

Benteng Anna (Fort Anne)

di Mukomuko, Bengkulu

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul dan Periode Pembangunan

Pembangunan Benteng Anna dimulai pada tahun 1798 oleh kongsi dagang Inggris, EIC. Nama "Anna" sendiri diambil sebagai bentuk penghormatan kepada Anne, Putri Kerajaan Inggris (Princess Anne) pada masa itu. Pendirian benteng ini tidak lepas dari kebijakan ekspansi Inggris yang ingin mengamankan monopoli perdagangan lada di wilayah utara Bengkulu, setelah sebelumnya mereka memusatkan kekuatan di Fort Marlborough, Kota Bengkulu.

Pada akhir abad ke-18, Mukomuko merupakan kawasan strategis karena hasil buminya yang melimpah, terutama lada hitam yang merupakan komoditas emas pada masa itu. Inggris menyadari bahwa tanpa pangkalan militer yang kuat, jalur perdagangan mereka akan rentan terhadap gangguan dari pesaing Eropa lainnya, terutama Belanda (VOC), serta potensi perlawanan dari penguasa lokal. Oleh karena itu, Fort Anne didirikan sebagai pos pertahanan sekaligus pusat administratif untuk mengontrol aliran komoditas dari pedalaman menuju pelabuhan.

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, Benteng Anna mengadopsi gaya benteng pertahanan Eropa klasik yang disesuaikan dengan kondisi tropis Sumatera. Struktur aslinya dirancang dengan bentuk segi empat yang dilengkapi dengan bastion atau selekoh di setiap sudutnya untuk menempatkan meriam-meriam berat. Lokasinya yang berada di tepi Sungai Selagan dan sangat dekat dengan garis pantai Samudra Hindia memberikan keuntungan strategis: benteng ini dapat memantau pergerakan kapal yang masuk ke muara sungai sekaligus mengawasi aktivitas di laut lepas.

Material utama yang digunakan dalam pembangunan benteng ini adalah batu bata merah yang direkatkan dengan campuran kapur, pasir, dan putih telur—teknik konstruksi khas era kolonial yang terbukti sangat kokoh. Dinding-dindingnya dibuat cukup tebal untuk menahan gempuran meriam. Di dalam kompleks benteng, dulunya terdapat barak prajurit, gudang persenjataan, serta gudang penyimpanan lada sebelum dikapalkan ke Inggris atau India. Keunikan lain dari Fort Anne adalah keberadaan sistem drainase dan sumur di dalam benteng yang memastikan ketersediaan air bersih bagi para serdadu Inggris selama masa pengepungan.

Signifikansi Historis dan Peristiwa Penting

Benteng Anna bukan sekadar bangunan pertahanan; ia adalah pusat gravitasi politik di Mukomuko. Selama masa pendudukan Inggris (1685–1824) di Bengkulu, benteng ini berfungsi sebagai kantor residen Inggris yang membawahi wilayah utara. Salah satu peristiwa penting yang tercatat adalah interaksi antara pejabat EIC dengan Kesultanan Muko-Muko. Inggris harus melakukan diplomasi yang rumit dengan penguasa lokal untuk memastikan kelancaran pasokan lada.

Pada tahun 1824, melalui Traktat London (Anglo-Dutch Treaty), Inggris secara resmi menyerahkan seluruh wilayah kekuasaannya di Sumatera, termasuk Benteng Anna, kepada Belanda sebagai pertukaran atas penguasaan Malaka dan Singapura. Sejak saat itu, kendali atas Fort Anne berpindah ke tangan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Namun, di bawah administrasi Belanda, fungsi benteng ini perlahan bergeser dari pos tempur menjadi pusat administrasi sipil sebelum akhirnya ditinggalkan karena perubahan pola perdagangan dan peperangan.

Tokoh Terkait dan Warisan Kolonial

Nama-nama besar dalam sejarah kolonial Inggris di Bengkulu, seperti Joseph Collett dan Thomas Stamford Raffles, memiliki keterkaitan administratif dengan pos-pos di utara termasuk Fort Anne. Meskipun Raffles lebih dikenal dengan Fort Marlborough, kebijakan-kebayakan yang ia tetapkan mengenai penghapusan tanam paksa lada berdampak langsung pada aktivitas ekonomi di sekitar Benteng Anna.

Selain itu, keberadaan benteng ini juga berkaitan dengan sejarah lokal masyarakat Mukomuko. Sering terjadi ketegangan antara kebijakan monoli Inggris dengan adat istiadat setempat. Hal ini menciptakan dinamika unik di mana benteng menjadi simbol penindasan sekaligus simbol modernitas (dalam hal teknologi bangunan dan sistem administrasi) bagi penduduk lokal pada masa itu.

Kondisi Pelestarian dan Restorasi

Saat ini, kondisi Benteng Anna sangat berbeda dengan kejayaannya di abad ke-18. Faktor alam menjadi tantangan terbesar; abrasi pantai dan luapan Sungai Selagan telah mengikis sebagian besar struktur utama benteng. Sebagian besar bangunan telah runtuh atau tertimbun tanah, menyisakan beberapa bagian dinding, fondasi, dan puing-puing batu bata merah yang masih terlihat kokoh di permukaan.

Pemerintah Kabupaten Mukomuko dan Balai Pelestarian Kebudayaan telah melakukan berbagai upaya untuk mengamankan situs ini. Meskipun belum dilakukan restorasi total secara fisik bangunan, area Benteng Anna kini telah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya. Upaya pembersihan lahan dan pemagaran dilakukan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut akibat aktivitas manusia. Di lokasi ini, pengunjung masih dapat melihat beberapa meriam tua peninggalan Inggris yang menjadi bukti otentik kekuatan militer masa lalu.

Makna Budaya dan Nilai Edukasi

Bagi masyarakat Mukomuko, Benteng Anna adalah identitas sejarah yang tak terpisahkan. Situs ini sering menjadi tujuan wisata sejarah dan edukasi bagi pelajar untuk memahami masa lalu daerah mereka. Keberadaan benteng ini menegaskan bahwa Mukomuko pernah menjadi titik penting dalam rute perdagangan maritim internasional.

Secara kultural, benteng ini juga menyimpan narasi tentang ketangguhan lokal. Meskipun Inggris membangun benteng yang megah, sejarah mencatat bahwa pengaruh budaya lokal tetap kuat, dan benteng tersebut tidak pernah benar-benar mampu menundukkan kedaulatan adat sepenuhnya. Cerita-cerita rakyat mengenai masa pendudukan Inggris masih sering dituturkan oleh tetua adat di Mukomuko, memberikan dimensi lisan pada bukti fisik yang ada.

Kesimpulan

Benteng Anna (Fort Anne) adalah permata sejarah yang tersembunyi di pesisir utara Bengkulu. Sebagai monumen dari era kompetisi imperialisme Eropa di Asia Tenggara, ia menawarkan perspektif mendalam mengenai bagaimana perdagangan lada membentuk arsitektur, politik, dan sosial masyarakat di Sumatera. Walaupun kini sebagian besar strukturnya telah menyatu dengan alam, sisa-sisa dinding merahnya tetap berdiri sebagai pengingat akan masa ketika Mukomuko adalah pemain kunci dalam panggung perdagangan dunia. Pelestarian Benteng Anna bukan hanya tentang menjaga tumpukan batu bata, melainkan menjaga memori kolektif bangsa tentang perjalanan panjang menuju kedaulatan.

📋 Informasi Kunjungan

address
Kelurahan Koto Jaya, Kecamatan Kota Mukomuko, Kabupaten Mukomuko
entrance fee
Gratis
opening hours
Setiap hari, 24 jam

Tempat Menarik Lainnya di Mukomuko

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Mukomuko

Pelajari lebih lanjut tentang Mukomuko dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Mukomuko