Situs Sejarah

Museum Penghulu Muhammad Soleh

di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Sejarah dan Kejayaan Peradaban Musi: Museum Penghulu Muhammad Soleh

Museum Penghulu Muhammad Soleh merupakan salah satu markah tanah sejarah yang paling signifikan di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan. Berdiri megah di tepian Sungai Musi, tepatnya di Kelurahan Balai Agung, Kecamatan Sekayu, bangunan ini bukan sekadar struktur fisik, melainkan simbol perlawanan, kepemimpinan religius, dan estetika arsitektur Melayu-Palembang yang masih terjaga hingga saat ini.

#

Asal-Usul dan Sosok Penghulu Muhammad Soleh

Nama museum ini diambil dari sosok sentral dalam sejarah masyarakat Sekayu, yaitu Penghulu Muhammad Soleh bin Haji Muhammad Ali. Beliau merupakan seorang tokoh agama sekaligus pejabat pemerintah (Penghulu) pada masa kolonial Belanda dan awal kemerdekaan. Jabatan "Penghulu" pada masa itu memiliki kedudukan yang sangat terhormat, karena bertugas mengurusi masalah keagamaan, hukum keluarga Islam, hingga menjadi penasihat sosial bagi masyarakat lokal.

Lahir di lingkungan keluarga yang taat, Muhammad Soleh dikenal sebagai ulama yang progresif. Ia tidak hanya fokus pada syiar agama, tetapi juga aktif dalam pergerakan nasional. Rumah yang kini menjadi museum ini dibangun sekitar tahun 1920-an hingga 1930-an, berfungsi sebagai kediaman pribadi sekaligus pusat pertemuan para tokoh pejuang kemerdekaan di wilayah Musi Banyuasin.

#

Arsitektur: Perpaduan Estetika dan Fungsionalitas

Secara arsitektural, Museum Penghulu Muhammad Soleh mengusung gaya Rumah Limas yang dimodifikasi dengan pengaruh kolonial dan Melayu pesisir. Struktur bangunan didominasi oleh kayu unglen dan tembesu, jenis kayu lokal yang dikenal memiliki ketahanan luar biasa terhadap cuaca dan serangan rayap selama ratusan tahun.

Karakteristik unik dari bangunan ini adalah konsep rumah panggung yang tinggi. Hal ini merupakan adaptasi cerdas terhadap kondisi geografis Sekayu yang berada di daerah aliran sungai (DAS) Musi yang sering mengalami pasang surut. Bagian bawah rumah biasanya dibiarkan kosong atau digunakan untuk menyimpan perahu dan alat pertanian, sementara bagian atas menjadi ruang utama kehidupan.

Atapnya yang berbentuk limas melambangkan hierarki sosial dan spiritual. Di bagian interior, pengunjung dapat melihat ukiran khas ornamen bunga melati dan motif geometris pada kekijing (lantai bertingkat). Kekijing ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan penanda status sosial tamu yang berkunjung; semakin tinggi tingkat lantai, semakin tinggi kedudukan tamu tersebut dalam strata sosial atau keluarga.

#

Peran Strategis dalam Masa Perjuangan

Museum ini memiliki nilai historis yang mendalam karena pernah menjadi saksi bisu koordinasi perjuangan rakyat Musi Banyuasin melawan penjajahan. Pada masa agresi militer, rumah Penghulu Muhammad Soleh sering dijadikan tempat persembunyian para pejuang dan lokasi rapat rahasia untuk menyusun strategi gerilya di sepanjang perairan Sungai Musi.

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah peran rumah ini sebagai pusat logistik dan informasi bagi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di wilayah Sumatera Selatan bagian barat. Karena posisi Muhammad Soleh sebagai tokoh agama yang dihormati, pihak Belanda pada awalnya tidak menaruh kecurigaan besar terhadap aktivitas di rumah ini, sehingga menjadikannya tempat perlindungan yang relatif aman bagi para aktivis kemerdekaan.

#

Koleksi dan Artefak Bersejarah

Sebagai sebuah museum, bangunan ini menyimpan berbagai peninggalan yang merepresentasikan kehidupan masyarakat Musi Banyuasin di masa lalu. Koleksi utama meliputi:

1. Naskah Kuno: Salinan Al-Qurโ€™an tulis tangan dan kitab-kitab kuning milik Penghulu Muhammad Soleh yang digunakan untuk mengajar masyarakat.

2. Peralatan Rumah Tangga Tradisional: Berbagai jenis piring porselen kuno, guci, dan peralatan kuningan yang menunjukkan adanya jalur perdagangan internasional melalui Sungai Musi.

3. Senjata Tradisional: Keris, tombak, dan parang yang digunakan oleh masyarakat lokal baik sebagai simbol status maupun alat pertahanan diri.

4. Busana Adat: Pakaian pengantin khas Muba serta kain songket motif lama yang ditenun dengan benang emas asli.

5. Dokumen Foto: Foto-foto hitam putih yang menggambarkan suasana kota Sekayu tempo dulu dan dokumentasi keluarga Penghulu Muhammad Soleh saat menjalankan tugas pemerintahan.

#

Signifikansi Budaya dan Religi

Museum ini melambangkan integrasi antara nilai-nilai Islam dan kearifan lokal (adat). Bagi masyarakat Musi Banyuasin, sosok Penghulu Muhammad Soleh adalah representasi dari idealisme "Ulama-Umara" (pemimpin agama sekaligus pemimpin masyarakat). Keberadaan museum ini mempertegas identitas Sekayu sebagai kota yang religius namun terbuka terhadap kemajuan zaman.

Setiap sudut bangunan mencerminkan filosofi hidup masyarakat Musi yang mengutamakan musyawarah dan keterbukaan. Teras depan yang luas (jogan) melambangkan keramahan tuan rumah dalam menerima tamu tanpa memandang kasta.

#

Upaya Pelestarian dan Restorasi

Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin secara resmi menetapkan bangunan ini sebagai situs cagar budaya untuk melindunginya dari kerusakan. Proses restorasi telah dilakukan beberapa kali dengan sangat hati-hati untuk menjaga keaslian material bangunan. Kayu-kayu yang lapuk diganti dengan jenis kayu yang sama, dan pengecatan ulang menggunakan warna-warna tradisional seperti cokelat tua dan emas.

Transformasi rumah pribadi menjadi museum publik merupakan langkah strategis untuk mengedukasi generasi muda Muba. Saat ini, Museum Penghulu Muhammad Soleh menjadi destinasi wisata sejarah utama di Sekayu. Wisatawan yang berkunjung tidak hanya mendapatkan informasi sejarah, tetapi juga dapat merasakan atmosfer kehidupan bangsawan Melayu di masa lalu.

#

Kesimpulan dan Harapan Masa Depan

Museum Penghulu Muhammad Soleh adalah "penjaga gerbang" memori kolektif rakyat Musi Banyuasin. Keberadaannya mengingatkan kita bahwa kemajuan yang dirasakan saat ini berakar dari perjuangan dan pemikiran tokoh-tokoh besar di masa lalu. Dengan menjaga kelestarian museum ini, masyarakat Muba tidak hanya merawat sebuah bangunan kayu, tetapi juga merawat martabat dan harga diri bangsa.

Ke depan, diharapkan museum ini dapat mengintegrasikan teknologi digital, seperti pemindaian QR code untuk setiap artefak, guna menarik minat generasi milenial dan Gen Z. Museum ini bukan sekadar artefak bisu, melainkan narasi hidup yang terus bercerita tentang kejayaan di tepian Sungai Musi.

๐Ÿ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Merdeka, Lingkungan I, Serasan Jaya, Sekayu
entrance fee
Gratis / Sukarela
opening hours
Senin - Jumat, 08:00 - 16:00

Tempat Menarik Lainnya di Musi Banyuasin

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Musi Banyuasin

Pelajari lebih lanjut tentang Musi Banyuasin dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Musi Banyuasin