Situs Sejarah

Situs Candi Lesung Batu

di Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Peradaban Klasik di Tepuk Aliran Rawas: Sejarah Lengkap Situs Candi Lesung Batu

Situs Candi Lesung Batu merupakan salah satu khazanah arkeologi paling penting di wilayah Sumatera Bagian Selatan, tepatnya di Desa Lesung Batu, Kecamatan Rawas Ulu, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Keberadaan situs ini menjadi bukti otentik bahwa pengaruh peradaban Hindu-Buddha tidak hanya berpusat di pesisir timur Sumatera atau di sepanjang Sungai Musi bagian hilir, tetapi juga merambah jauh ke wilayah pedalaman di kaki Pegunungan Bukit Barisan.

#

Latar Belakang Sejarah dan Asal-Usul

Secara kronologis, para arkeolog memperkirakan bahwa Candi Lesung Batu dibangun pada masa transisi antara abad ke-10 hingga ke-14 Masehi. Periode ini bertepatan dengan masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya hingga masa awal kemunduran pengaruhnya yang kemudian digantikan oleh kekuatan lokal atau pengaruh dari Jawa.

Nama "Lesung Batu" sendiri diambil dari kondisi fisik salah satu temuan di situs tersebut, yakni sebuah artefak batu yang menyerupai lesung (alat penumbuk padi tradisional). Masyarakat setempat secara turun-temurun telah mengenal lokasi ini sebagai tempat keramat, jauh sebelum penelitian arkeologi modern dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslitarkenas).

#

Karakteristik Arsitektur dan Detail Konstruksi

Berbeda dengan candi-candi di Pulau Jawa yang mayoritas menggunakan batu andesit, Candi Lesung Batu memiliki karakteristik arsitektur khas Sumatera, yaitu penggunaan batu bata merah sebagai material utama. Struktur bata ini memiliki densitas yang sangat padat dengan teknik pengerjaan yang halus.

Situs ini merupakan kompleks candi tunggal yang berdiri di atas gundukan tanah (tumulus). Struktur bangunan yang tersisa saat ini berupa bagian kaki candi yang berdenah bujur sangkar dengan ukuran sekitar 8 x 8 meter. Salah satu keunikan teknis yang ditemukan adalah adanya penggunaan spesi atau perekat antar bata yang sangat tipis, yang menunjukkan teknologi konstruksi tingkat tinggi pada masanya.

Di bagian tengah struktur candi, ditemukan sisa-sisa sumuran candi. Dalam tradisi pembangunan candi Hindu-Buddha, sumuran ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan "peripih" atau benda-benda ritual yang dianggap sebagai "jiwa" dari bangunan suci tersebut. Selain itu, ditemukan fragmen-fragmen keramik asing dan manik-manik yang mengindikasikan bahwa situs ini berada di jalur perdagangan yang aktif.

#

Signifikansi Historis dan Hubungan Regional

Candi Lesung Batu memiliki signifikansi yang luar biasa dalam memetakan penyebaran agama Hindu-Buddha di Sumatera Selatan. Lokasinya yang berada di tepian Sungai Rawas—anak sungai Musi yang besar—menegaskan pola pemukiman kuno yang mengandalkan jalur sungai sebagai urat nadi transportasi dan komunikasi.

Para ahli berpendapat bahwa Candi Lesung Batu berfungsi sebagai tempat peribadatan sekaligus titik singgah bagi para musafir atau pendeta yang melakukan perjalanan dari pusat kerajaan di Palembang menuju wilayah pedalaman atau sebaliknya. Temuan berupa Yoni di situs ini mengonfirmasi bahwa Candi Lesung Batu memiliki latar belakang keagamaan Hindu, khususnya pemujaan terhadap Dewa Siwa. Keberadaan Yoni ini juga menjadi indikator bahwa situs ini dibangun dengan orientasi sakral yang sangat kuat, mengikuti kaidah kosmologi Hindu.

#

Tokoh dan Periode Terkait

Meskipun tidak ada prasasti spesifik yang menyebutkan nama raja yang membangun candi ini, para sejarawan menghubungkan keberadaan situs ini dengan periode kekuasaan Kedatuan Sriwijaya pada masa-masa akhir (Abad ke-11-12) atau masa transisi menuju periode Kerajaan Malayu di Jambi. Hal ini terlihat dari corak bata dan bentuk Yoni yang memiliki kemiripan tipologis dengan temuan di kompleks Candi Muaro Jambi dan Candi Bumi Ayu di Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).

Kaitan antara Lesung Batu dengan Candi Bumi Ayu menunjukkan adanya jaringan keagamaan dan politik yang terintegrasi di sepanjang daerah aliran sungai di Sumatera Selatan. Tokoh-tokoh lokal di wilayah Rawas pada masa itu kemungkinan besar merupakan penguasa bawahan (vassal) yang memiliki otonomi cukup besar untuk membangun tempat peribadatan semegah ini.

#

Fungsi Budaya dan Religi

Bagi masyarakat Musi Rawas Utara, Situs Candi Lesung Batu bukan sekadar tumpukan bata kuno. Secara kultural, situs ini dianggap sebagai titik nol peradaban di wilayah Rawas. Nilai religius yang terkandung di dalamnya mencerminkan adanya harmonisasi antara kepercayaan lokal (animisme/dinamisme) dengan ajaran Hindu-Buddha yang datang kemudian.

Yoni yang ditemukan di situs ini melambangkan kesuburan dan kekuatan feminin dalam kosmologi Hindu. Hal ini relevan dengan kondisi geografis Rawas yang subur, sehingga keberadaan candi ini juga bisa diartikan sebagai bentuk syukur dan permohonan masyarakat agraris masa lalu kepada sang pencipta agar diberikan hasil bumi yang melimpah.

#

Status Preservasi dan Upaya Restorasi

Kondisi Candi Lesung Batu saat ini sebagian besar masih tertimbun di dalam tanah dan tertutup oleh vegetasi perkebunan karet milik warga. Meskipun demikian, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VI telah melakukan beberapa kali tahap ekskavasi penyelamatan.

Tantangan utama dalam preservasi situs ini adalah kerusakan alami akibat akar pohon dan faktor cuaca, serta aktivitas manusia di sekitarnya. Saat ini, situs telah dipagari dan diberikan cungkup (atap pelindung) pada bagian-bagian struktur yang telah tersingkap untuk mencegah pelapukan bata. Pemerintah Kabupaten Musi Rawas Utara terus berupaya menjadikan situs ini sebagai destinasi wisata sejarah unggulan melalui perbaikan aksesibilitas dan promosi edukatif.

#

Fakta Unik dan Simpulan

Salah satu fakta unik dari Situs Candi Lesung Batu adalah posisinya yang sangat strategis secara geografis. Jika ditarik garis lurus, situs ini berada di jalur yang menghubungkan wilayah pantai timur Sumatera dengan daerah dataran tinggi di Rejang Lebong, Bengkulu. Hal ini membuktikan bahwa sejak seribu tahun lalu, wilayah Rawas merupakan pusat pertemuan berbagai budaya.

Secara keseluruhan, Candi Lesung Batu adalah potret bisu dari kejayaan masa lalu Sumatera Selatan. Ia berdiri sebagai simbol ketangguhan peradaban pedalaman yang mampu mengadopsi pengaruh global (Hindu-Buddha) tanpa kehilangan jati diri lokalnya. Pelestarian situs ini bukan hanya tanggung jawab arkeolog, melainkan seluruh elemen masyarakat untuk memastikan bahwa identitas sejarah Musi Rawas Utara tetap terjaga bagi generasi mendatang.

📋 Informasi Kunjungan

address
Desa Lesung Batu, Kecamatan Rawas Ulu, Kabupaten Musi Rawas Utara
entrance fee
Sukarela
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Musi Rawas Utara

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Musi Rawas Utara

Pelajari lebih lanjut tentang Musi Rawas Utara dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Musi Rawas Utara