Situs Sejarah

Benteng Van den Bosch (Benteng Pendem)

di Ngawi, Jawa Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menelusuri Jejak Kolonial di Benteng Van den Bosch (Benteng Pendem) Ngawi

Benteng Van den Bosch, yang lebih dikenal oleh masyarakat lokal sebagai Benteng Pendem, merupakan salah satu monumen arsitektur militer paling signifikan peninggalan masa kolonial Hindia Belanda di Jawa Timur. Terletak di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, benteng ini berdiri kokoh di sudut pertemuan strategis antara dua sungai besar, yakni Bengawan Solo dan Sungai Madiun. Keberadaannya bukan sekadar tumpukan batu bata, melainkan saksi bisu ambisi politik, taktik militer, dan perlawanan rakyat Indonesia pada abad ke-19.

#

Asal-Usul dan Latar Belakang Sejarah

Pembangunan Benteng Van den Bosch tidak lepas dari gejolak Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825–1830). Setelah berakhirnya perang tersebut, Belanda menyadari betapa sulitnya mengendalikan wilayah pedalaman Jawa yang luas. Untuk memperkuat cengkeraman kekuasaannya dan mengantisipasi pemberontakan susulan, Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch memerintahkan pembangunan serangkaian benteng pertahanan di lokasi-lokasi strategis.

Ngawi dipilih karena posisinya yang sangat vital secara geopolitik dan ekonomi. Pada abad ke-19, Ngawi merupakan pusat perdagangan dan pelabuhan sungai yang ramai. Penguasaan atas Ngawi berarti penguasaan atas jalur transportasi logistik yang menghubungkan wilayah pedalaman menuju pantai utara Jawa. Pembangunan benteng ini dimulai pada tahun 1839 dan selesai sepenuhnya pada tahun 1845. Nama "Van den Bosch" disematkan sebagai penghormatan kepada sang Gubernur Jenderal yang menginisiasi kebijakan Cultuurstelsel (Tanam Paksa).

#

Arsitektur dan Filosofi "Benteng Pendem"

Secara arsitektural, Benteng Van den Bosch mengadopsi gaya neoklasik Eropa yang disesuaikan dengan kondisi tropis. Namun, karakteristik paling unik yang membuatnya dijuluki "Benteng Pendem" (Benteng Terpendam) adalah desain elevasinya. Benteng ini sengaja dibangun lebih rendah dari permukaan tanah sekitarnya atau dikelilingi oleh tanggul tanah yang tinggi.

Strategi desain ini bertujuan agar bangunan benteng tidak terlihat dari kejauhan, sehingga musuh sulit membidiknya dengan meriam dari luar. Selain itu, tanggul tanah tersebut berfungsi sebagai lapisan pertahanan tambahan untuk meredam ledakan proyektil. Benteng ini memiliki denah berbentuk persegi panjang dengan ukuran sekitar 165 meter x 80 meter di atas lahan seluas 15 hektar.

Konstruksinya menggunakan batu bata merah tanpa semen modern, melainkan campuran kapur dan pasir yang terbukti sangat kokoh bertahan selama hampir dua abad. Di dalamnya terdapat ratusan ruangan, mulai dari barak prajurit, gudang mesiu, ruang logistik, hingga kantor administrasi. Jendela-jendela besar dengan lengkungan khas kolonial memberikan sirkulasi udara yang baik, sementara dinding tebalnya memberikan perlindungan maksimal.

#

Signifikansi Strategis dan Peristiwa Sejarah

Benteng ini berfungsi sebagai markas militer utama bagi pasukan infanteri dan kavaleri Belanda di wilayah Jawa bagian timur. Kapasitasnya mampu menampung sekitar 250 tentara Belanda dan 60 unit kavaleri. Kehadiran benteng ini secara efektif memutus jalur komunikasi para gerilyawan pengikut Pangeran Diponegoro yang masih tersisa di wilayah Madiun dan sekitarnya.

Salah satu fakta sejarah yang paling menonjol adalah hubungan benteng ini dengan sosok K.H. Muhammad Muhammad Thohir, atau yang lebih dikenal sebagai Kyai Haji Muhammad Mursyid. Beliau adalah salah satu pengikut setia Pangeran Diponegoro yang gigih melakukan perlawanan terhadap Belanda di wilayah Ngawi. Menurut catatan sejarah dan kepercayaan lokal, Kyai Mursyid pernah ditangkap dan ditahan di dalam benteng ini. Makam beliau bahkan berada di dalam kompleks benteng, yang hingga kini menjadi situs ziarah bagi masyarakat setempat, memberikan dimensi religius pada situs militer ini.

#

Masa Pendudukan Jepang hingga Kemerdekaan

Seiring berjalannya waktu, fungsi benteng terus berubah. Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), benteng ini diambil alih oleh tentara Jepang dan digunakan sebagai kamp pertahanan serta gudang senjata. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, benteng ini sempat digunakan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai gudang amunisi dan markas Batalyon Armed 12. Karena fungsinya yang tertutup untuk umum selama puluhan tahun di bawah otoritas militer, kondisi benteng ini sempat terisolasi, yang secara tidak langsung justru menjaga keaslian strukturnya dari vandalisme masif.

#

Upaya Restorasi dan Status Konservasi

Selama beberapa dekade, Benteng Van den Bosch mengalami kerusakan akibat faktor alam. Akar-akar pohon beringin besar sempat tumbuh menembus dinding-dinding bata, menciptakan kesan eksotis sekaligus mengancam integritas struktur. Namun, kesadaran akan pentingnya nilai sejarah benteng ini mendorong pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk melakukan restorasi besar-besaran yang dimulai pada tahun 2020.

Restorasi ini dilakukan dengan prinsip kehati-hatian tinggi agar tidak menghilangkan nilai historisnya. Fokus utama perbaikan mencakup penguatan struktur bangunan, pembersihan vegetasi yang merusak, serta fungsionalisasi kembali drainase kuno untuk mencegah banjir di dalam kompleks benteng. Kini, wajah Benteng Pendem telah berubah menjadi lebih tertata tanpa kehilangan aura kemegahan masa lalunya.

#

Nilai Budaya dan Edukasi

Saat ini, Benteng Van den Bosch telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Nasional. Bagi masyarakat Ngawi, benteng ini bukan sekadar objek wisata, melainkan identitas daerah. Kehadiran ribuan burung walet yang bersarang di langit-langit bangunan tua ini menambah keunikan atmosfer di dalamnya.

Secara edukatif, situs ini menjadi laboratorium sejarah bagi para pelajar untuk memahami taktik militer kolonial, teknik konstruksi kuno, serta besarnya pengorbanan bangsa dalam meraih kedaulatan. Keberadaan makam Kyai Mursyid di dalam benteng juga menjadi simbol harmonisasi antara sejarah perjuangan darat dan nilai-nilai spiritual keagamaan.

Sebagai penutup, Benteng Van den Bosch atau Benteng Pendem adalah permata sejarah di Ngawi yang berhasil melintasi zaman. Dari fungsinya sebagai instrumen penindasan kolonial, kini ia berdiri sebagai monumen pengetahuan dan kebanggaan budaya. Kelestariannya adalah tanggung jawab kolektif untuk memastikan bahwa generasi mendatang tetap dapat menyentuh langsung jejak-jejak sejarah yang membentuk bangsa Indonesia.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Untung Suropati, Pelem, Kec. Ngawi, Kabupaten Ngawi
entrance fee
Rp 5.000 - Rp 10.000 per orang
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Ngawi

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Ngawi

Pelajari lebih lanjut tentang Ngawi dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Ngawi