Situs Sejarah

Rumah Seratus Tiang

di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Agung Peradaban Kayu: Sejarah dan Filosofi Rumah Seratus Tiang Ogan Komering Ilir

Terletak di tepian Sungai Komering yang tenang, tepatnya di Kelurahan Sugih Waras, Kecamatan Teluk Gelam, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, berdiri sebuah monumen arsitektur yang menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu. Rumah Seratus Tiang bukan sekadar bangunan tempat tinggal, melainkan sebuah manifestasi kemakmuran, status sosial, dan kearifan lokal masyarakat suku Komering pada masanya.

#

Asal-Usul dan Periode Pembangunan

Rumah Seratus Tiang didirikan pada tahun 1811, sebuah periode di mana pengaruh Kesultanan Palembang Darussalam masih terasa kuat di wilayah pedalaman Sumatera Selatan, meski mulai bersinggungan dengan kepentingan kolonial Belanda. Pembangunan rumah ini diprakarsai oleh seorang bangsawan lokal sekaligus saudagar kaya bernama Pangeran Rejed.

Nama "Rumah Seratus Tiang" diambil dari jumlah penyangga kayu yang menopang struktur bangunan utama. Meskipun secara teknis jumlah tiangnya tidak persis seratus (beberapa sumber menyebutkan berjumlah 104 tiang), angka "seratus" digunakan sebagai simbol kemegahan dan kekuatan. Pembangunannya memakan waktu bertahun-tahun karena pemilihan material yang sangat selektif dan proses pengerjaan yang melibatkan pengukir-pengukir terbaik dari wilayah tersebut.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Rumah ini mengadopsi gaya arsitektur Rumah Limas, namun dengan modifikasi khas daerah pesisir sungai Komering. Struktur utamanya merupakan rumah panggung yang dirancang untuk mengantisipasi luapan air Sungai Komering serta menghindari gangguan hewan buas.

Material utama yang digunakan adalah kayu unglen (Eusideroxylon zwageri) dan kayu tembesu, yang dikenal karena ketahanannya terhadap cuaca dan rayap selama ratusan tahun. Keunikan utama terletak pada sistem konstruksinya yang tidak menggunakan paku besi, melainkan sistem pasak kayu dan purus (tenon and mortise), yang memungkinkan bangunan tetap fleksibel namun kokoh saat terjadi getaran atau pergeseran tanah.

Bagian atapnya berbentuk limas dengan kemiringan yang curam untuk memudahkan air hujan turun dengan cepat. Di dalamnya, terdapat pembagian ruang yang sangat ketat berdasarkan hierarki sosial dan fungsi. Ruang depan (bengkilas) digunakan untuk menerima tamu dan musyawarah adat, sementara bagian tengah (tengah rumah) bersifat lebih privat untuk keluarga.

Satu aspek yang paling memukau adalah seni ukirnya. Motif flora, seperti bunga melati dan sulur pandan, mendominasi bagian dinding dan pilar. Ukiran ini tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi, tetapi juga mengandung makna filosofis tentang kesuburan, kerukunan, dan rasa syukur kepada sang pencipta. Warna dominan emas dan merah pada beberapa bagian ukiran menunjukkan pengaruh akulturasi budaya Tiongkok yang masuk melalui jalur perdagangan sungai.

#

Signifikansi Sejarah dan Tokoh Terkait

Pangeran Rejed, sang pemilik pertama, bukan hanya seorang tokoh ekonomi tetapi juga pemimpin adat yang disegani. Rumah ini pernah berfungsi sebagai pusat pemerintahan adat dan tempat berkumpulnya para pemuka masyarakat untuk menentukan hukum adat serta strategi menghadapi tekanan luar.

Pada masa kolonial, Rumah Seratus Tiang menjadi simbol perlawanan kultural. Di tengah upaya Belanda untuk menyeragamkan administrasi wilayah, keberadaan rumah ini menegaskan identitas dan otonomi masyarakat Komering. Keberadaan rumah ini juga menjadi bukti nyata bahwa pada abad ke-19, wilayah Ogan Komering Ilir telah memiliki sistem ekonomi yang mapan melalui perdagangan komoditas hutan dan sungai, yang memungkinkan pembangunan struktur semegah ini.

#

Fakta Unik dan Keajaiban Masa Lalu

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah keberadaan "Tiang Raja" atau tiang utama yang diletakkan di tengah bangunan. Secara tradisional, penanaman tiang pertama ini harus melalui prosesi adat yang rumit, yang melibatkan doa-doa keselamatan. Konon, di bawah tiang utama ini tersimpan koin emas atau benda berharga lainnya sebagai simbol harapan agar penghuninya selalu dilimpahi kesejahteraan.

Selain itu, tata letak Rumah Seratus Tiang sengaja menghadap ke arah sungai. Hal ini mencerminkan orientasi hidup masyarakat masa itu yang menjadikan sungai sebagai urat nadi transportasi, sumber mata pencaharian, dan basis interaksi sosial.

#

Pentingnya Budaya dan Religi

Meskipun struktur arsitekturnya berakar pada tradisi lokal, pengaruh Islam sangat kental terasa dalam fungsi dan ornamennya. Tidak ada motif makhluk hidup (manusia atau hewan) dalam ukiran rumah ini, sesuai dengan ajaran Islam yang melarang penggambaran makhluk bernyawa. Ruangan-ruangan di dalam rumah juga diatur untuk memisahkan antara tamu laki-laki dan perempuan dalam acara-acara tertentu, menjaga nilai-nilai kesopanan dan privasi.

Secara kultural, rumah ini adalah "sekolah" kehidupan. Di sinilah nilai-nilai adat diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui tradisi lisan, upacara adat perkawinan, dan penyelesaian sengketa masyarakat yang dilakukan di ruang pertemuan utama.

#

Status Preservasi dan Upaya Restorasi

Saat ini, Rumah Seratus Tiang telah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya oleh Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Namun, usia yang mencapai dua abad memberikan tantangan besar bagi kelestariannya. Beberapa bagian kayu mulai melapuk, dan ancaman dari lingkungan sekitar seperti kelembapan tinggi memerlukan perhatian serius.

Upaya restorasi telah dilakukan beberapa kali oleh Balai Pelestarian Kebudayaan. Tantangan utama dalam restorasi adalah menemukan material kayu dengan kualitas yang sama seperti aslinya, karena kayu unglen dan tembesu tua semakin langka dan mahal. Selain fisik bangunan, upaya pelestarian juga diarahkan pada dokumentasi sejarah lisan dari para keturunan Pangeran Rejed yang hingga kini masih menjaga rumah tersebut sebagai warisan keluarga sekaligus identitas daerah.

#

Penutup dan Refleksi

Rumah Seratus Tiang bukan sekadar tumpukan kayu kuno. Ia adalah narasi visual tentang kecerdasan arsitektur nenek moyang, kemakmuran ekonomi masa lalu, dan keteguhan dalam memegang nilai adat. Bagi masyarakat Ogan Komering Ilir, rumah ini adalah kebanggaan identitas. Bagi generasi muda, ia merupakan pengingat bahwa di tepian Sungai Komering, pernah berdiri sebuah peradaban yang mampu menyatukan keindahan seni dengan kekuatan struktur, menciptakan sebuah warisan yang mampu melintasi zaman. Menjaga Rumah Seratus Tiang berarti menjaga memori kolektif bangsa agar tidak lekang oleh arus modernisasi.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Desa Sugih Waras, Kecamatan Teluk Gelam, Kabupaten Ogan Komering Ilir
entrance fee
Sukarela
opening hours
Dengan janji temu / Jam kerja

Tempat Menarik Lainnya di Ogan Komering Ilir

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Ogan Komering Ilir

Pelajari lebih lanjut tentang Ogan Komering Ilir dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Ogan Komering Ilir