Candi Bumi Ayu
di Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatera Selatan
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Menelusuri Jejak Peradaban Klasik di Sumatera Selatan: Situs Candi Bumi Ayu
Candi Bumi Ayu bukan sekadar tumpukan batu bata kuno yang membisu di tepian Sungai Lematang. Situs ini merupakan kompleks percandian Hindu terbesar di luar Pulau Jawa yang menjadi bukti vital mengenai penyebaran pengaruh kebudayaan India dan dinamika kekuasaan di Sumatera Selatan pada masa lampau. Terletak di Desa Bumi Ayu, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), situs ini menawarkan narasi sejarah yang kaya tentang transisi agama, arsitektur, dan perdagangan di Nusantara.
#
Asal-Usul Historis dan Periode Pembangunan
Secara kronologis, Candi Bumi Ayu diperkirakan dibangun dan berkembang antara abad ke-9 hingga abad ke-13 Masehi. Periode ini bertepatan dengan masa keemasan Kerajaan Sriwijaya hingga masa transisi menuju pengaruh kerajaan-kerajaan dari Jawa seperti Singasari dan Majapahit. Berbeda dengan banyak candi di Jawa yang menggunakan batu andesit, Candi Bumi Ayu dibangun menggunakan batu bata merah, sebuah karakteristik khas dari arsitektur candi di wilayah Sumatera dan situs-situs di Jawa Timur pada periode kemudian.
Penemuan situs ini bermula pada tahun 1936 oleh seorang arkeolog Belanda, E.P. Tombrink. Namun, penelitian intensif baru dilakukan pada dekade 1970-an oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Berdasarkan temuan fragmen prasasti dan gaya arca, para ahli menyimpulkan bahwa kompleks ini merupakan pusat peribadatan agama Hindu, khususnya aliran Siwa, yang melayani komunitas di sepanjang aliran Sungai Lematang.
#
Arsitektur dan Detail Konstruksi yang Unik
Kompleks Candi Bumi Ayu menempati lahan seluas sekitar 15 hektar. Hingga saat ini, telah ditemukan setidaknya 11 bangunan candi, meski tidak semuanya telah dipugar sepenuhnya. Struktur bangunan di sini memiliki ciri khas yang membedakannya dari candi-candi di Jawa Tengah.
Salah satu keunikan utamanya adalah penggunaan hiasan relief yang dicetak langsung pada bata (bata berelief). Motif yang ditemukan meliputi pola tanaman, binatang, dan figur manusia yang masih menunjukkan pengaruh seni rupa klasik. Candi 1, yang merupakan bangunan terbesar di kompleks ini, memiliki struktur kaki candi yang bertingkat dengan selasar yang mengelilingi tubuh candi.
Fondasi candi dibuat sangat kokoh untuk mengantisipasi kondisi tanah di pinggir sungai yang cenderung labil. Teknik penyusunan batanya menggunakan sistem gosok (tanpa perekat semen modern), di mana antar bata digosokkan hingga mengeluarkan cairan silika yang kemudian mengeras dan mengunci satu sama lain.
#
Signifikansi Sejarah dan Hubungan Regional
Candi Bumi Ayu memegang peranan krusial dalam memahami geopolitik kuno Sumatera. Keberadaannya membuktikan bahwa pengaruh Hindu-Buddha tidak hanya terpusat di pesisir atau pusat ibu kota Kerajaan Sriwijaya (Palembang), tetapi juga merasuk jauh ke pedalaman melalui jalur sungai. Sungai Lematang berfungsi sebagai "jalan tol" kuno yang menghubungkan wilayah hilir dengan wilayah pedalaman yang kaya akan hasil bumi seperti emas, damar, dan rempah-rempah.
Situs ini juga menjadi bukti adanya sinkretisme atau setidaknya koeksistensi antara budaya lokal Sumatera dengan tradisi Hindu-Jawa. Beberapa pakar berpendapat bahwa Candi Bumi Ayu mungkin merupakan sisa-situs dari sebuah kedatuan atau kerajaan kecil yang berada di bawah perlindungan atau pengaruh Sriwijaya, namun tetap memiliki otonomi dalam ekspresi seni dan religi.
#
Tokoh dan Periode Terkait
Meskipun tidak ditemukan prasasti yang menyebutkan nama raja tertentu secara spesifik sebagai pembangunnya, gaya arsitektur dan temuan arca menunjukkan keterkaitan dengan masa pemerintahan Dinasti Syailendra dan kemudian pengaruh dari periode Kediri-Singasari. Penemuan arca Siwa Mahadewa, Agastya, dan Ganesha di situs ini memiliki kemiripan stilistik dengan arca-arca dari Jawa Timur, menandakan adanya pertukaran seniman atau pengaruh politik dari Jawa ke Sumatera pada abad ke-11 dan ke-12.
Salah satu temuan paling fenomenal adalah Arca Siwa yang memiliki ukuran hampir menyamai ukuran manusia, yang saat ini disimpan di museum setempat. Keberadaan arca ini menunjukkan bahwa Bumi Ayu merupakan tempat suci yang sangat penting, kemungkinan dikelola oleh kasta Brahmana yang berkedudukan tinggi.
#
Kepentingan Budaya dan Religi
Sebagai situs Hindu di wilayah yang kini mayoritas beragama Islam, Candi Bumi Ayu adalah simbol toleransi dan kesinambungan sejarah. Bagi masyarakat lokal PALI, keberadaan candi ini merupakan identitas asal-usul mereka. Secara religius, kompleks ini dirancang sebagai mikrokosmos dari Gunung Meru, pusat alam semesta dalam kosmologi Hindu.
Relief-relief yang menghiasi dinding candi tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi, tetapi juga sebagai media instruksi moral dan spiritual bagi para peziarah masa lalu. Motif burung nuri, singa, dan teratai yang ditemukan menggambarkan harmoni antara manusia dengan alam, sebuah nilai yang tetap relevan hingga saat ini.
#
Pelestarian dan Upaya Restorasi
Pemerintah Indonesia melalui Balai Pelestarian Kebudayaan telah melakukan serangkaian upaya pemugaran sejak tahun 1990-an. Tantangan terbesar dalam pelestarian Candi Bumi Ayu adalah faktor alam. Karena material utamanya adalah bata merah, situs ini sangat rentan terhadap pelapukan akibat kelembapan tinggi dan pertumbuhan lumut.
Saat ini, kawasan Candi Bumi Ayu telah dikelola sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Provinsi. Sebuah museum lapangan telah didirikan di lokasi untuk menyimpan artefak-artefak berharga seperti fragmen arca, keramik peninggalan Dinasti Sung, dan perhiasan emas yang ditemukan di sekitar situs. Upaya zonasi juga telah dilakukan untuk melindungi area inti candi dari perambahan pemukiman dan aktivitas perkebunan.
#
Fakta Unik dan Penutup
Satu fakta unik dari Candi Bumi Ayu adalah ditemukannya sisa-sisa struktur bangunan yang menyerupai dermaga kuno di dekat aliran sungai. Hal ini memperkuat teori bahwa jemaat atau peziarah yang datang ke candi ini mayoritas menggunakan jalur air. Selain itu, ditemukan pula bata-bata yang memiliki "cap kaki" binatang dan tanda pengenal pembuatnya, yang memberikan gambaran langka tentang proses industri material bangunan pada zaman kuno.
Candi Bumi Ayu adalah permata sejarah yang tersembunyi di pedalaman Sumatera Selatan. Melalui setiap susunan bata merahnya, kita diajak untuk memahami bahwa peradaban Nusantara adalah hasil dari interaksi panjang antarbudaya yang saling memperkaya. Melindungi Candi Bumi Ayu bukan sekadar menjaga tumpukan bata, melainkan menjaga memori kolektif bangsa tentang kejayaan dan kearifan masa lalu di tanah PALI.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Penukal Abab Lematang Ilir
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Penukal Abab Lematang Ilir
Pelajari lebih lanjut tentang Penukal Abab Lematang Ilir dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Penukal Abab Lematang Ilir