Situs Sejarah

Makam K.H. Muhammad Tahir (Imam Lapeo)

di Polewali Mandar, Sulawesi Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menelusuri Jejak Dakwah dan Spiritualitas di Makam K.H. Muhammad Tahir (Imam Lapeo)

Makam K.H. Muhammad Tahir, atau yang lebih dikenal luas dengan julukan Imam Lapeo, merupakan salah satu situs sejarah dan religi paling berpengaruh di Provinsi Sulawesi Barat. Terletak di Desa Lapeo, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, kompleks pemakaman ini bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir seorang ulama, melainkan simbol perlawanan kultural, penyebaran Islam yang moderat, dan pusat spiritualitas bagi masyarakat Mandar.

#

Asal-Usul Historis dan Sosok K.H. Muhammad Tahir

K.H. Muhammad Tahir lahir sekitar tahun 1838 di Pambusuang. Beliau merupakan sosok ulama karismatik yang mendedikasikan hidupnya untuk menyebarkan agama Islam di tanah Mandar pada masa penjajahan Belanda. Nama "Imam Lapeo" melekat pada dirinya karena ia menjabat sebagai imam di Masjid Nurul Taubah, Lapeo, yang ia bangun sendiri.

Pembangunan makam ini berkaitan erat dengan wafatnya beliau pada tanggal 17 Juni 1952. Sejak saat itu, lokasi pemakamannya di samping Masjid Nurul Taubah menjadi titik fokus bagi para peziarah. Keberadaan makam ini tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang penyebaran Islam di pesisir Sulawesi Barat, di mana Imam Lapeo dikenal sebagai ulama yang memiliki banyak kekeraman (karamah) dan kecerdasan dalam berdakwah di tengah tekanan kolonial.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi Situs

Kompleks Makam Imam Lapeo menampilkan perpaduan arsitektur tradisional Mandar dan elemen Islam yang kental. Fokus utama dari situs ini adalah bangunan cungkup (bangunan peneduh makam) yang telah mengalami beberapa kali renovasi namun tetap mempertahankan kesakralannya.

Struktur makam ditandai dengan penggunaan nisan berbahan kayu cendana dan batu alam pada awalnya, yang kini telah dilapisi dengan keramik dan marmer sebagai bentuk penghormatan dari para pengikutnya. Salah satu ciri khas arsitektur di sekitar makam adalah keberadaan Masjid Nurul Taubah yang memiliki menara tinggi dan kubah yang mencolok. Menara masjid ini, yang dibangun atas inisiatif Imam Lapeo sendiri, dulunya berfungsi sebagai titik pantau untuk melihat pergerakan kapal Belanda di Selat Makassar sekaligus menara azan.

Di dalam area makam, terdapat ornamen kaligrafi Arab yang menghiasi dinding-dinding pembatas, menciptakan suasana khusyuk. Tata letak makam yang berada tepat di sisi jalan poros Majene-Polewali menjadikannya sangat mudah diakses, namun tetap memiliki batas-batas fisik yang tegas untuk menjaga ketenangan area inti pemakaman.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait

Makam Imam Lapeo menjadi saksi bisu transformasi sosial di Mandar. Selama hidupnya, K.H. Muhammad Tahir dikenal sebagai ulama yang berani menentang praktik-praktik takhayul dan kemusyrikan yang masih kuat di masyarakat saat itu, namun ia melakukannya dengan pendekatan budaya yang lembut (dakwah kultural).

Salah satu fakta unik yang sering diceritakan dalam sejarah lisan masyarakat setempat adalah kemampuan Imam Lapeo dalam melakukan "bilokasi" atau berada di dua tempat berbeda pada waktu yang sama. Hal ini memberikan nilai historis-mitologis yang kuat pada situs makamnya. Selain itu, makam ini menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme. Belanda sangat segan terhadap Imam Lapeo karena pengaruhnya yang luas di kalangan rakyat Mandar, sehingga makam ini kini dipandang sebagai monumen heroisme ulama dalam menjaga kedaulatan bangsa dan agama.

#

Tokoh dan Koneksi Periode Sejarah

Situs ini menghubungkan periode akhir kekuasaan kerajaan-kerajaan lokal di Mandar dengan masa awal kemerdekaan Indonesia. Imam Lapeo memiliki jaringan intelektual yang luas, termasuk hubungan dengan ulama-ulama besar di Makkah (tempat ia menuntut ilmu selama bertahun-tahun) dan ulama-ulama di Nusantara seperti Sayyid Alwi bin Thahir al-Haddad (Mufti Johor).

Koneksi sejarah ini menjadikan Makam Imam Lapeo sebagai bagian dari jaringan intelektual Islam transnasional. Di situs ini, pengunjung sering diingatkan pada periode "Pitu Ba'ba Binanga" (Tujuh Kerajaan di Pesisir Pantai) dan "Pitu Ulunna Salu" (Tujuh Kerajaan di Hulu Sungai), di mana ajaran Imam Lapeo menjadi benang merah yang menyatukan berbagai faksi masyarakat Mandar melalui pendekatan tarekat dan syariat.

#

Status Pelestarian dan Restoran

Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat telah menetapkan kompleks Makam dan Masjid Imam Lapeo sebagai situs cagar budaya yang dilindungi. Upaya pelestarian dilakukan secara kolaboratif antara keluarga keturunan Imam Lapeo (yayasan keluarga), masyarakat Lapeo, dan pemerintah daerah.

Restoran dan renovasi dilakukan secara berkala, terutama pada bagian atap cungkup dan area parkir untuk menampung ribuan peziarah yang datang setiap tahunnya, terutama pada hari-hari besar Islam atau haul (peringatan wafatnya) beliau. Meskipun ada modernisasi pada material bangunan, bentuk asli nisan dan nilai filosofis tata ruang makam tetap dipertahankan untuk menjaga otentisitas sejarahnya.

#

Kepentingan Budaya dan Religi

Secara kultural, Makam Imam Lapeo adalah jantung dari identitas religius orang Mandar. Ada tradisi unik yang disebut "Mappatamma" (khataman Al-Qur'an) yang sering dilakukan di sekitar area makam sebagai bentuk syukur. Masyarakat Mandar percaya bahwa berziarah ke makam ini dapat memberikan ketenangan batin dan keberkahan, mengingat status beliau sebagai Waliullah (kekasih Allah).

Keberadaan makam ini juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui wisata religi. Keunikan lain adalah tradisi "Lapeo-an", di mana nilai-nilai kejujuran dan keberanian yang diajarkan oleh Imam Lapeo diinternalisasi oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Situs ini bukan sekadar benda mati, melainkan ruang publik tempat nilai-nilai luhur Mandar diproduksi dan direproduksi melalui doa, zikir, dan pengenalan sejarah kepada generasi muda.

Dengan statusnya sebagai situs sejarah yang vital, Makam K.H. Muhammad Tahir (Imam Lapeo) tetap berdiri tegak sebagai mercusuar peradaban Islam di Sulawesi Barat, mengingatkan setiap pengunjung akan sosok pejuang yang memadukan kedalaman ilmu agama dengan kecintaan yang tulus pada tanah airnya.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Desa Lapeo, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar
entrance fee
Gratis / Donasi
opening hours
24 Jam

Tempat Menarik Lainnya di Polewali Mandar

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Polewali Mandar

Pelajari lebih lanjut tentang Polewali Mandar dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Polewali Mandar