Keraton Kadriyah
di Pontianak, Kalimantan Barat
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Asal-Usul dan Fondasi Sejarah
Berdirinya Keraton Kadriyah tidak dapat dipisahkan dari sosok Syarif Abdurrahman Alkadrie, putra dari ulama besar keturunan Arab, Habib Husin Alkadrie. Setelah wafatnya sang ayah di Mempawah, Syarif Abdurrahman melakukan pengembaraan menyusuri sungai hingga tiba di titik pertemuan tiga cabang sungai (Sungai Kapuas Kecil, Sungai Kapuas Besar, dan Sungai Landak) pada tanggal 23 Oktober 1771 (14 Rajab 1185 H).
Menurut legenda setempat, wilayah ini dulunya dihuni oleh makhluk halus yang dikenal sebagai hantu Kuntilanak. Syarif Abdurrahman melepaskan tembakan meriam untuk mengusir gangguan tersebut sekaligus menentukan lokasi pembangunan istana. Di titik jatuhnya peluru meriam itulah, Keraton Kadriyah mulai dibangun. Pembangunan ini menandai berdirinya Kesultanan Pontianak, di mana Syarif Abdurrahman dinobatkan sebagai sultan pertama dengan gelar Sultan Syarif Abdurrahman Ibnu Habib Husin Alkadrie pada tahun 1778.
Arsitektur: Harmoni Kayu Belian dan Simbolisme Islam
Secara visual, Keraton Kadriyah menampilkan kemewahan arsitektur kayu khas Kalimantan yang dipadukan dengan pengaruh Melayu, Eropa, dan Timur Tengah. Struktur utama bangunan didominasi oleh kayu belian (kayu besi), material asli Kalimantan yang dikenal karena kekuatannya yang semakin meningkat jika terkena air.
Warna kuning mendominasi seluruh fasad dan interior bangunan, melambangkan kebesaran dan kemuliaan dalam tradisi Melayu. Salah satu fitur arsitektur yang paling menonjol adalah keberadaan struktur menara pengawas di bagian atas bangunan yang digunakan untuk memantau lalu lintas kapal di Sungai Kapuas.
Pintu masuk utama keraton dihiasi dengan ukiran khas yang rumit, sementara bagian interiornya memiliki langit-langit tinggi untuk sirkulasi udara yang optimal di iklim tropis. Di dalam aula utama atau balairung, pengunjung dapat melihat singgasana (puade) yang masih terawat dengan baik. Uniknya, struktur bangunan ini dibuat panggung untuk beradaptasi dengan karakter tanah rawa dan pasang surut air sungai di sekitarnya.
Artefak dan Signifikansi Sejarah
Keraton Kadriyah menyimpan berbagai koleksi berharga yang menjadi saksi bisu dinamika politik dan budaya masa lalu. Salah satu artefak yang paling ikonik adalah Kaca Pecah Seribu, sebuah cermin besar pemberian dari Kaisar Prancis, Napoleon Bonaparte, sebagai bentuk diplomasi dengan Kesultanan Pontianak. Selain itu, terdapat meriam-meriam kuno buatan Portugis dan Prancis yang diletakkan di halaman depan istana.
Di dalam keraton, tersimpan pula Al-Qur’an tulisan tangan langsung oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Keberadaan kitab suci ini menegaskan peran keraton bukan hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga sebagai pusat penyebaran agama Islam di wilayah Borneo Barat. Koleksi lain meliputi silsilah keluarga kesultanan, pakaian adat kebesaran, perhiasan, serta foto-foto kuno yang menggambarkan transformasi Pontianak dari masa ke masa.
Tokoh Penting dan Peran Politik
Selain Sultan Syarif Abdurrahman, sosok penting lainnya yang terkait dengan keraton ini adalah Sultan Syarif Muhammad Alkadrie (Sultan ke-6), yang memerintah pada masa pendudukan Jepang. Ia merupakan salah satu korban tragedi Mandor, di mana kaum intelektual dan bangsawan Kalimantan Barat dieksekusi oleh tentara Jepang.
Tokoh paling fenomenal di era modern adalah Sultan Syarif Hamid II, yang dikenal sebagai perancang Lambang Negara Indonesia, Garuda Pancasila. Meskipun perannya sempat menjadi kontroversi sejarah, kontribusi estetik dan politiknya dalam transisi kemerdekaan Indonesia tetap menjadi bagian integral dari narasi Keraton Kadriyah. Di dalam keraton, replika awal rancangan Garuda Pancasila masih dapat disaksikan oleh pengunjung.
Nilai Budaya dan Keagamaan
Keraton Kadriyah tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari kompleks sejarah yang mencakup Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman (Masjid Jami' Pontianak) yang terletak hanya beberapa ratus meter dari istana. Hubungan antara keraton dan masjid ini mencerminkan konsep "Manunggalnya Raja dan Ulama," di mana kekuasaan politik dan spiritual berjalan beriringan.
Hingga saat ini, keraton masih menjadi pusat upacara adat Melayu Pontianak. Tradisi seperti Khatamul Qur'an, Saprahan (makan bersama secara tradisional), dan perayaan hari jadi Kota Pontianak selalu berpusat di area ini. Masyarakat setempat masih sangat menghormati garis keturunan sultan, dan keraton tetap dianggap sebagai simbol identitas budaya Melayu di Kalimantan Barat.
Pelestarian dan Status Saat Ini
Pemerintah Indonesia telah menetapkan Keraton Kadriyah sebagai Bangunan Cagar Budaya. Upaya konservasi terus dilakukan untuk menjaga keaslian kayu belian yang menopang struktur bangunan. Meskipun beberapa bagian telah mengalami renovasi, otoritas kesultanan dan pemerintah daerah tetap mempertahankan bentuk asli sesuai dengan catatan sejarah.
Setiap tahun, ribuan wisatawan domestik dan mancanegara mengunjungi keraton ini untuk mempelajari akar sejarah Pontianak. Lokasinya yang berada di tepi sungai memungkinkan akses menggunakan sampan atau kapal wisata, memberikan pengalaman sejarah yang autentik bagi pengunjung yang ingin merasakan suasana "Venesia dari Timur" sebagaimana Pontianak dikenal di masa lalu.
Melalui keberadaan Keraton Kadriyah, generasi muda dapat memahami bahwa Pontianak lahir dari keberagaman etnis dan keterbukaan terhadap dunia luar. Keraton ini tetap berdiri sebagai monumen ketangguhan, mencerminkan kejayaan masa lalu sekaligus menjadi kompas budaya bagi masa depan Kalimantan Barat.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Pontianak
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Pontianak
Pelajari lebih lanjut tentang Pontianak dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Pontianak