Situs Sejarah

Monumen Serangan Balas

di Prabumulih, Sumatera Selatan

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Monumen Serangan Balas: Saksi Bisu Heroisme Rakyat Prabumulih dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Monumen Serangan Balas bukan sekadar struktur beton yang berdiri di tengah hiruk-pikuk Kota Prabumulih, Sumatera Selatan. Situs sejarah ini merupakan manifestasi fisik dari semangat pantang menyerah rakyat Sumatera Bagian Selatan dalam menghadapi agresi militer penjajah pasca-Proklamasi Kemerdekaan 1945. Terletak strategis di jantung kota, monumen ini menjadi pengingat akan peristiwa berdarah yang mengubah peta perjuangan di wilayah tersebut.

#

Latar Belakang Sejarah dan Asal-usul Pendirian

Akar sejarah Monumen Serangan Balas tertanam kuat pada periode revolusi fisik antara tahun 1947 hingga 1949. Prabumulih, yang kala itu merupakan titik krusial karena kekayaan sumber daya minyak bumi dan posisinya sebagai jalur perlintasan kereta api utama, menjadi incaran strategis pasukan Belanda (NICA).

Pendirian monumen ini diprakarsai oleh para tokoh pejuang setempat dan Pemerintah Kota Prabumulih untuk mengabadikan peristiwa "Serangan Balas" yang dilakukan oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) bersama laskar-laskar rakyat. Peristiwa ini merupakan respon balasan terhadap provokasi dan pendudukan Belanda yang mencoba merebut kembali instalasi minyak dan memutus jalur logistik pejuang di Sumatera Selatan. Pembangunan monumen dilakukan untuk memastikan bahwa generasi mendatang tidak melupakan tetesan darah para syuhada yang gugur di tanah Prabumulih.

#

Detail Arsitektur dan Konstruksi

Secara visual, Monumen Serangan Balas mengusung gaya arsitektur peringatan khas era Orde Baru yang mengedepankan simbolisme heroisme. Struktur utamanya menjulang tinggi dengan puncak yang sering kali dihiasi simbol-simbol perjuangan. Konstruksi monumen didominasi oleh beton bertulang dengan lapisan luar yang kini telah beberapa kali mengalami pengecatan ulang untuk menjaga estetika.

Salah satu ciri khas arsitektur monumen ini adalah adanya relief yang dipahat pada bagian dinding dasar atau pedestal. Relief tersebut menggambarkan kronologi pertempuran, menunjukkan koordinasi antara tentara formal dengan rakyat sipil yang bersenjatakan bambu runcing serta senjata rampasan. Penempatan monumen di area terbuka dimaksudkan agar masyarakat dapat dengan mudah mengakses dan merenungkan makna di balik setiap guratan arsitekturnya. Di sekitar monumen, terdapat pelataran luas yang sering digunakan sebagai tempat upacara peringatan hari besar nasional.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait

Signifikansi utama dari Monumen Serangan Balas terletak pada peristiwa serangan serentak yang dilakukan oleh pejuang Indonesia terhadap kedudukan Belanda di pusat kota Prabumulih. Peristiwa ini terjadi dalam rangkaian Agresi Militer Belanda I dan II. Prabumulih saat itu merupakan basis pertahanan yang sulit ditembus.

Serangan Balas ini bukan sekadar serangan sporadis, melainkan operasi militer yang terencana. Para pejuang memanfaatkan topografi Prabumulih yang berhutan dan berawa untuk melakukan taktik gerilya. Mereka menyerang tangsi-tangsi Belanda pada malam hari dan menghilang ke dalam hutan saat fajar menyingsing. Keberhasilan serangan-serangan ini sempat membuat pasukan Belanda kocar-kacir dan terpaksa mendatangkan bantuan tambahan dari Palembang dan Muara Enim. Monumen ini menandai titik di mana perlawanan tersebut mencapai puncaknya, membuktikan bahwa meskipun kalah dalam persenjataan, taktik dan semangat juang rakyat mampu memberikan tekanan signifikan bagi penjajah.

#

Tokoh dan Periode Penting

Beberapa nama pejuang lokal dan komandan lapangan dari Sub Teritorial Palembang (STP) tercatat memiliki kaitan erat dengan pergerakan di wilayah ini. Tokoh-tokoh seperti Letnan Adnan Kapau Gani (A.K. Gani) secara makro memengaruhi pergerakan di Sumatera Selatan, namun di tingkat lokal Prabumulih, terdapat komandan-komandan kompi dan pemimpin laskar yang namanya terpatri dalam ingatan kolektif masyarakat meski tidak semuanya tertulis di prasasti monumen.

Periode 1947-1949 adalah masa keemasan sekaligus masa paling kelam yang diwakili oleh monumen ini. Selama periode tersebut, Prabumulih menjadi "Front Tengah" yang sangat menentukan. Jika Prabumulih jatuh sepenuhnya tanpa perlawanan, maka akses menuju wilayah pedalaman Sumatera Selatan akan terbuka lebar bagi Belanda. Serangan Balas yang diabadikan lewat monumen ini adalah alasan mengapa Belanda tidak pernah benar-benar merasa aman selama menduduki wilayah ini.

#

Status Preservasi dan Upaya Restorasi

Sebagai salah satu situs sejarah utama di Kota Prabumulih, Monumen Serangan Balas berada di bawah pengawasan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat. Statusnya sebagai cagar budaya daerah memastikan bahwa situs ini mendapatkan alokasi perawatan rutin. Namun, tantangan urbanisasi dan polusi udara di pusat kota menuntut upaya restorasi yang lebih intensif secara berkala.

Beberapa kali pemugaran telah dilakukan, terutama pada bagian taman di sekeliling monumen dan pengecatan ulang struktur utama. Pembenahan pencahayaan (lighting) juga ditambahkan agar monumen tetap terlihat megah pada malam hari, menjadikannya ikon kota yang hidup. Pemerintah daerah juga berupaya mengintegrasikan monumen ini ke dalam kurikulum pendidikan lokal, di mana sekolah-sekolah di Prabumulih sering mengadakan kunjungan lapangan (field trip) ke lokasi ini untuk mempelajari sejarah lokal secara langsung.

#

Kepentingan Budaya dan Edukasi

Bagi masyarakat Prabumulih, monumen ini memiliki nilai budaya sebagai simbol identitas "Wong Prabumulih" yang berani dan keras dalam mempertahankan prinsip. Secara religi, tempat ini juga sering menjadi titik kumpul bagi doa bersama untuk para pahlawan, mencerminkan akulturasi nilai nasionalisme dengan nilai-nilai religius masyarakat Sumatera Selatan yang kental.

Secara edukatif, Monumen Serangan Balas berfungsi sebagai laboratorium sejarah terbuka. Ia menceritakan fakta unik bahwa di tengah industri minyak yang modern (pada masanya), terdapat perlawanan rakyat semesta yang sangat tradisional namun efektif. Keberadaan monumen ini mencegah terjadinya amnesia sejarah di tengah arus modernisasi kota yang kian pesat sebagai kota transit dan kota industri.

#

Penutup Fakta Unik

Satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa lokasi Monumen Serangan Balas dulunya merupakan area yang menjadi saksi bisu pertukaran tembakan sengit antara penembak jitu (sniper) pejuang yang bersembunyi di bangunan-bangunan kayu sekitar pasar melawan tentara Belanda yang menggunakan kendaraan lapis baja. Monumen ini berdiri di atas tanah yang benar-benar pernah disirami darah para pejuang, menjadikannya sebuah "monumen hidup" yang memiliki ikatan batin kuat dengan tanah tempatnya berpijak. Dengan menjaga kelestarian Monumen Serangan Balas, masyarakat Prabumulih tidak hanya menjaga sebuah struktur batu, tetapi juga menjaga api semangat kemerdekaan agar tetap menyala di hati setiap generasinya.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Jenderal Sudirman, Prabumulih Timur, Kota Prabumulih
entrance fee
Gratis
opening hours
Setiap hari, 24 jam

Tempat Menarik Lainnya di Prabumulih

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Prabumulih

Pelajari lebih lanjut tentang Prabumulih dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Prabumulih