Gereja Merah (GPIB Immanuel)
di Probolinggo, Jawa Timur
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Jejak Abadi Gereja Merah (GPIB Immanuel): Permata Kolonial di Jantung Probolinggo
Gereja Merah, atau yang secara resmi dikenal sebagai Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel Probolinggo, bukan sekadar tempat peribadatan. Terletak di Jalan Suroyo No. 5, Kota Probolinggo, Jawa Timur, bangunan ini merupakan saksi bisu transformasi sosiopolitik dari era kolonial Hindia Belanda hingga masa kemerdekaan Indonesia. Dengan warna merah mencolok yang menjadi identitas visualnya, gereja ini berdiri sebagai salah satu monumen arsitektur logam paling langka di dunia.
#
Asal-Usul dan Sejarah Pendirian
Pembangunan Gereja Merah berakar pada kebutuhan spiritual warga Belanda dan komunitas Eropa yang menetap di Probolinggo pada abad ke-19. Kota Probolinggo saat itu merupakan pelabuhan penting bagi ekspor komoditas perkebunan, terutama gula. Gereja ini dibangun pada tahun 1862, sebuah periode di mana pemerintah kolonial sedang giat-giatnya membangun infrastruktur penunjang kehidupan warga Eropa di daerah pesisir utara Jawa.
Fakta sejarah yang paling memukau dari Gereja Merah adalah asal-usul materialnya. Bangunan ini tidak dibangun dengan batu bata atau semen lokal pada awalnya, melainkan merupakan bangunan sistem knock-down (bongkar pasang) yang dipesan langsung dari Belanda. Struktur logam dan seluruh komponen bangunan dibuat di Eropa, dikirim menggunakan kapal laut melalui pelabuhan Probolinggo, dan dirakit di lokasi tempat ia berdiri sekarang. Hal ini menjadikan Gereja Merah sebagai salah satu pionir bangunan prefabrikasi di wilayah Hindia Belanda.
#
Karakteristik Arsitektur dan Detail Konstruksi
Secara arsitektural, Gereja Merah mengusung gaya Gothic Revival yang disederhanakan. Ciri khas utamanya adalah penggunaan material baja dan besi tuang yang mendominasi seluruh kerangka bangunan. Dindingnya terbuat dari pelat besi tebal yang disambung dengan sistem keling (rivet), sebuah teknik penyambungan logam yang umum digunakan pada pembuatan kapal dan jembatan kereta api di abad ke-19.
Warna merah yang menjadi ikon bangunan ini sebenarnya memiliki fungsi teknis di masa lalu. Penggunaan cat merah oksida (menie) bertujuan untuk melindungi material besi dari korosi atau karat, mengingat lokasi Probolinggo yang sangat dekat dengan pantai dengan kadar garam udara yang tinggi. Seiring berjalannya waktu, warna merah ini dipertahankan sebagai identitas tak terpisahkan, sehingga masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan "Gereja Merah" daripada nama resinya.
Di bagian dalam, interior gereja tetap menjaga keasliannya. Jendela-jendela tinggi dengan busur lancip khas Gotik memungkinkan pencahayaan alami masuk ke dalam ruang utama. Salah satu peninggalan paling berharga di dalamnya adalah sebuah Alkitab kuno berukuran besar yang diterbitkan pada tahun 1800-an, yang masih tersimpan rapi sebagai bagian dari warisan liturgi jemaat.
#
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting
Gereja Merah memiliki signifikansi yang luar biasa dalam peta sejarah arsitektur dunia. Diperkirakan hanya ada dua bangunan gereja dengan sistem konstruksi logam serupa di dunia; satu berada di Probolinggo, Indonesia, dan satu lainnya berada di Belanda (namun ada sumber lain menyebutkan keberadaan serupa di Filipina atau Amerika Latin). Kelangkaan ini menempatkan Gereja Merah dalam posisi yang sangat prestisius bagi para peneliti sejarah bangunan besi.
Selama masa pendudukan Jepang (1942β1945), gereja ini sempat mengalami masa kelam. Fungsinya sebagai tempat ibadah dihentikan dan dialihfungsikan oleh tentara Jepang menjadi gudang logistik dan persenjataan. Meski demikian, struktur logamnya yang kokoh membuat bangunan ini selamat dari kerusakan parah akibat konflik fisik selama masa revolusi kemerdekaan. Pasca kemerdekaan, gereja ini diserahkan kepada otoritas gereja lokal dan secara resmi menjadi bagian dari sinode GPIB pada tahun 1948.
#
Tokoh dan Masa Kolonial yang Terhubung
Keberadaan gereja ini tidak lepas dari peran para pengusaha perkebunan Belanda di Probolinggo. Pada masa itu, Probolinggo dikenal sebagai pusat industri gula yang makmur. Para pejabat dari Kultuur Maatschappij (perusahaan perkebunan) merupakan jemaat utama yang mendanai perawatan gereja ini. Secara administratif, pada masa kolonial, gereja ini berada di bawah naungan Indische Kerk (Gereja Negara), yang berarti pendeta dan biaya operasionalnya disubsidi langsung oleh pemerintah Hindia Belanda.
#
Status Pelestarian dan Upaya Restorasi
Pemerintah Kota Probolinggo telah menetapkan Gereja Merah sebagai Bangunan Cagar Budaya. Status ini memberikan perlindungan hukum agar keaslian struktur dan fasad bangunan tidak diubah secara sembarangan. Upaya restorasi yang dilakukan selama beberapa dekade terakhir berfokus pada pengecatan ulang secara berkala untuk mencegah karat, serta perawatan lantai kayu dan bangku-bangku gereja yang masih asli.
Keunikan material besi pada bangunan ini menuntut perawatan khusus. Tidak seperti bangunan beton, Gereja Merah sangat sensitif terhadap kelembapan. Oleh karena itu, pengelola gereja bersama pemerintah daerah terus berupaya menjaga drainase di sekitar lokasi agar air tidak menggenang dan merusak pondasi logamnya.
#
Kepentingan Budaya dan Religius saat Ini
Hingga hari ini, Gereja Merah tetap berfungsi aktif sebagai tempat peribadatan rutin bagi jemaat GPIB Immanuel. Keberadaannya menjadi simbol toleransi yang kuat di Kota Probolinggo yang masyarakatnya sangat heterogen dan religius. Selain fungsi liturgis, gereja ini telah bertransformasi menjadi objek wisata sejarah (heritage tourism) unggulan. Wisatawan dari berbagai mancanegara, terutama dari Belanda, sering berkunjung untuk melakukan napak tilas sejarah keluarga mereka atau sekadar mengagumi keunikan arsitekturnya.
Kehadiran Gereja Merah di tengah perkembangan modernitas Kota Probolinggo memberikan pengingat akan sejarah panjang kota ini sebagai titik temu berbagai budaya. Sebagai bangunan yang "diimpor" dari Eropa dan tetap bertahan selama lebih dari 160 tahun di tanah Jawa, Gereja Merah adalah bukti nyata ketangguhan teknik konstruksi masa lalu sekaligus simbol keberlanjutan iman dan sejarah yang melintasi zaman.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Probolinggo
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Probolinggo
Pelajari lebih lanjut tentang Probolinggo dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Probolinggo