Pusat Kebudayaan

Huma Betang Damang Batu

di Pulang Pisau, Kalimantan Tengah

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Filosofi dan Arsitektur Sebagai Fondasi Budaya

Secara harfiah, "Huma Betang" berarti rumah panjang, namun penyematan nama "Damang Batu" merujuk pada sosok legendaris yang memimpin Pertemuan Tumbang Anoi tahun 1894, sebuah tonggak sejarah yang mengakhiri tradisi mengayau (perburuan kepala) dan memulai era perdamaian antar-sub-suku Dayak. Bangunan ini dirancang dengan struktur kayu ulin yang kokoh, memiliki tiang-tiang tinggi untuk menghindari ancaman binatang buas dan banjir, sekaligus melambangkan derajat martabat masyarakatnya.

Di dalam pusat kebudayaan ini, tata ruang diatur sedemikian rupa untuk mencerminkan hierarki sosial dan fungsi fungsional. Area Losang (ruang tamu luas) digunakan sebagai tempat bermusyawarah, sementara bagian belakang digunakan untuk aktivitas domestik yang bersifat komunal. Arsitektur ini sendiri merupakan materi edukasi visual bagi pengunjung tentang bagaimana leluhur Dayak mengintegrasikan ekologi hutan dengan hunian manusia.

Program Pelestarian Seni Pertunjukan

Huma Betang Damang Batu menjalankan program rutin pelatihan seni pertunjukan yang menyasar generasi muda Pulang Pisau. Salah satu fokus utamanya adalah pembinaan Tari Mandau dan Tari Kinyah. Berbeda dengan pertunjukan panggung biasa, di pusat kebudayaan ini, tarian diajarkan lengkap dengan filosofi keberanian dan perlindungan diri. Setiap gerakan memiliki makna spiritual yang mendalam, yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan alam semesta.

Selain tari, pusat kebudayaan ini menghidupkan kembali tradisi Karungut, yaitu kesenian vokal berupa pantun atau syair yang dilantunkan dengan iringan kecapi. Karungut di Huma Betang Damang Batu sering kali berisi pesan-pesan moral, sejarah silsilah keluarga, hingga sosialisasi program pemerintah daerah. Melalui bengkel seni (workshop) mingguan, anak-anak sekolah di Pulang Pisau diajak untuk tidak hanya menonton, tetapi juga mahir memainkan instrumen tradisional seperti Garantung (gong tembaga) dan Tote (seruling bambu).

Pusat Kerajinan dan Ekonomi Kreatif Berbasis Tradisi

Di bidang kriya, Huma Betang Damang Batu berfungsi sebagai inkubator bagi perajin lokal. Fokus utama pengembangan kerajinan di sini adalah Anyaman Rotan dan Getah Nyatu. Pengunjung dapat melihat langsung proses pengolahan batang rotan menjadi Lanjung (tas punggung) atau Tiwah (topi tradisional) dengan motif-motif khas seperti Batang Garing (pohon kehidupan).

Keunikan lain yang ditawarkan adalah edukasi pembuatan kerajinan dari Getah Nyatu. Pohon Nyatu yang merupakan tanaman endemik Kalimantan diolah menjadi replika kapal hias atau patung kecil dengan detail yang rumit. Program ini tidak hanya bertujuan melestarikan teknik kuno, tetapi juga memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat sekitar melalui galeri seni yang memasarkan produk-produk tersebut ke mancanegara.

Pendidikan Karakter dan Literasi Budaya

Sebagai pusat edukasi, Huma Betang Damang Batu menyelenggarakan program "Sekolah Budaya" non-formal. Program ini mencakup pengajaran bahasa Dayak Ngaju, pengenalan hukum adat, dan filosofi hidup rukun. Salah satu modul yang paling diminati adalah pengenalan Upacara Tiwah, meskipun pelaksanaannya secara penuh sangat jarang, namun pusat kebudayaan ini memberikan simulasi dan penjelasan mendalam mengenai prosesi pengantaran arwah menuju Lewu Tatau (surga) tersebut.

Edukasi ini penting guna mengikis stigma negatif terhadap tradisi kuno dan menggantinya dengan pemahaman tentang penghormatan terhadap leluhur. Pusat kebudayaan ini juga memiliki perpustakaan mini yang menyimpan catatan-catatan lisan (oral history) yang telah dibukukan, mencakup legenda-legenda lokal Pulang Pisau dan sejarah kepemimpinan para Damang di masa lalu.

Perhelatan Festival dan Ritual Adat

Huma Betang Damang Batu menjadi tuan rumah bagi berbagai kegiatan berskala besar, salah satunya adalah peringatan hari jadi Kabupaten Pulang Pisau yang biasanya diisi dengan Festival Budaya Handep Hapakat. Dalam festival ini, pusat kebudayaan menjadi panggung utama bagi lomba menyumpit (Mangyip), lomba mendayung perahu tradisional, hingga kompetisi memasak masakan khas seperti Juhu Singkah (umbut rotan).

Selain festival yang bersifat perayaan, tempat ini juga menjadi lokasi sakral bagi ritual doa bersama atau Mamapas Lewu, sebuah ritual pembersihan desa dari unsur-unsur negatif. Kehadiran ritual-ritual ini memastikan bahwa Huma Betang tetap memiliki "ruh" dan tidak hanya menjadi museum mati, melainkan ruang yang terus bernapas mengikuti denyut spiritual masyarakatnya.

Peran dalam Pembangunan Kebudayaan Daerah

Keberadaan Huma Betang Damang Batu di Pulang Pisau memiliki peran strategis sebagai motor penggerak pariwisata berbasis kebudayaan (cultural tourism). Pusat kebudayaan ini menjadi jembatan antara pemerintah daerah dengan lembaga adat. Dalam setiap pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan atau pembangunan fisik, Huma Betang sering kali menjadi tempat pertemuan untuk mencari mufakat, sesuai dengan semangat Handep Hapakat (gotong royong demi tujuan mulia).

Pusat kebudayaan ini juga aktif berkolaborasi dengan sekolah-sekolah di Kalimantan Tengah untuk menjadikan kunjungan ke Huma Betang sebagai bagian dari kurikulum muatan lokal. Dengan demikian, setiap siswa di Pulang Pisau memiliki kebanggaan identitas yang kuat sejak dini.

Menjaga Warisan di Era Digital

Menghadapi tantangan zaman, Huma Betang Damang Batu mulai mendigitalisasi konten-konten budayanya. Rekaman tari-tarian, dokumentasi prosesi adat, dan katalog kerajinan kini mulai diarsipkan secara digital agar dapat diakses oleh peneliti dan wisatawan global. Upaya ini dilakukan untuk memastikan bahwa meskipun fisik bangunan dapat termakan usia, pengetahuan dan nilai yang dikandungnya akan tetap abadi dalam ruang digital.

Penekanan pada keberlanjutan juga terlihat dari upaya konservasi lingkungan di sekitar area Betang. Masyarakat diajak untuk tetap menanam pohon-pohon yang menjadi bahan baku kerajinan, seperti rotan dan pohon nyatu, sehingga siklus budaya dan alam tetap terjaga secara harmonis.

Huma Betang Damang Batu adalah simbol ketangguhan budaya Dayak. Ia adalah tempat di mana suara Garantung masih bertalu, di mana jemari para ibu masih lincah menganyam rotan, dan di mana para pemuda masih bangga mengenakan atribut adatnya. Di Kabupaten Pulang Pisau, pusat kebudayaan ini berdiri tegak sebagai pengingat bahwa di tengah kemajuan teknologi, akar budaya adalah kompas yang akan menuntun manusia agar tidak kehilangan jati dirinya. Melalui setiap program dan aktivitasnya, Huma Betang Damang Batu memastikan bahwa api kebudayaan Kalimantan Tengah akan terus menyala, menerangi generasi demi generasi.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Kecamatan Banama Tingang, Kabupaten Pulang Pisau
entrance fee
Sukarela
opening hours
Dengan janji temu / Jam kerja

Tempat Menarik Lainnya di Pulang Pisau

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Pulang Pisau

Pelajari lebih lanjut tentang Pulang Pisau dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Pulang Pisau