Situs Sejarah

Klenteng Ing Hok Kiong

di Rokan Hilir, Riau

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Agung Klenteng Ing Hok Kiong: Simbol Sejarah dan Harmoni Rokan Hilir

Klenteng Ing Hok Kiong bukan sekadar bangunan peribadatan; ia adalah saksi bisu transformasi Bagansiapiapi dari sebuah perkampungan nelayan kecil menjadi salah satu penghasil ikan terbesar di dunia pada masanya. Terletak di jantung ibu kota Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau, klenteng ini memegang predikat sebagai klenteng tertua di kawasan tersebut, menyimpan narasi panjang tentang migrasi, keteguhan iman, dan asimilasi budaya yang membentuk identitas masyarakat pesisir Riau.

#

Asal-Usul dan Sejarah Pendirian

Akar sejarah Klenteng Ing Hok Kiong tidak dapat dipisahkan dari gelombang migrasi masyarakat Tionghoa asal distrik Tong'an, Xiamen, Provinsi Fujian, China. Pada akhir abad ke-19, tepatnya sekitar tahun 1823, sekelompok perantau yang menggunakan kapal kayu (tongkang) melarikan diri dari kekacauan di negeri asal mereka. Menurut legenda setempat, dalam perjalanan yang penuh risiko melintasi Selat Malaka, mereka membawa serta patung Dewa Ki Hu Ong Ya.

Cahaya lampu dari daratan kemudian menuntun mereka ke muara Sungai Rokan, yang kelak dikenal sebagai Bagansiapiapi. Sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan mereka, para imigran ini mendirikan sebuah tempat pemujaan sederhana dari kayu dan atap rumbia. Bangunan permanen Klenteng Ing Hok Kiong yang kita lihat hari ini mulai dibangun secara bertahap sejak tahun 1823, menjadikannya salah satu struktur bangunan tertua di Rokan Hilir yang masih berfungsi hingga saat ini. Nama "Ing Hok Kiong" sendiri secara etimologis memiliki makna mendalam: Ing berarti "Banyak", Hok berarti "Berkah", dan Kiong berarti "Istana". Secara keseluruhan, nama ini melambangkan harapan akan "Istana yang Membawa Banyak Berkah".

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi yang Megah

Secara arsitektural, Klenteng Ing Hok Kiong mengadopsi gaya tradisional Tiongkok Selatan yang sangat kental, khususnya langgam arsitektur Hokkien. Keunikan utama bangunan ini terletak pada teknik konstruksinya yang pada masa awal tidak menggunakan paku besi, melainkan sistem pasak kayu yang presisi.

Bagian atapnya berbentuk pelana (Ngo-cho) dengan hiasan naga yang saling berhadapan (naga bermain mustika), yang melambangkan perlindungan dan kemakmuran. Warna merah mendominasi seluruh bangunan sebagai simbol kebahagiaan dan keberuntungan, dipadukan dengan aksen emas yang melambangkan kemuliaan. Di depan gerbang utama, terdapat sepasang patung singa batu (Cishi) yang berfungsi sebagai penjaga spiritual.

Di dalam bangunan, terdapat pilar-pilar besar yang dihiasi dengan kaligrafi Tiongkok (Couplet) yang berisi ajaran kebajikan. Langit-langit klenteng dipenuhi dengan ukiran kayu yang rumit, menggambarkan mitologi Tiongkok dan flora-fauna yang memiliki makna simbolis. Salah satu elemen yang paling menonjol adalah altar utama tempat bersemayamnya Dewa Ki Hu Ong Ya, yang dikelilingi oleh ukiran berlapis emas asli—sebuah bukti kemakmuran Bagansiapiapi pada masa kejayaan industri perikanannya.

#

Signifikansi Historis dan Peristiwa Penting

Klenteng Ing Hok Kiong memiliki keterkaitan erat dengan peristiwa sejarah global. Pada awal abad ke-20, ketika Bagansiapiapi dinobatkan sebagai pelabuhan ikan terbesar kedua di dunia setelah Bergen di Norwegia, klenteng ini menjadi pusat gravitasi sosial bagi komunitas Tionghoa. Semua keputusan penting terkait perdagangan ikan dan kebijakan komunitas sering kali dimusyawarahkan di lingkungan sekitar klenteng.

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah peran klenteng ini selama masa pendudukan Jepang dan masa revolusi kemerdekaan. Bangunan ini pernah menjadi tempat perlindungan bagi masyarakat sipil dan menjadi simbol ketahanan komunitas lokal. Selain itu, Klenteng Ing Hok Kiong adalah titik sentral dari tradisi "Ritual Bakar Tongkang" (Go Ge Cap Lak), sebuah upacara tahunan yang memperingati kedatangan para leluhur di Bagansiapiapi. Meskipun ritual ini sempat dilarang selama era Orde Baru, klenteng tetap berdiri kokoh menjaga tradisi secara diam-diam hingga akhirnya festival tersebut diakui kembali sebagai agenda pariwisata nasional.

#

Tokoh dan Pengaruh Lintas Zaman

Keberadaan Klenteng Ing Hok Kiong tidak lepas dari peran para tetua komunitas atau Kapitan Cina yang ditunjuk pada masa kolonial Belanda untuk mengelola urusan masyarakat Tionghoa di Rokan Hilir. Para tokoh ini memastikan bahwa klenteng tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai lembaga filantropi yang membantu para imigran baru yang tiba tanpa bekal.

Penyebaran pengaruh klenteng ini menjangkau hingga ke luar batas administratif Riau. Banyak pengusaha sukses asal Bagansiapiapi yang telah merantau ke Jakarta atau luar negeri tetap memberikan sumbangsih besar bagi pemeliharaan klenteng ini, menunjukkan adanya ikatan emosional dan historis yang tak terputus dengan tanah kelahiran leluhur mereka.

#

Pelestarian dan Upaya Restorasi

Sebagai Situs Cagar Budaya, Klenteng Ing Hok Kiong telah melalui beberapa kali tahap restorasi. Restorasi dilakukan dengan sangat hati-hati untuk mempertahankan keaslian materialnya. Kayu-kayu tua yang mulai lapuk diganti dengan kayu kualitas tinggi yang didatangkan khusus agar sesuai dengan spesifikasi aslinya. Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir bersama pengurus yayasan klenteng secara rutin melakukan pemeliharaan pada bagian ornamen dan pewarnaan ulang menggunakan teknik tradisional agar detail ukiran tidak tertutup cat yang tebal.

Pemerintah Provinsi Riau telah menetapkan kawasan di sekitar klenteng sebagai zona warisan budaya. Hal ini bertujuan untuk mencegah pembangunan gedung-gedung modern yang berpotensi merusak estetika dan integritas struktur historis klenteng. Keberhasilan pelestarian ini membuat Klenteng Ing Hok Kiong tetap tampak megah dan otentik, seolah-olah waktu berhenti berputar di sana.

#

Signifikansi Budaya dan Keagamaan Saat Ini

Bagi masyarakat Bagansiapiapi, Klenteng Ing Hok Kiong adalah jantung dari keberagaman. Meski merupakan tempat ibadah umat Tao, Konghucu, dan Buddha, kehadirannya dihormati oleh seluruh warga Rokan Hilir yang heterogen. Klenteng ini menjadi simbol toleransi beragama di Bumi Melayu.

Setiap perayaan Imlek dan Cap Go Meh, klenteng ini menjadi pusat keramaian yang tidak hanya dihadiri oleh etnis Tionghoa, tetapi juga dinikmati oleh warga Melayu, Jawa, dan Batak sebagai atraksi budaya. Ritual Bakar Tongkang yang berpusat di sini kini telah menjadi salah satu daya tarik wisata internasional di Indonesia, yang mampu mendatangkan puluhan ribu wisatawan mancanegara setiap tahunnya, sekaligus menggerakkan roda ekonomi lokal secara signifikan.

Sebagai penutup, Klenteng Ing Hok Kiong bukan sekadar monumen masa lalu. Ia adalah sebuah narasi hidup tentang bagaimana sebuah komunitas mampu bertahan, beradaptasi, dan memberikan kontribusi bagi kekayaan budaya Indonesia. Keberadaannya mengingatkan kita bahwa sejarah Rokan Hilir dibangun di atas fondasi keberagaman dan semangat kerja keras para pendahulu yang tak kenal lelah.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Aman, Kota Bagansiapiapi, Rokan Hilir
entrance fee
Gratis (Donasi sukarela)
opening hours
Setiap hari, 07:00 - 18:00

Tempat Menarik Lainnya di Rokan Hilir

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Rokan Hilir

Pelajari lebih lanjut tentang Rokan Hilir dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Rokan Hilir