Situs Sejarah

Benteng Anoi Itam

di Sabang, Aceh

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menelusuri Jejak Pertahanan Pasifik: Sejarah Lengkap Benteng Anoi Itam Sabang

Semenanjung Pulau Weh, yang terletak di ujung paling barat kepulauan Indonesia, menyimpan memori kelam sekaligus heroik dari era Perang Dunia II. Di antara tebing-tebing karang yang tajam dan deburan ombak Selat Malaka yang ganas, berdiri tegak sebuah situs pertahanan monumental yang dikenal sebagai Benteng Anoi Itam. Terletak di Desa Anoi Itam, Kecamatan Sukajaya, Sabang, benteng ini bukan sekadar tumpukan beton tua, melainkan saksi bisu ambisi militer Kekaisaran Jepang dalam upaya mereka menguasai jalur maritim Asia Tenggara.

#

Latar Belakang Sejarah dan Pendirian

Benteng Anoi Itam dibangun oleh tentara Angkatan Darat Jepang (Rikugun) antara kurun waktu 1942 hingga 1945. Kedatangan Jepang di Sabang pada 12 Maret 1942 menandai berakhirnya kekuasaan kolonial Belanda di pulau tersebut. Bagi Jepang, Sabang memiliki nilai strategis yang tak ternilai karena posisinya yang mengawal pintu masuk Selat Malaka—jalur logistik vital yang menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.

Pembangunan benteng ini dilakukan secara tergesa-gesa namun sistematis sebagai bagian dari proyek "Benteng Pertahanan Terpadu Pulau Weh". Jepang menyadari bahwa Sabang akan menjadi target utama serangan balik pasukan Sekutu. Oleh karena itu, mereka membangun jaringan bunker dan parit perlindungan di sepanjang garis pantai, dengan pusat komando yang terletak di kawasan Anoi Itam ini. Nama "Anoi Itam" sendiri merujuk pada fenomena geologis unik di sekitar lokasi, yaitu pantai dengan pasir berwarna hitam pekat yang mengandung mineral magnetit tinggi.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, Benteng Anoi Itam mengadopsi gaya bunker militer Jepang yang fungsionalis dan kokoh. Konstruksinya didominasi oleh beton bertulang tebal (beton cor) yang dirancang untuk menahan hantaman meriam kapal perang kaliber besar maupun bom udara. Sebagian besar struktur benteng dibangun setengah tertanam di dalam tanah atau memanfaatkan topografi bukit karang alami untuk memberikan kamuflase yang maksimal dari penglihatan musuh di laut.

Ciri khas utama dari situs ini adalah keberadaan lorong-lorong bawah tanah yang menghubungkan satu titik pengintaian dengan titik lainnya. Di dalam kompleks ini, terdapat ruang amunisi, ruang istirahat prajurit, dan pos pengamatan yang memiliki celah bidik sempit mengarah ke laut lepas. Struktur yang paling menonjol adalah landasan meriam berbentuk lingkaran yang masih menyisakan sisa-sisa besi dudukan senjata berat. Penggunaan material lokal seperti batu karang yang dicampur dengan semen menunjukkan adaptasi teknik konstruksi Jepang terhadap ketersediaan material di lokasi terpencil.

#

Signifikansi Historis dan Persenjataan

Benteng Anoi Itam berfungsi sebagai benteng pertahanan pantai primer. Di puncak bukitnya, Jepang menempatkan meriam pantai kaliber besar yang mampu menjangkau sasaran hingga belasan mil laut. Kehadiran benteng ini membuat perairan Sabang menjadi zona yang sangat berbahaya bagi kapal-kapal Sekutu (Inggris, Australia, dan Belanda) yang mencoba mendekat.

Salah satu fakta unik mengenai benteng ini adalah keterkaitannya dengan sistem pertahanan bawah laut. Dari pos pengamatan di Anoi Itam, tentara Jepang memantau pergerakan kapal selam musuh. Sabang pada masa itu dikenal sebagai "Gibraltar dari Timur" karena sistem pertahanannya yang sangat rapat dan berlapis. Benteng ini menjadi saksi terjadinya Operasi Cockpit pada April 1944, sebuah serangan udara besar-besaran oleh pesawat-pesawat dari kapal induk Sekutu yang mencoba melumpuhkan pangkalan militer Jepang di Sabang.

#

Tokoh dan Masa Pendudukan

Pembangunan dan operasional benteng ini berada di bawah komando Divisi ke-18 Angkatan Darat Jepang, yang dipimpin oleh Jenderal Renya Mutaguchi sebelum ia dipindahkan ke medan tempur Burma. Pekerjaan fisik pembangunan benteng ini melibatkan tenaga kerja paksa atau Romusha. Banyak penduduk lokal Aceh dan kaum pendatang yang dipaksa bekerja dalam kondisi memprihatinkan untuk menggali bukit karang dan mengangkut semen demi kepentingan militer Jepang. Memori kolektif masyarakat lokal terhadap Benteng Anoi Itam sering kali diwarnai dengan kisah-kisah penderitaan para pekerja paksa tersebut, yang menjadikan situs ini juga sebagai monumen pengingat akan kekejaman perang.

#

Pelestarian dan Status Saat Ini

Setelah Jepang menyerah pada tahun 1945, benteng ini sempat terbengkalai dan tertutup semak belukar selama puluhan tahun. Barulah pada era 1980-an dan 1990-an, pemerintah mulai menyadari potensi sejarah dan pariwisata dari situs ini. Saat ini, Benteng Anoi Itam berada di bawah pengawasan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah I.

Upaya restorasi telah dilakukan untuk membersihkan lorong-lorong yang tertimbun tanah dan memperkuat struktur beton yang mulai terkikis oleh udara laut yang mengandung garam tinggi. Meskipun beberapa bagian logam telah berkarat dan hilang karena penjarahan besi tua di masa lalu, struktur utama bunker masih berdiri sangat kokoh. Pemerintah Kota Sabang juga telah membangun fasilitas pendukung seperti tangga beton, pagar pengaman, dan papan informasi sejarah untuk memudahkan wisatawan memahami nilai historis tempat ini.

#

Nilai Budaya dan Edukasi

Bagi masyarakat Aceh, khususnya warga Sabang, Benteng Anoi Itam adalah bagian dari identitas daerah yang menunjukkan posisi strategis tanah mereka dalam kancah politik global masa lalu. Secara budaya, situs ini menjadi pengingat akan pentingnya kedaulatan wilayah. Dari sisi edukasi, benteng ini sering menjadi laboratorium lapangan bagi para peneliti sejarah dan arkeologi militer untuk mempelajari taktik perang parit dan pertahanan pantai abad ke-20.

Keunikan lain yang menambah nilai estetika dari situs sejarah ini adalah lokasinya yang menawarkan panorama alam yang luar biasa. Dari atas bunker, pengunjung dapat melihat gradasi warna air laut dari biru tua ke jernih di atas hamparan karang, yang kontras dengan beton-beton kelabu peninggalan perang. Hal ini menciptakan perpaduan antara keindahan alam dan narasi sejarah yang mendalam.

#

Fakta Unik dan Penutup

Salah satu fakta yang jarang diketahui adalah bahwa Benteng Anoi Itam merupakan bagian dari jaringan terowongan yang luas di Pulau Weh. Konon, terdapat lorong rahasia yang menghubungkan benteng ini dengan bunker-bunker lain di pusat kota Sabang, meskipun banyak yang telah tertutup longsoran alami. Selain itu, meriam yang tersisa di lokasi ini merupakan salah satu dari sedikit meriam peninggalan Jepang yang masih asli dan berada di posisi asalnya di Indonesia.

Benteng Anoi Itam bukan sekadar objek wisata foto, melainkan sebuah monumen hidup. Ia bercerita tentang ambisi imperium, penderitaan rakyat kecil dalam pusaran perang, dan posisi geografis Aceh yang selalu menjadi rebutan dunia. Melestarikan Benteng Anoi Itam berarti menjaga memori bangsa agar generasi mendatang memahami bahwa di ujung barat Indonesia ini, sejarah besar dunia pernah tertulis dalam beton dan karang.

📋 Informasi Kunjungan

address
Anue Itam, Sukajaya, Kota Sabang
entrance fee
Rp 5.000
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 18:00

Tempat Menarik Lainnya di Sabang

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Sabang

Pelajari lebih lanjut tentang Sabang dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Sabang