Mie Jalak
di Sabang, Aceh
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Sejarah dan Asal-usul: Warisan Toko Jalak
Nama "Mie Jalak" tidak merujuk pada jenis burung, melainkan diambil dari nama pendirinya, yaitu Mbah Jalak (atau akrab disapa Pak Jalak). Usaha ini dimulai sejak tahun 1970-an di sebuah kedai sederhana yang kini dikenal sebagai Toko Jalak, terletak di Jalan Perdagangan, pusat kota Sabang.
Kedai ini merupakan representasi sempurna dari harmoni budaya di Sabang. Meskipun berada di Aceh yang kental dengan nuansa Islami, Mie Jalak memiliki akar pengaruh kuliner Tionghoa (Peranakan) yang kuat, namun telah beradaptasi sepenuhnya dengan lidah dan aturan lokal. Sejak awal berdiri hingga dikelola oleh generasi penerusnya, cita rasa Mie Jalak tetap konsisten, menjadikannya destinasi wajib bagi siapa pun yang menginjakkan kaki di Pulau Weh.
Karakteristik dan Keunikan Hidangan
Apa yang membuat Mie Jalak berbeda dari Mie Aceh pada umumnya? Jika Mie Aceh identik dengan bumbu rempah yang pekat, kental, dan pedas, Mie Jalak justru tampil dengan profil rasa yang kontradiktif: bersih, bening, dan segar.
Hidangan ini terdiri dari mie kuning kenyal yang disajikan dalam kuah kaldu ikan yang sangat bening namun kaya rasa. Keunikan utamanya terletak pada topping atau taburannya. Mie Jalak disajikan dengan potongan daging ikan tuna yang dipotong dadu, telur rebus, tauge segar, dan taburan daun seledri serta bawang goreng. Kesederhanaan tampilannya menyembunyikan kompleksitas rasa umami yang berasal dari kesegaran hasil laut Sabang.
Rahasia Bahan Baku dan Proses Pembuatan
Kunci utama kelezatan Mie Jalak terletak pada dua komponen utama: mie buatan sendiri (homemade) dan kaldu ikan tuna.
#
1. Mie yang Tanpa Pengawet
Berbeda dengan kedai mie kebanyakan yang membeli mie di pasar, keluarga pengelola Mie Jalak memproduksi mienya sendiri setiap hari. Mie ini dibuat dari tepung terigu berkualitas tanpa tambahan bahan pengawet atau pewarna buatan. Hasilnya adalah tekstur mie yang lebih padat, kenyal, namun lembut saat dikunyah. Karena tanpa pengawet, mie ini harus segera diolah, menjamin kesegaran di setiap porsinya.
#
2. Kaldu Ikan Tuna yang Bening
Jika biasanya kaldu ikan cenderung amis, Mie Jalak berhasil menghilangkan aroma tersebut sepenuhnya. Rahasianya terletak pada teknik perebusan tulang dan daging ikan tuna segar yang didapat langsung dari nelayan Sabang setiap pagi. Proses pembersihan ikan dilakukan dengan sangat teliti, menggunakan perasan jeruk nipis dan teknik skimming (mengangkat buih saat merebus) untuk memastikan kuah tetap jernih transparan namun tetap memiliki kedalaman rasa laut yang kuat.
#
3. Topping Ikan Tuna Rebus
Potongan daging ikan tuna yang menjadi ciri khasnya tidak digoreng, melainkan direbus dalam bumbu rahasia hingga meresap. Teksturnya padat menyerupai daging ayam, namun dengan rasa gurih khas ikan pelagis. Bagi pengunjung yang menginginkan variasi, tersedia juga pilihan telur rebus yang dimasak bersama kaldu sehingga bumbunya meresap hingga ke bagian kuning telur.
Teknik Memasak Tradisional
Di dapur Toko Jalak, teknik memasak masih mempertahankan cara-cara tradisional. Penggunaan api yang diatur sedemikian rupa memastikan suhu kuah kaldu tetap stabil (tidak sampai mendidih bergolak hebat agar kuah tidak keruh).
Proses penyajiannya pun unik. Mie tidak dimasak lama di dalam kuah, melainkan hanya dicelupkan sebentar (blanching) ke dalam air panas agar teksturnya tetap terjaga, kemudian baru disiram dengan kuah kaldu panas saat akan dihidangkan. Hal ini menjaga agar mie tidak menjadi lembek (overcooked) saat sampai di meja pelanggan.
Konteks Budaya dan Tradisi Makan Lokal
Makan di kedai Mie Jalak adalah sebuah pengalaman sosiologis. Kedai ini tidak memiliki desain interior yang mewah; hanya meja-meja kayu sederhana dan bangku panjang yang seringkali penuh sesak. Di sini, batas-batas sosial seolah luruh. Anda bisa melihat pejabat daerah duduk berdampingan dengan nelayan atau wisatawan asing, semuanya menikmati mangkuk yang sama.
Ada sebuah tradisi lokal yang tak tertulis saat menikmati Mie Jalak: pendamping makan. Masyarakat lokal biasanya menyantap mie ini bersama dengan "Sate Gurita" atau kerupuk emping melinjo khas Aceh yang renyah. Selain itu, sebagai penutup, kopi pancung (kopi hitam Aceh dalam porsi setengah gelas) menjadi pelengkap sempurna untuk menetralkan rasa setelah menyantap hidangan laut.
Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi hari saat sarapan atau sore hari menjelang matahari terbenam. Kedai ini seringkali sudah kehabisan stok sebelum jam operasional berakhir karena tingginya minat pembeli, baik penduduk lokal maupun wisatawan yang membawa pulang Mie Jalak sebagai buah tangan dalam bentuk kemasan terpisah (mie dan kuah dipisah).
Konsistensi Lintas Generasi
Kesuksesan Mie Jalak tidak lepas dari peran keluarga besar Mbah Jalak yang tetap memegang teguh resep asli. Meskipun banyak kedai lain di Sabang atau bahkan di Banda Aceh yang mencoba meniru gaya "Mie Ikan Tuna", rasa otentik dari Toko Jalak di Jalan Perdagangan tetap tidak tergantikan.
Keberhasilan mereka menjaga kualitas selama puluhan tahun adalah bentuk penghormatan terhadap warisan kuliner Nusantara. Mereka membuktikan bahwa kesederhanaan bahan baku, jika diolah dengan teknik yang benar dan dedikasi yang tinggi, dapat menciptakan sebuah legenda yang melampaui tren kuliner modern.
Penutup: Lebih dari Sekadar Semangkuk Mie
Mie Jalak adalah narasi tentang Sabang itu sendiri: tenang, segar, dan jujur. Hidangan ini mencerminkan kekayaan laut Pulau Weh yang melimpah dan bagaimana masyarakatnya mampu mengolah kekayaan tersebut menjadi mahakarya kuliner yang melegenda.
Bagi siapa pun yang berkunjung ke ujung paling barat Indonesia, melewatkan Mie Jalak berarti melewatkan separuh dari jiwa kota Sabang. Di balik kepulan asap kaldu ikan tunanya, terdapat cerita tentang sejarah panjang sebuah kedai kecil yang berhasil meletakkan namanya dalam peta kuliner paling prestisius di Indonesia. Mie Jalak bukan hanya tentang rasa, tapi tentang merayakan identitas Sabang yang tulus di setiap suapannya.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Sabang
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Sabang
Pelajari lebih lanjut tentang Sabang dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Sabang