Gedung Papak
di Salatiga, Jawa Tengah
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Gedung Papak: Manifestasi Arsitektur Kolonial dan Simbol Pemerintahan Kota Salatiga
Salatiga, sebuah kota kecil yang terletak di lereng Gunung Merbabu, Jawa Tengah, memiliki julukan sebagai *De Schoonste Stad van Midden-Java* atau kota terindah di Jawa Tengah pada masa kolonial Belanda. Salah satu bukti fisik paling otentik dari kemegahan masa lalu tersebut adalah Gedung Papak. Bangunan ini bukan sekadar struktur beton dan batu, melainkan sebuah narasi arsitektur yang merekam transisi gaya bangunan Eropa di iklim tropis serta pergeseran kekuasaan di Indonesia.
#
Gaya Arsitektur: Rasionalisme dan Adaptasi Tropis
Gedung Papak mengadopsi gaya arsitektur Indisch-Empire yang berkembang pada abad ke-19, namun dengan sentuhan transisi menuju modernitas fungsional. Nama "Papak" sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti "datar" atau "rata". Penamaan ini merujuk pada bentuk atap bangunan yang tidak menggunakan genteng miring (limasan atau pelana) sebagaimana bangunan pada umumnya di masa itu, melainkan menggunakan dak beton datar.
Secara visual, Gedung Papak menampilkan karakteristik neo-klasik yang disederhanakan. Fasad bangunan didominasi oleh garis-garis tegas, pilar-pilar besar yang memberikan kesan kokoh dan berwibawa, serta jendela-jendela tinggi dengan bouvenlight (lubang udara) yang lebar. Keunikan utama dari desain ini adalah sistem sirkulasi udara alami yang sangat baik. Dinding bangunan dibuat sangat tebal (mencapai 30-40 cm) yang berfungsi sebagai isolator panas, sehingga suhu di dalam ruangan tetap sejuk meskipun tanpa alat pendingin udara modern.
#
Konteks Sejarah dan Pembangunan
Dibangun sekitar pertengahan abad ke-19, tepatnya pada tahun 1850-an, Gedung Papak awalnya merupakan kediaman pribadi milik seorang pengusaha perkebunan Belanda (landheer). Posisi Salatiga yang strategis sebagai jalur penghubung antara Semarang dan Surakarta, serta udaranya yang sejuk, menjadikannya lokasi favorit bagi para elite kolonial untuk membangun rumah peristirahatan.
Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), fungsi gedung ini beralih menjadi markas militer Jepang (Butai). Setelah Indonesia merdeka, gedung ini sempat digunakan sebagai kantor militer dan akhirnya resmi menjadi pusat pemerintahan Kota Salatiga. Kini, Gedung Papak berfungsi sebagai Kantor Walikota Salatiga, menjadikannya salah satu dari sedikit bangunan cagar budaya di Indonesia yang masih aktif digunakan untuk fungsi pemerintahan tingkat tinggi.
#
Inovasi Struktural dan Elemen Unik
Salah satu aspek teknis yang paling menonjol dari Gedung Papak adalah penggunaan teknologi beton pada bagian atapnya yang saat itu masih tergolong langka di Hindia Belanda. Konstruksi atap datar ini memerlukan perhitungan drainase yang sangat presisi agar air hujan tidak menggenang dan menyebabkan kebocoran—sebuah tantangan besar mengingat curah hujan yang tinggi di Salatiga.
Lantai bangunan ini sebagian besar masih mempertahankan ubin asli bermotif geometris yang khas dari era tersebut. Tangga di dalam gedung menggunakan material kayu jati berkualitas tinggi dengan ukiran sederhana namun elegan, menunjukkan kelas sosial pemilik aslinya. Selain itu, terdapat pintu-pintu ganda (double door) berukuran raksasa yang tidak hanya berfungsi sebagai akses, tetapi juga sebagai elemen estetika yang mempertegas skala monumental bangunan.
#
Signifikansi Budaya dan Sosial
Bagi masyarakat Salatiga, Gedung Papak adalah simbol identitas kota. Gedung ini menjadi saksi bisu berbagai peristiwa sejarah penting, mulai dari era tanam paksa, perjuangan kemerdekaan, hingga transformasi Salatiga menjadi kota modern yang toleran. Keberadaan gedung ini di tengah komplek perkantoran Pemkot Salatiga memberikan kontras visual yang menarik antara arsitektur klasik dan bangunan modern di sekitarnya.
Secara sosial, Gedung Papak sering menjadi titik temu antara pemerintah dan rakyat. Halamannya yang luas sering digunakan untuk upacara kenegaraan dan kegiatan budaya. Keberadaannya mengingatkan warga akan pentingnya menjaga warisan sejarah di tengah arus urbanisasi yang pesat. Gedung ini telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya berdasarkan UU No. 11 Tahun 2010, yang memastikan kelestarian fisiknya tetap terjaga.
#
Pengalaman Pengunjung dan Estetika Visual
Mengunjungi Gedung Papak memberikan sensasi lorong waktu. Begitu memasuki area selasar, pengunjung akan disambut oleh aura kemegahan masa lalu. Langit-langit yang tinggi memberikan kesan ruang yang luas dan tidak menyesakkan. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela besar, menciptakan permainan bayangan yang dramatis di atas lantai ubin kuno.
Meskipun saat ini berfungsi sebagai kantor administrasi, keindahan arsitekturnya tetap dapat dinikmati dari area luar. Pada malam hari, sorotan lampu yang diarahkan ke fasad bangunan semakin menonjolkan detail pilar dan garis atap "papak"-nya, menciptakan pemandangan yang ikonik di jantung kota. Bagi fotografer arsitektur, Gedung Papak menawarkan komposisi simetri yang sempurna, menjadikannya objek favorit untuk didokumentasikan.
#
Pelestarian dan Tantangan Masa Depan
Sebagai bangunan bersejarah yang masih digunakan secara aktif, tantangan utama Gedung Papak adalah konservasi material. Faktor cuaca, kelembapan, dan usia bangunan memerlukan perawatan rutin yang spesifik. Pemerintah Kota Salatiga berkomitmen untuk tidak mengubah struktur utama bangunan guna menjaga orisinalitasnya. Renovasi yang dilakukan sejauh ini hanya bersifat fungsional dan restoratif, seperti pengecatan ulang dengan warna putih tulang yang menjadi ciri khas bangunan kolonial dan perbaikan sistem sanitasi tanpa merusak dinding asli.
Gedung Papak bukan sekadar tumpukan material bangunan; ia adalah jiwa dari Salatiga. Melalui atapnya yang datar dan dindingnya yang kokoh, ia mengajarkan tentang adaptasi arsitektur Barat dengan alam Timur. Sebagai ikon kota, Gedung Papak terus berdiri tegak, menjembatani masa lalu yang prestisius dengan masa depan Salatiga yang dinamis. Keberadaannya memastikan bahwa sejarah tidak hanya dibaca melalui buku, tetapi bisa diraba melalui tekstur dinding dan dirasakan melalui hembusan angin di selasar-selasarnya yang abadi.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Salatiga
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Salatiga
Pelajari lebih lanjut tentang Salatiga dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Salatiga