Situs Sejarah

Kota Lama Semarang

di Semarang, Jawa Tengah

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-usul Historis dan Pembentukan Kawasan

Sejarah Kota Lama Semarang bermula dari perjanjian antara Kesultanan Mataram dan VOC pada tahun 1678. Sebagai imbalan atas bantuan VOC dalam menumpas pemberontakan Trunajaya, Sunan Amangkurat II menyerahkan Semarang kepada Belanda. Pada awalnya, pemukiman ini dibangun sebagai benteng pertahanan yang dikenal dengan nama Oude Stad.

Sekitar tahun 1741, setelah peristiwa Geger Pecinan, Belanda mulai membangun benteng segi lima yang dikenal sebagai Kasteel Vijfhoek. Namun, karena kebutuhan ruang perkotaan yang lebih dinamis, benteng tersebut dibongkar pada tahun 1824 untuk memberi jalan bagi pembangunan kawasan terbuka. Kota Lama kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan. Lokasinya yang strategis di dekat muara Sungai Semarang menjadikannya pintu gerbang logistik utama yang menghubungkan pedalaman Jawa dengan pasar internasional.

Karakteristik Arsitektur dan Detail Konstruksi

Keunikan utama Kota Lama Semarang terletak pada arsitekturnya yang mengadopsi gaya bangunan Eropa Barat. Berbeda dengan pemukiman tropis pada umumnya, gedung-gedung di sini memiliki dinding yang sangat tebal, jendela kaca patri yang besar, serta penggunaan material marmer dan ubin terakota yang didatangkan langsung dari Eropa.

Gaya arsitektur yang dominan adalah Indische Empire Style dan Renaissance Revival. Salah satu ciri khas yang paling menonjol adalah detail ornamen pada fasad bangunan, penggunaan dak beton, serta menara pandang yang berfungsi untuk memantau lalu lintas kapal di pelabuhan. Struktur bangunan di sini dirancang untuk menunjukkan kewibawaan kolonial, dengan langit-langit tinggi untuk sirkulasi udara alami guna menyiasati kelembapan udara pesisir Semarang.

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Kota Lama Semarang memiliki signifikansi ekonomi yang krusial pada masa Hindia Belanda. Kawasan ini merupakan pusat dari jaringan kereta api pertama di Indonesia. Pada tahun 1864, pencangkulan pertama jalur kereta api rute Semarang-Solo-Yogyakarta dilakukan oleh Gubernur Jenderal Baron Sloet van de Beele. Kantor pusat perusahaan kereta api swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) yang megah pun berdiri tidak jauh dari kawasan ini.

Selain itu, Kota Lama menjadi pusat perbankan dan asuransi. Keberadaan gedung De Javasche Bank (sekarang Bank Indonesia) dan kantor-kantor dagang internasional menjadikan Semarang sebagai salah satu dari tiga kota terbesar di Hindia Belanda bersama Batavia dan Surabaya. Peristiwa sejarah seperti pendudukan Jepang dan pertempuran lima hari di Semarang juga meninggalkan jejak traumatis di dinding-dinding kawasan ini.

Tokoh dan Ikon Bangunan Bersejarah

Beberapa bangunan ikonik di Kota Lama memiliki kaitan erat dengan tokoh-tokoh penting dan fungsi spesifik:

1. Gereja Blenduk (GPIB Immanuel): Dibangun pada tahun 1753, gereja ini adalah bangunan paling ikonik dengan kubah tembaga berbentuk setengah lingkaran. Nama "Blenduk" berasal dari bahasa Jawa yang merujuk pada bentuk kubahnya yang menggembung. Architect H.P.A. de Wilde dan W. Westmaas melakukan renovasi besar pada tahun 1894 yang memberikan tampilan seperti sekarang.

2. Gedung Marba: Dibangun oleh Marta Badjunet, seorang saudagar kaya asal Yaman. Gedung bertembok merah ini merupakan contoh langka dari kepemilikan aset besar oleh pengusaha non-Eropa di jantung kota kolonial.

3. Spiegel Bar & Bistro: Dahulu merupakan toko serba ada Herman Spiegel yang menyediakan barang-barang mewah dari Eropa, mencerminkan gaya hidup kelas atas masyarakat Semarang tempo dulu.

4. Gedung Jiwasraya: Karya arsitek ternama Thomas Karsten, yang dikenal karena kemampuannya memadukan estetika Barat dengan iklim tropis Indonesia.

Status Pelestarian dan Upaya Restorasi

Selama beberapa dekade, Kota Lama Semarang sempat mengalami masa suram akibat banjir rob dan penurunan tanah yang menyebabkan banyak gedung terbengkalai. Namun, sejak tahun 2016, Pemerintah Kota Semarang bersama pemerintah pusat melakukan restorasi besar-besaran.

Upaya revitalisasi difokuskan pada perbaikan drainase untuk mengatasi banjir, penataan kabel bawah tanah, dan penggantian aspal jalan dengan paving block batu alam untuk mengembalikan suasana abad ke-19. Transformasi ini berhasil mengubah citra kawasan yang semula kumuh menjadi destinasi wisata sejarah kelas dunia. Saat ini, Kota Lama Semarang tengah diperjuangkan untuk mendapatkan status sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO (UNESCO World Heritage Site).

Kepentingan Budaya dan Religi

Meskipun didominasi oleh pengaruh Belanda, Kota Lama Semarang adalah potret keberagaman. Secara geografis, kawasan ini dikelilingi oleh pemukiman etnis lain seperti Pecinan (Chinatown), Kampung Melayu, dan Kampung Arab. Interaksi antar-etnis ini menciptakan budaya "Semarangan" yang unik.

Secara religi, keberadaan Gereja Blenduk yang berdampingan dengan aktivitas perdagangan masyarakat lokal menunjukkan toleransi yang telah mengakar lama. Festival Kota Lama yang diadakan setiap tahun menjadi ajang perayaan budaya di mana berbagai komunitas seni menampilkan akulturasi budaya Jawa, Tionghoa, dan Eropa dalam satu ruang publik.

Fakta Unik Kota Lama Semarang

  • Sistem Kanal: Kota Lama dulu memiliki sistem kanal yang menyerupai Amsterdam untuk transportasi logistik, namun sebagian besar kini telah ditutup atau beralih fungsi menjadi jalan raya.
  • Pusat Literasi: Di kawasan ini pernah berdiri penerbitan ternama yang mencetak berbagai surat kabar penting masa kolonial, menjadikannya pusat intelektual di Jawa Tengah.
  • Zero Point: Titik nol kilometer Semarang terletak tidak jauh dari kawasan ini, tepatnya di depan gedung Kantor Pos Besar, yang menandakan pentingnya kawasan ini sebagai pusat koordinat administrasi.

Dengan segala kemegahan arsitektur dan kedalaman sejarahnya, Kota Lama Semarang bukan hanya sekadar objek wisata. Ia adalah laboratorium sejarah yang mengajarkan tentang diplomasi, perdagangan global, dan bagaimana sebuah kota mampu bangkit dari keterpurukan fisik untuk kembali menjadi kebanggaan identitas nasional. Pelestarian kawasan ini memastikan bahwa generasi mendatang tetap dapat menyentuh dan merasakan narasi besar bangsa yang tertulis di atas bata dan semen tua.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Letjen Suprapto, Tanjung Mas, Kec. Semarang Utara, Kota Semarang
entrance fee
Gratis
opening hours
24 Jam

Tempat Menarik Lainnya di Semarang

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Semarang

Pelajari lebih lanjut tentang Semarang dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Semarang