Benteng Amsterdam (Hila)
di Seram Bagian Barat, Maluku
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Jejak Kolonial di Pesisir Utara Ambon: Sejarah Lengkap Benteng Amsterdam (Hila)
Benteng Amsterdam bukan sekadar tumpukan batu karang dan mortar kuno; ia adalah monumen bisu yang merangkum transisi kekuasaan, ambisi perdagangan rempah, dan persinggungan budaya di Kepulauan Maluku. Terletak di Negeri Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah (secara geografis berada di pesisir utara Pulau Ambon yang berbatasan erat dengan dinamika di Seram Bagian Barat), benteng ini berdiri sebagai salah satu peninggalan kolonial tertua dan paling utuh di Indonesia Timur.
#
Asal-Usul dan Periode Pendirian
Sejarah Benteng Amsterdam bermula jauh sebelum struktur permanen yang kita lihat sekarang berdiri. Pada awalnya, lokasi ini merupakan sebuah loji (kantor dagang sekaligus gudang) milik Portugis yang dibangun pada tahun 1512. Saat itu, bangsa Portugis menjadi pionir Eropa yang menginjakkan kaki di Hila untuk mencari cengkih. Namun, dominasi Portugis mulai goyah ketika kongsi dagang Belanda, VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), mulai menancapkan pengaruhnya di Nusantara.
Pada tahun 1637, Gubernur Jenderal Gerrit Demmer mulai memperkuat posisi Belanda di Hila. Pembangunan struktur yang lebih kokoh diprakarsai oleh Gubernur Jenderal Gerard Demmer, namun penyelesaian dan bentuk akhir benteng ini diselesaikan di bawah arahan Gubernur Jenderal Arnold de Vlaming van Outshoorn pada periode 1642 hingga 1649. Nama "Amsterdam" diberikan sebagai penghormatan kepada kota pusat perdagangan di Belanda sekaligus simbol kekuatan ekonomi VOC yang berbasis di sana.
#
Arsitektur dan Detail Konstruksi
Secara arsitektural, Benteng Amsterdam merupakan contoh klasik dari desain Blockhuis (rumah blok) khas Belanda abad ke-17. Berbeda dengan benteng-benteng besar seperti Benteng Victoria di pusat kota Ambon, Amsterdam dirancang sebagai struktur pertahanan mandiri yang kompak namun sangat kuat.
Benteng ini terdiri dari tiga lantai utama:
1. Lantai Dasar: Memiliki lantai berbatu bata dan digunakan sebagai barak prajurit, ruang penyimpanan amunisi, serta logistik makanan.
2. Lantai Kedua: Difungsikan sebagai ruang pertemuan para perwira Belanda dan kantor administrasi perdagangan.
3. Lantai Ketiga: Merupakan area pertahanan utama yang dilengkapi dengan jendela-jendela pengintai dan lubang meriam.
Konstruksi bangunan ini sangat unik karena menggunakan material lokal yang dipadukan dengan teknik Eropa. Dindingnya terbuat dari blok batu karang yang direkatkan menggunakan campuran pasir, kapur, dan putih telur sebagai pengeras alami. Atapnya yang berbentuk limas tinggi awalnya menggunakan rumbia, namun kemudian diganti dengan genteng tanah bakar. Di sekeliling bangunan utama, terdapat tembok pagar rendah dengan bastion kecil di sudut-sudutnya untuk memantau pergerakan kapal di Laut Seram.
#
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting
Benteng Amsterdam memegang peranan krusial sebagai titik kontrol jalur perdagangan cengkih di pesisir utara Pulau Ambon dan akses menuju Pulau Seram. Posisi strategisnya memungkinkan VOC mengawasi praktik "perdagangan gelap" yang dilakukan oleh penduduk lokal dengan pedagang dari Inggris, Denmark, atau Makassar.
Salah satu peristiwa sejarah paling signifikan yang terkait dengan benteng ini adalah Perang Huamual (1641-1656). Benteng Amsterdam dijadikan basis operasi militer Belanda untuk memadamkan pemberontakan rakyat di Semenanjung Huamual (Seram Bagian Barat) yang dipimpin oleh Kapitan Telukabessy. Penaklukan Huamual menandai dimulainya kebijakan ekstirpasi—pemusnahan pohon cengkih milik rakyat untuk menjaga stabilitas harga di pasar Eropa—yang dikendalikan langsung dari titik-titik pertahanan seperti Hila.
#
Tokoh Bersejarah: Georg Eberhard Rumphius
Nama Benteng Amsterdam tidak bisa dipisahkan dari sosok Georg Eberhard Rumphius (1627–1702), seorang ilmuwan botani ternama berkebangsaan Jerman yang bekerja untuk VOC. Rumphius pernah tinggal di benteng ini dan melakukan penelitian mendalam terhadap flora dan fauna di Maluku.
Di dalam atau di sekitar lingkungan Benteng Amsterdam inilah, Rumphius menyusun karya monumentalnya, Herbarium Amboinense. Meskipun ia kehilangan penglihatannya karena glaukoma pada tahun 1670 dan kehilangan istri serta anaknya akibat gempa bumi dan tsunami yang melanda Hila pada tahun 1674, ia tetap melanjutkan karyanya di sini. Keberadaan Rumphius memberikan dimensi intelektual pada Benteng Amsterdam, mengubah citranya dari sekadar mesin perang menjadi tempat perkembangan ilmu pengetahuan alam dunia.
#
Sinkretisme Budaya dan Kedekatan Religi
Keunikan Benteng Amsterdam juga terletak pada lokasinya yang berada di tengah-tengah lingkungan masyarakat Hila yang religius. Di dekat benteng ini, berdiri Gereja Tua Hila (Immanuel) dan Masjid Tua Wapauwe. Ketiga bangunan ini sering disebut sebagai simbol kerukunan antarumat beragama di Maluku.
Masjid Wapauwe sendiri merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia yang dibangun pada tahun 1414. Kedekatan fisik antara benteng kolonial, gereja, dan masjid menciptakan lanskap budaya yang langka, di mana sisa-sisa kekuatan militer Eropa berdampingan dengan pusat spiritualitas lokal selama berabad-abad.
#
Status Pelestarian dan Restoran
Setelah Belanda meninggalkan Indonesia, Benteng Amsterdam sempat terbengkalai dan mengalami kerusakan berat akibat faktor usia dan cuaca tropis yang ekstrem. Pada tahun 1900-an awal, bangunan ini bahkan sempat tertutup semak belukar dan sebagian dindingnya runtuh.
Upaya penyelamatan serius dilakukan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 1991. Pemugaran dilakukan secara komprehensif oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3). Proses restorasi ini berupaya mempertahankan keaslian material bangunan semaksimal mungkin. Saat ini, Benteng Amsterdam dikelola sebagai situs cagar budaya di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pengunjung dapat mengeksplorasi setiap sudut benteng dan menikmati pemandangan lepas ke arah laut yang memisahkan Ambon dengan Pulau Seram.
#
Fakta Unik dan Kesimpulan
Salah satu fakta unik dari Benteng Amsterdam adalah ketahanannya terhadap bencana alam. Meskipun wilayah Hila pernah luluh lantak akibat tsunami dahsyat pada akhir abad ke-17, struktur utama benteng ini tetap berdiri kokoh, membuktikan keunggulan teknik konstruksi masa itu. Selain itu, sistem drainase kuno di bawah benteng masih berfungsi dengan baik hingga hari ini, mencegah kelembapan berlebih yang dapat merusak struktur batu karang.
Sebagai situs sejarah di ambang batas Seram Bagian Barat, Benteng Amsterdam merupakan representasi dari era keemasan sekaligus era kelam perdagangan rempah dunia. Ia adalah pengingat akan ketangguhan masyarakat lokal, kekejaman monopoli, dan dedikasi ilmuwan seperti Rumphius yang mengharumkan nama Maluku di panggung sains internasional. Mengunjungi Benteng Amsterdam bukan sekadar berwisata, melainkan melakukan perjalanan waktu menuju jantung sejarah Nusantara.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Seram Bagian Barat
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Seram Bagian Barat
Pelajari lebih lanjut tentang Seram Bagian Barat dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Seram Bagian Barat