Situs Sejarah

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

di Situbondo, Jawa Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul dan Periode Pendirian: Membabat Alas Sukorejo

Sejarah pesantren ini bermula pada tahun 1908. Pendirinya adalah Kiai Syamsul Arifin, seorang ulama kharismatik asal Madura. Sebelum menetap di Sukorejo, Kiai Syamsul Arifin melakukan pengembaraan spiritual dan intelektual. Atas saran dari gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan, ia diminta untuk membuka pemukiman dan menyebarkan dakwah Islam di wilayah Situbondo yang saat itu masih berupa hutan lebat dan dihuni oleh masyarakat yang jauh dari nilai-nilai agama.

Proses "babat alas" (pembukaan lahan) dimulai dengan penuh tantangan fisik dan metafisik. Bersama putranya, As’ad Syamsul Arifin, dan beberapa pengikut setianya, Kiai Syamsul Arifin mendirikan sebuah musala kecil dan beberapa gubuk bambu sederhana. Nama "Salafiyah Syafi'iyah" dipilih untuk menegaskan identitas pesantren yang berpegang teguh pada tradisi salaf (ulama terdahulu) dan mengikuti mazhab fikih Imam Syafi'i.

Arsitektur dan Detail Konstruksi: Perpaduan Tradisi dan Modernitas

Secara arsitektural, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo menampilkan evolusi konstruksi dari masa ke masa. Pada awal berdirinya, bangunan bersifat sangat tradisional dengan material kayu, bambu, dan atap rumbia. Seiring perkembangan zaman, kompleks ini bertransformasi menjadi kawasan pendidikan yang megah tanpa meninggalkan ciri khas pesantren Jawa.

Bangunan ikonik di situs ini adalah Masjid Jami' Ibrahimy. Masjid ini memiliki struktur yang menggabungkan elemen arsitektur lokal dengan sentuhan Timur Tengah. Penggunaan pilar-pilar besar dan langit-langit tinggi memberikan kesan kewibawaan. Di sekitar masjid, terdapat kompleks makam keluarga pendiri yang menjadi pusat ziarah. Penataan ruang di pesantren ini mengikuti pola krapyak, di mana hunian santri (asrama) mengelilingi pusat kegiatan ibadah dan kediaman pengasuh, menciptakan sistem pengawasan dan kedekatan emosional yang kuat antara guru dan murid.

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Situs ini memiliki nilai sejarah nasional yang sangat tinggi. Salah satu peristiwa paling monumental yang terjadi di Sukorejo adalah pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-27 pada tahun 1984. Di tempat inilah, NU secara resmi menyatakan kembali ke Khittah 1926 dan secara berani menjadi organisasi Islam pertama yang menerima Pancasila sebagai asas tunggal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Keputusan ini merupakan titik balik penting dalam hubungan antara agama dan negara di Indonesia.

Selain itu, selama masa revolusi fisik (1945-1949), pesantren ini berfungsi sebagai basis pertahanan dan logistik pejuang kemerdekaan. Hutan di sekitar pesantren menjadi tempat persembunyian para gerilyawan, sementara para santri dididik menjadi pasukan "Pelopor" yang siap bertempur melawan penjajah Belanda.

Tokoh Utama: Kiai Haji R. As’ad Syamsul Arifin

Nama Pondok Pesantren Sukorejo tidak dapat dipisahkan dari sosok Kiai Haji Raden As’ad Syamsul Arifin. Beliau adalah tokoh kunci yang membawa tongkat estafet kepemimpinan dari ayahnya. Kiai As’ad bukan hanya seorang ulama, tetapi juga Pahlawan Nasional Indonesia.

Salah satu fakta unik sejarah adalah peran Kiai As’ad dalam pendirian Nahdlatul Ulama. Beliau adalah penyampai pesan (kurir) dari Syaikhona Kholil Bangkalan berupa tongkat dan tasbih kepada KH Hasyim Asy'ari, yang menjadi isyarat spiritual berdirinya NU pada tahun 1926. Sepanjang hidupnya, Kiai As’ad dikenal sebagai mediator ulung antara kepentingan umat dan kebijakan pemerintah, serta menjadi rujukan utama para pejabat negara dalam mengambil keputusan strategis.

Status Preservasi dan Upaya Restorasi

Sebagai situs sejarah yang masih aktif berfungsi (living monument), Pemerintah Kabupaten Situbondo dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan perhatian khusus pada pelestarian kawasan ini. Upaya restorasi dilakukan secara berkala pada bangunan-bangunan tua untuk menjaga otentisitasnya.

Makam Kiai Syamsul Arifin dan Kiai As’ad Syamsul Arifin kini telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya yang dilindungi. Pihak pesantren juga membangun Museum As’ad Syamsul Arifin yang menyimpan berbagai artefak sejarah, mulai dari kitab-kitab kuno tulisan tangan, perlengkapan perang masa revolusi, hingga dokumentasi foto peristiwa-peristiwa penting nasional yang melibatkan pesantren.

Kepentingan Budaya dan Religi

Secara budaya, Sukorejo adalah episentrum tradisi Islam-Jawa-Madura. Setiap tahun, ribuan orang menghadiri acara Haul (peringatan wafatnya tokoh) yang menjadi momentum penguatan ikatan sosial antarwarga dari berbagai daerah. Tradisi keilmuan di sini tetap mempertahankan sistem wetonan dan sorogan (metode pembacaan kitab klasik), namun secara inovatif menggabungkannya dengan sistem pendidikan formal hingga jenjang universitas (Universitas Ibrahimy).

Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo juga menjadi simbol moderasi beragama. Prinsip Tawasuth (moderat), Tawazun (seimbang), dan I'tidal (tegak lurus) yang diajarkan di sini menjadi fondasi bagi terciptanya kerukunan antarumat beragama di wilayah Situbondo dan sekitarnya.

Fakta Sejarah Unik

Sebuah fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa pada masa penjajahan Jepang, pesantren ini sempat menjadi tempat pelatihan militer bagi pemuda-pemuda lokal. Kiai As’ad dengan kecerdikannya memanfaatkan kehadiran Jepang untuk membekali para santri dengan kemampuan tempur yang nantinya digunakan untuk mengusir penjajah. Selain itu, kawasan Sukorejo dulunya dianggap sebagai tempat "buangan" bagi orang-orang yang bermasalah secara sosial, namun melalui pendekatan dakwah yang santun, Kiai Syamsul Arifin berhasil mengubah mereka menjadi komunitas masyarakat yang religius dan produktif.

Dengan usia yang telah melewati satu abad, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo tetap berdiri sebagai mercusuar peradaban Islam di Jawa Timur. Keberadaannya bukan hanya tentang bangunan fisik, melainkan tentang narasi panjang perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan dan merawat jati diri religiusitas di tengah perubahan zaman.

📋 Informasi Kunjungan

address
Sumberejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo
entrance fee
Gratis / Sukarela
opening hours
24 Jam (Untuk kunjungan ziarah)

Tempat Menarik Lainnya di Situbondo

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Situbondo

Pelajari lebih lanjut tentang Situbondo dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Situbondo