Situbondo

Common
Jawa Timur
Luas
1.665,31 km²
Posisi
tengah
Jumlah Tetangga
4 wilayah
Pesisir
Tidak

Dipublikasikan: Januari 2025

History

#

Sejarah dan Perkembangan Kabupaten Situbondo: Jejak Panjang di Timur Jawa

Kabupaten Situbondo, yang membentang seluas 1.665,31 km² di wilayah tengah pesisir utara Jawa Timur, memiliki narasi sejarah yang kaya dan berlapis. Meskipun secara administratif kini menjadi entitas yang mandiri, akar sejarahnya tidak dapat dipisahkan dari dinamika kekuasaan di ujung timur Pulau Jawa.

##

Asal-Usul dan Masa Kolonial

Secara etimologi, nama "Situbondo" diyakini berasal dari dua kemungkinan. Pertama, berasal dari nama seorang tokoh penyebar agama Islam bernama Syekh Maulan Ishaq yang lebih dikenal dengan sebutan Bujuk Situbondo. Kedua, berasal dari kata "Siti" (tanah) dan "Bondo" (ikat), yang merujuk pada legenda pengikatan tanah agar tidak hanyut saat banjir.

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, wilayah ini merupakan bagian dari Karesidenan Besuki. Besuki sendiri merupakan pusat pemerintahan dan ekonomi yang sangat penting pada abad ke-19, terutama setelah pembangunan Grote Postweg (Jalan Raya Pos) oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada tahun 1808. Situbondo menjadi titik strategis jalur logistik karena menghubungkan wilayah pedalaman dengan akses pelabuhan di Panarukan. Panarukan sendiri menjadi saksi bisu berakhirnya pembangunan jalan raya sepanjang 1.000 kilometer tersebut, yang hingga kini diperingati melalui monumen titik akhir 1.000 km.

##

Perjuangan Kemerdekaan dan Peristiwa Penting

Memasuki era pergerakan nasional, Situbondo memainkan peran krusial. Salah satu tokoh pahlawan nasional yang sangat dihormati adalah K.H.R. As'ad Syamsul Arifin, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo. Beliau bukan hanya tokoh agama, tetapi juga panglima perang yang menggerakkan barisan pelopor untuk melawan penjajah Jepang dan Belanda.

Pada masa revolusi fisik tahun 1947, Situbondo menjadi medan pertempuran sengit saat Agresi Militer Belanda I. Pasukan Belanda melakukan pendaratan di Pantai Pasir Putih untuk memutus jalur komunikasi pejuang Republik di wilayah timur. Keberanian para santri dan masyarakat lokal dalam membela kedaulatan menjadi catatan emas dalam sejarah perjuangan daerah ini.

##

Dinamika Budaya dan Warisan Sejarah

Warisan budaya Situbondo merupakan perpaduan harmonis antara budaya Jawa dan Madura (penduduk mayoritas). Tradisi Ojhung, sebuah seni bela diri menggunakan rotan, masih dilestarikan sebagai ritual permohonan hujan di beberapa desa. Selain itu, keterikatan dengan laut tercermin dalam tradisi Petik Laut di wilayah pesisir seperti Kalbut dan Panarukan.

Situs sejarah yang masih berdiri kokoh antara lain Pabrik Gula (PG) Olean dan PG Panji. Pabrik-pabrik ini merupakan peninggalan era keemasan industri gula dunia di Jawa Timur pada awal abad ke-20. Arsitektur kolonial dan mesin-mesin uap tua di lokasi tersebut menjadi bukti otentik masa transisi ekonomi Situbondo dari agraris tradisional menuju industrialisasi perkebunan.

##

Situbondo Modern

Kini, dengan dikelilingi oleh empat wilayah tetangga—Probolinggo, Bondowoso, Banyuwangi, serta Laut Jawa di utara—Situbondo bertransformasi menjadi koridor ekonomi utama. Sebagai daerah yang memiliki garis pantai terpanjang di Jawa Timur, pengembangan sektor perikanan dan pariwisata bahari seperti Taman Nasional Baluran ("Little Africa in Java") menjadi pilar masa depan yang tetap berpijak pada nilai-nilai historis dan religius yang kuat.

Geography

#

Profil Geografis Kabupaten Situbondo, Jawa Timur

Kabupaten Situbondo merupakan entitas wilayah yang unik di Provinsi Jawa Timur. Secara administratif dan spasial, wilayah ini memiliki luas daratan mencapai 1.665,31 km². Meskipun secara faktual Situbondo memiliki garis pantai di utara, berdasarkan karakteristik spesifik yang ditekankan dalam konteks ini, Situbondo dipandang sebagai wilayah yang berorientasi pada konektivitas daratan di bagian tengah jalur utama transportasi timur Pulau Jawa. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan empat wilayah administratif utama: Selat Madura di utara (sebagai batas perairan), Kabupaten Banyuwangi di timur, Kabupaten Bondowoso di selatan, dan Kabupaten Probolinggo di sisi barat.

##

Topografi dan bentang Alam

Topografi Situbondo sangat heterogen, membentang dari dataran rendah hingga kawasan perbukitan yang terjal. Bagian tengah wilayah ini didominasi oleh dataran yang diapit oleh pegunungan di sisi selatan. Salah satu fitur geografis yang paling menonjol adalah keberadaan Kompleks Pegunungan Iyang dengan puncak tertingginya, Gunung Argopuro, yang memengaruhi kontur tanah di wilayah selatan. Lembah-lembah sempit terbentuk di antara lipatan perbukitan, menciptakan sistem drainase alami bagi sungai-sungai kecil yang mengalir menuju pesisir. Struktur tanahnya sebagian besar terdiri dari asosiasi aluvial dan regosol yang terbentuk dari aktivitas vulkanik masa lampau.

##

Karakteristik Iklim dan Cuaca

Situbondo dikenal sebagai salah satu wilayah dengan suhu udara tertinggi di Jawa Timur. Terletak pada koordinat antara 7°35′–7°44′ Lintang Selatan dan 113°41′–114°42′ Bujur Timur, wilayah ini memiliki iklim tropis kering (Aw berdasarkan klasifikasi Köppen). Musim kemarau di Situbondo cenderung berlangsung lebih lama dibandingkan wilayah Jawa Timur lainnya, yang dipengaruhi oleh angin muson timur yang bersifat kering. Curah hujan tahunan berkisar antara 1.000 hingga 1.500 mm, terkonsentrasi pada bulan Desember hingga Maret. Fenomena angin "Gending" yang bersifat panas dan kering sering kali melintasi wilayah ini pada puncak musim kemarau.

##

Sumber Daya Alam dan Ekologi

Potensi sumber daya alam Situbondo sangat bertumpu pada sektor pertanian dan kehutanan. Lahan pertanian di dataran tengah dimanfaatkan secara intensif untuk budidaya tebu, yang didukung oleh keberadaan pabrik gula bersejarah di wilayah tersebut. Selain tebu, tembakau merupakan komoditas unggulan yang tumbuh subur di lahan kering dan lereng perbukitan. Di sektor kehutanan, wilayah ini memiliki zona hutan jati yang luas serta ekosistem hutan hujan tropis pegunungan di lereng Argopuro.

##

Biodiversitas dan Zona Ekologis

Secara ekologis, Situbondo memiliki keragaman hayati yang tinggi, terutama dengan adanya Taman Nasional Baluran di ujung timur. Wilayah ini sering dijuluki sebagai "Little Africa in Java" karena bentang alam savananya yang khas, yang menjadi habitat bagi banteng Jawa (Bos javanicus), rusa, dan berbagai spesies burung endemik. Zona ekologis ini menunjukkan transisi vegetasi dari hutan pantai menuju savana terbuka dan hutan pegunungan, menciptakan gradasi biodiversitas yang langka di Pulau Jawa. Wilayah ini berfungsi sebagai koridor penting bagi konservasi satwa liar di bagian paling timur provinsi.

Culture

#

Kekayaan Budaya Situbondo: Harmoni Pesisir dan Tradisi Madura

Situbondo, sebuah kabupaten strategis di wilayah "Tapal Kuda" Jawa Timur, memiliki identitas budaya yang unik. Meskipun secara administratif berada di Jawa Timur, pengaruh budaya Madura sangat dominan di sini, menciptakan perpaduan tradisi yang khas dan berkarakter kuat.

##

Tradisi dan Upacara Adat

Salah satu tradisi paling ikonik di Situbondo adalah Petik Laut, khususnya yang dirayakan secara besar-besaran di Desa Muncar atau wilayah pesisir seperti Panarukan. Ritual ini merupakan bentuk syukur kepada Tuhan atas hasil laut yang melimpah. Masyarakat menghias kapal dengan ornamen warna-warni dan melarung sesaji ke tengah laut. Selain itu, terdapat tradisi Ojung, yaitu seni ketangkasan bela diri di mana dua orang pria saling mencambuk punggung lawan menggunakan rotan. Tradisi ini biasanya digelar untuk memohon hujan (ritual tiban) atau sebagai bagian dari bersih desa di wilayah perbukitan.

##

Kesenian dan Seni Pertunjukan

Seni pertunjukan Situbondo sangat dipengaruhi oleh etnis Madura. Landhung adalah salah satu tarian khas setempat yang menggambarkan kegagahan prajurit. Selain itu, Loddrok (Ludruk versi Madura) sering dipentaskan dalam acara hajatan warga dengan dialog yang jenaka dan penuh kritik sosial. Situbondo juga dikenal dengan kesenian Can-Macanan Kadduk, sebuah pertunjukan menyerupai barongsai namun menggunakan kostum harimau yang terbuat dari karung goni atau rafia, biasanya diiringi musik perkusi yang dinamis untuk mengarak pengantin khitan.

##

Kuliner Khas dan Cita Rasa Lokal

Kuliner Situbondo menawarkan kelezatan yang spesifik. Nasi Sodu adalah hidangan paling autentik, terdiri dari nasi yang disiram kuah santan dengan lauk potongan ikan tongkol dan bumbu kuning yang gurih. Selain itu, Tajin Palappa (bubur dengan bumbu kacang khas) dan Rujak Dhulit menjadi kudapan favorit masyarakat setempat. Kerupuk Ikan khas Situbondo juga menjadi komoditas unggulan karena kualitas rasa ikannya yang sangat tajam.

##

Bahasa dan Dialek

Mayoritas penduduk Situbondo menggunakan Bahasa Madura dialek Situbondo sebagai bahasa sehari-hari. Dialek ini memiliki intonasi yang cenderung lebih halus dibandingkan dialek Bangkalan, namun tetap memiliki penekanan konsonan yang tegas. Penggunaan kata "Ebhu" untuk ibu dan "Eppa" untuk ayah tetap terjaga, menunjukkan penghormatan yang tinggi terhadap struktur keluarga.

##

Tekstil dan Pakaian Tradisional

Kabupaten ini memiliki kebanggaan berupa Batik khas Situbondo yang dikenal dengan motif biota lautnya. Berbeda dengan batik pedalaman Jawa, motif batik Situbondo banyak mengeksplorasi gambar kerang, ikan, dan terumbu karang yang mencerminkan kekayaan bahari. Warna-warna yang digunakan biasanya cerah dan berani. Dalam acara adat, pria sering mengenakan baju Pesa'an (baju hitam longgar) dengan kaos garis merah putih di dalamnya, yang dipadukan dengan Odhink (penutup kepala khas).

##

Praktik Keagamaan dan Festival

Kehidupan religius di Situbondo sangat kental dengan tradisi pesantren. Festival keagamaan seperti Grebeg Maulud dirayakan dengan sangat meriah melalui pawai gunungan hasil bumi. Sinergi antara kearifan lokal dan nilai-nilai Islam menjadikan Situbondo sebagai wilayah yang rukun, di mana ritual adat dan ibadah agama berjalan beriringan membentuk fondasi sosial yang kokoh.

Tourism

#

Menjelajahi Pesona Situbondo: Permata Pesisir Utara Jawa Timur

Situbondo, sebuah kabupaten dengan luas wilayah 1.665,31 km² yang terletak di posisi strategis "tengah" jalur Pantura, menawarkan pesona wisata yang autentik. Berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Bondowoso di selatan, Probolinggo di barat, dan Banyuwangi di timur, wilayah ini merupakan perpaduan harmonis antara garis pantai yang panjang dan gugusan pegunungan yang megah.

##

Eksotisme Alam: Dari Savana Afrika hingga Pantai Kristal

Daya tarik utama Situbondo terletak pada Taman Nasional Baluran yang sering dijuluki "Africa van Java". Pengunjung dapat menyaksikan kawanan rusa, kerbau liar, dan merak di hamparan Savana Bekol dengan latar belakang Gunung Baluran yang ikonik. Tak jauh dari savana, terdapat Pantai Bama yang tenang dengan hutan bakaunya yang rimbun. Selain Baluran, Pantai Pasir Putih menjadi destinasi wajib dengan topografi pantainya yang melengkung dan air laut yang jernih, sangat ideal untuk snorkeling atau sekadar menikmati matahari terbenam dari atas perahu layar tradisional.

##

Warisan Budaya dan Jejak Sejarah

Secara kultural, Situbondo memiliki akar tradisi Madura dan Jawa yang kuat. Salah satu situs bersejarah yang menonjol adalah PG (Pabrik Gula) Olean yang masih mempertahankan nuansa kolonial. Wisatawan dapat merasakan pengalaman unik menaiki lori (kereta tebu) tua yang melintasi perkebunan. Selain itu, terdapat situs religi seperti Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo yang menjadi pusat peradaban Islam di wilayah timur Jawa, mencerminkan keramahtamahan lokal yang kental dengan nilai-nilai religius.

##

Petualangan dan Aktivitas Luar Ruangan

Bagi pencinta petualangan, pendakian ke Puncak Rengganis di Pegunungan Argopuro menawarkan tantangan fisik sekaligus situs arkeologi berupa reruntuhan pura di atas awan. Di sisi lain, Waduk Bajulmati yang berbatasan dengan Banyuwangi menyuguhkan pemandangan gugusan pulau kecil yang menyerupai Raja Ampat. Aktivitas bahari juga sangat hidup di Situbondo; pengunjung dapat mencoba memancing di tengah laut atau diving di spot-spot terumbu karang yang masih alami.

##

Wisata Kuliner dan Keramahtamahan Lokal

Perjalanan ke Situbondo belum lengkap tanpa mencicipi Nasi Sodu, hidangan khas berupa nasi dengan kuah santan labu kuning dan ikan tongkol bumbu merah. Untuk buah tangan, Rengginang Ikan dan olahan mangga manalagi Situbondo yang manis adalah pilihan utama. Mengenai akomodasi, tersedia berbagai pilihan mulai dari resort tepi pantai di area Pasir Putih hingga penginapan sederhana namun bersih di pusat kota yang menawarkan keramahan khas masyarakat pesisir.

##

Waktu Terbaik untuk Berkunjung

Waktu terbaik untuk mengunjungi Situbondo adalah saat musim kemarau (Mei hingga September). Pada periode ini, Savana Bekol akan menguning sempurna menciptakan atmosfer ala Afrika yang maksimal, dan jarak pandang di bawah laut akan sangat jernih untuk aktivitas menyelam. Dengan aksesibilitas yang mudah melalui jalur darat utama Jawa Timur, Situbondo adalah destinasi yang menawarkan paket lengkap antara petualangan liar dan kedamaian pesisir.

Economy

#

Profil Ekonomi Kabupaten Situbondo: Strategi Agrowisata dan Jalur Logistik Timur

Kabupaten Situbondo, yang terletak di posisi strategis bagian timur Pulau Jawa, memiliki karakteristik ekonomi yang unik meskipun secara geografis dikelilingi oleh daratan tetangga seperti Probolinggo, Bondowoso, dan Banyuwangi. Dengan luas wilayah 1.665,31 km², Situbondo berfungsi sebagai titik simpul transportasi darat yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Bali.

##

Sektor Pertanian dan Perikanan

Meskipun berada di daratan utama, Situbondo memiliki garis pantai yang panjang di sisi utara, menjadikannya salah satu pusat ekonomi maritim terpenting di Jawa Timur. Sektor perikanan, khususnya budidaya udang vaname, merupakan komoditas ekspor unggulan. Kabupaten ini dikenal memiliki produktivitas tambak udang yang tinggi dengan penerapan teknologi intensif. Selain itu, di sektor agraria, Situbondo adalah penghasil mangga manalagi dan gadung yang telah menembus pasar nasional. Perkebunan tebu juga mendominasi penggunaan lahan, yang didukung oleh keberadaan pabrik gula legendaris seperti PG Olean dan PG Pandjie.

##

Industri dan Manufaktur

Sektor industri di Situbondo didominasi oleh pengolahan hasil pertanian dan sumber daya laut. Industri galangan kapal di wilayah pesisir memberikan kontribusi signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja teknis. Selain itu, sektor manufaktur skala menengah mulai berkembang di sepanjang jalur Pantura, memanfaatkan kemudahan akses distribusi barang. Keberadaan Pelabuhan Kalbut dan Pelabuhan Jangkar memperkuat posisi Situbondo sebagai hub logistik untuk distribusi komoditas ke wilayah kepulauan di Madura dan Indonesia Timur.

##

Kerajinan Tradisional dan Produk Lokal

Kekuatan ekonomi kerakyatan Situbondo terletak pada kerajinan khas yang memiliki nilai seni tinggi. Batik khas Situbondo, yang dikenal dengan motif biota laut seperti kerang dan ikan, menjadi produk unggulan UMKM yang terus didorong pemasarannya. Selain itu, kerajinan berbahan dasar kerang dari Pasir Putih telah lama menjadi sumber pendapatan utama bagi penduduk lokal, menciptakan rantai ekonomi kreatif yang berkelanjutan bagi para pengrajin desa.

##

Pariwisata dan Infrastruktur

Sektor pariwisata menjadi penggerak ekonomi baru melalui konsep agrowisata dan wisata alam. Taman Nasional Baluran, yang sering dijuluki "Africa van Java", adalah aset ekonomi vital yang menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Infrastruktur transportasi, terutama pembangunan Tol Probolinggo-Banyuwangi (Probowangi) yang melintasi Situbondo, diprediksi akan mengubah peta ekonomi daerah secara drastis. Proyek ini diharapkan dapat menurunkan biaya logistik dan mempercepat pertumbuhan sektor jasa, perhotelan, dan kuliner di sepanjang koridor utama.

Dengan kombinasi antara kekuatan sektor primer (pertanian dan perikanan) serta peningkatan infrastruktur konektivitas, Kabupaten Situbondo bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi yang mandiri di wilayah timur Jawa Timur. Tren ketenagakerjaan kini mulai bergeser dari sektor tradisional menuju sektor jasa dan pengolahan nilai tambah.

Demographics

#

Profil Demografis Kabupaten Situbondo, Jawa Timur

Kabupaten Situbondo, yang terletak di posisi tengah jalur pantura Jawa Timur dengan luas wilayah 1.665,31 km², memiliki profil demografis yang unik dan dipengaruhi oleh letak geografisnya yang memanjang. Meskipun secara administratif memiliki garis pantai yang sangat panjang, karakter wilayah tengahnya didominasi oleh perbukitan dan lahan kering yang membentuk pola pemukiman penduduk yang khas.

Jumlah, Kepadatan, dan Distribusi Penduduk

Berdasarkan data terbaru, jumlah penduduk Situbondo telah melampaui angka 685.000 jiwa. Kepadatan penduduk rata-rata berkisar di angka 410 jiwa per km², namun distribusinya tidak merata. Konsentrasi penduduk terbesar berada di pusat pemerintahan (Kecamatan Situbondo) serta wilayah-wilayah yang bersinggungan langsung dengan empat wilayah tetangganya, yakni Probolinggo di barat, Bondowoso di selatan, serta Banyuwangi di timur. Wilayah pesisir utara cenderung lebih padat dibandingkan wilayah pedalaman di sektor tengah-selatan.

Komposisi Etnis dan Budaya

Karakteristik unik Situbondo terletak pada percampuran budaya "Pendalungan". Mayoritas penduduknya berasal dari suku Madura (lebih dari 70%) dan suku Jawa, yang menciptakan dialek bahasa Madura yang khas Situbondo. Keberagaman ini melahirkan sinkretisme budaya yang sangat kental dengan nilai-nilai religiusitas Islam, mengingat Situbondo dikenal sebagai "Kota Santri" dengan jaringan pondok pesantren yang luas dan berpengaruh besar terhadap struktur sosial masyarakat.

Struktur Usia dan Pendidikan

Secara demografis, Situbondo memiliki struktur penduduk muda dengan bentuk piramida ekspansif. Kelompok usia produktif (15-64 tahun) mendominasi lebih dari 65% total populasi. Dalam hal pendidikan, angka melek huruf telah mencapai lebih dari 90%, meskipun tantangan besar masih ada pada rata-rata lama sekolah. Pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan partisipasi pendidikan tinggi untuk menggeser ketergantungan ekonomi dari sektor agraris ke sektor jasa dan industri.

Dinamika Urbanisasi dan Migrasi

Pola urbanisasi di Situbondo bersifat linier, mengikuti alur jalan raya nasional. Dinamika rural-urban terlihat dari pergeseran tenaga kerja muda dari sektor pertanian ke sektor perdagangan di pusat kota. Terkait migrasi, terdapat pola migrasi sirkuler yang tinggi menuju Bali dan Surabaya untuk mencari peluang ekonomi, namun keterikatan kultural yang kuat terhadap tanah kelahiran membuat arus balik (remitansi) menjadi faktor penting dalam penggerak ekonomi lokal. Karakteristik ini mempertegas posisi Situbondo sebagai wilayah transisi yang dinamis di koridor timur Pulau Jawa.

💡 Fakta Unik

  • 1.Wilayah ini merupakan lokasi penandatanganan Piagam Sarusa pada tahun 1205 Masehi yang menandai pemberian status swatantra oleh Raja Kertajaya dari Kerajaan Kediri.
  • 2.Kesenian tradisional Jaranan Turonggo Yakso yang menggambarkan kemenangan manusia melawan raksasa lahir dan berkembang dari wilayah pegunungan di sisi barat daerah ini.
  • 3.Geografi daerah ini didominasi oleh perbukitan karst dan Pegunungan Wilis di bagian utara, serta berbatasan langsung dengan Samudra Hindia di sisi selatannya.
  • 4.Daerah ini dikenal luas sebagai penghasil kerajinan marmer terbesar di Indonesia yang produknya telah diekspor hingga ke mancanegara.

Destinasi di Situbondo

Semua Destinasi

Tempat Lainnya di Jawa Timur

Lokasi Serupa

Panduan Perjalanan Terkait

Memuat panduan terkait...

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Uji Pengetahuanmu!

Apakah kamu bisa menebak Situbondo dari siluet petanya?