Situs Sejarah

Candi Ijo

di Sleman, Yogyakarta

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Candi Ijo: Kemegahan Spiritual di Titik Tertinggi Yogyakarta

Candi Ijo bukan sekadar struktur batu kuno; ia adalah simbol pencapaian arsitektur dan spiritualitas masyarakat Jawa Kuno yang berdiri kokoh di atas Bukit Penambangan. Terletak di Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, situs ini memegang predikat unik sebagai candi dengan lokasi tertinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni berada pada ketinggian sekitar 410 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dari pelataran candi ini, bentang alam Yogyakarta, mulai dari landasan pacu Bandara Adisutjipto hingga kokohnya Gunung Merapi, terlihat dengan jelas, memberikan dimensi ruang yang menghubungkan bumi dengan langit.

#

Asal-usul Historis dan Periodisasi Pembangunan

Secara kronologis, Candi Ijo diperkirakan dibangun antara abad ke-9 hingga ke-10 Masehi, pada masa kejayaan Kerajaan Mataram Kuno (Mataram Hindu). Pembangunannya bertepatan dengan periode pemerintahan Rakai Pikatan dan Rakai Kayuwangi. Nama "Ijo" sendiri bukanlah nama asli dari masa lampau, melainkan merujuk pada lokasinya yang berada di Bukit Hijau atau "Gumuk Ijo". Dalam Prasasti Poh yang berangka tahun 906 Masehi, terdapat penyebutan kata "anak wanua i ijo", yang secara harfiah berarti "anak desa di Ijo". Hal ini memperkuat bukti bahwa nama Ijo telah melekat pada wilayah ini sejak lebih dari seribu tahun yang lalu.

Situs ini merupakan kompleks percandian bercorak Hindu-Siwa. Pemilihan lokasi di atas buit bukanlah tanpa alasan. Dalam kosmologi Hindu, gunung dianggap sebagai replika Meru, tempat bersemayamnya para dewa. Membangun tempat suci di tempat yang tinggi adalah upaya manusia untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta dan kekuatan kosmik.

#

Arsitektur dan Tata Ruang Kompleks Candi

Kompleks Candi Ijo memiliki keunikan pada tata letaknya yang menggunakan sistem teras berundak (punden berundak). Terdapat 11 teras yang tersusun dari barat ke timur, dengan tingkat kesucian yang semakin meningkat seiring bertambahnya ketinggian teras. Pola ini menunjukkan adanya akulturasi antara kebudayaan asli nusantara (megalitikum) dengan pengaruh arsitektur Hindu dari India.

Pusat aktivitas religius berada pada teras ke-11 atau teras tertinggi, yang merupakan lahan paling luas. Di sini berdiri satu candi induk yang didampingi oleh tiga candi perwara (pendamping).

1. Candi Induk: Menghadap ke arah barat, candi ini memiliki satu ruangan utama (garbagriha). Di dalamnya terdapat Lingga dan Yoni yang berukuran cukup besar, melambangkan penyatuan Dewa Siwa dan Dewi Parwati sebagai simbol kesuburan dan penciptaan alam semesta.

2. Candi Perwara: Ketiga candi ini berdiri di depan candi induk dan menghadap ke timur. Candi perwara di bagian tengah memiliki fungsi unik karena di dalamnya terdapat arca lembu Nandi, kendaraan (wahana) Dewa Siwa. Kehadiran Nandi secara spesifik menegaskan bahwa kompleks ini adalah tempat pemujaan utama bagi pengikut Siwa.

Secara teknis, konstruksi candi menggunakan batu andesit yang dipahat dengan presisi. Pada bagian tubuh candi, pengunjung dapat menemukan relief-relief yang menggambarkan makhluk kahyangan, seperti Gana (makhluk kerdil penyangga) dan tokoh-tokoh surgawi yang terbang di antara awan. Salah satu ciri khas Candi Ijo adalah adanya motif Kala-Makara pada ambang pintu masuk yang tidak memiliki rahang bawah, sebuah gaya transisi arsitektur Jawa Tengah menuju Jawa Timur.

#

Makna Religius dan Penemuan Unik

Sebagai situs suci, Candi Ijo menyimpan artefak yang memberikan petunjuk mendalam mengenai kehidupan religius masa itu. Salah satu temuan paling signifikan adalah prasasti pendek yang dipahat pada batu di salah satu ruangan candi yang berbunyi "Guywan" atau "Bhuyutan", yang berarti tempat pertapaan atau tempat suci.

Selain itu, terdapat sebuah prasasti yang terdiri dari dua baris tulisan di atas pintu masuk candi yang berbunyi "Fvavam" (dibaca: Pwavwam). Meskipun maknanya masih menjadi perdebatan di kalangan epigraf, tulisan ini diduga merupakan mantra atau kata suci yang digunakan dalam ritual penyucian sebelum memasuki area utama. Keunikan lainnya adalah adanya relief yang menggambarkan pasangan pria dan wanita yang sedang terbang, yang ditafsirkan sebagai simbolisme keharmonisan antara unsur maskulin dan feminin dalam alam semesta.

#

Signifikansi Sejarah dan Hubungan dengan Situs Lain

Candi Ijo tidak berdiri sendiri secara terisolasi. Keberadaannya berkaitan erat dengan situs-situs di sekitarnya seperti Candi Ratu Boko dan Candi Barong. Secara geografis dan fungsional, kawasan perbukitan ini tampaknya berfungsi sebagai kawasan religius dan pertahanan bagi Kerajaan Mataram Kuno. Jika Candi Prambanan di dataran rendah berfungsi sebagai pusat upacara kenegaraan, maka Candi Ijo di perbukitan kemungkinan besar berfungsi sebagai tempat meditasi dan pemujaan yang lebih bersifat esoteris atau khusus bagi kaum rohaniwan.

#

Upaya Pelestarian dan Restorasi

Proses penemuan kembali Candi Ijo terjadi pada awal abad ke-20 oleh para arkeolog zaman kolonial Belanda. Namun, upaya restorasi besar-besaran baru dilakukan secara intensif oleh pemerintah Indonesia melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X. Tantangan utama dalam pemugaran Candi Ijo adalah kondisi tanah perbukitan yang rawan longsor serta banyaknya batu candi yang hilang atau tertimbun tanah selama berabad-abad.

Hingga saat ini, pemugaran telah berhasil mengembalikan kemegahan teras utama. Beberapa teras di bawahnya masih berupa reruntuhan batu yang tertata (anastilosis), namun tetap memberikan gambaran betapa megahnya kompleks ini pada masa silam. Status Candi Ijo kini dilindungi secara ketat sebagai Cagar Budaya, dan pengelolaannya diseimbangkan antara fungsi konservasi sejarah dengan pemanfaatan pariwisata edukatif.

#

Kesimpulan

Candi Ijo adalah mutiara sejarah yang menawarkan lebih dari sekadar pemandangan matahari terbenam yang indah. Ia adalah saksi bisu kejayaan peradaban Jawa kuno yang mampu menyatukan kecanggihan teknik bangunan dengan kedalaman filosofi spiritual. Melalui deretan undakan batunya, Candi Ijo bercerita tentang penghormatan manusia kepada alam dan sang pencipta, menjadikannya salah satu warisan budaya paling berharga yang tetap berdiri tegak menantang waktu di puncak tertinggi Sleman.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Candi Ijo, Sambirejo, Prambanan, Sleman
entrance fee
Rp 7.000
opening hours
Setiap hari, 07:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Sleman

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Sleman

Pelajari lebih lanjut tentang Sleman dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Sleman