Situs Sejarah

Villa Yuliana

di Soppeng, Sulawesi Selatan

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Kolonial di Jantung Bumi Latemmamala: Sejarah dan Kemegahan Villa Yuliana

Berdiri megah di atas perbukitan kecil di pusat Kota Watansoppeng, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, Villa Yuliana bukan sekadar bangunan tua yang eksotis. Bangunan ini merupakan saksi bisu transisi kekuasaan dari kerajaan lokal menuju administrasi kolonial Hindia Belanda di tanah Bugis. Dikenal dengan arsitekturnya yang mencolok dan warna kuning yang mendominasi, Villa Yuliana adalah simbol pertemuan dua peradaban yang hingga kini masih terawat dengan apik.

#

Asal-Usul dan Periode Pembangunan

Villa Yuliana dibangun pada tahun 1905 oleh pemerintah kolonial Belanda. Pembangunan gedung ini diprakarsai oleh C.A. Kroesen, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Pemerintah Hindia Belanda di Sulawesi (Gouverneur van Celebes en Onderhoorigheden). Nama "Yuliana" sendiri diambil dari nama calon ratu Kerajaan Belanda saat itu, yakni Putri Juliana (Juliana Louise Marie Wilhelmina van Oranje-Nassau).

Tujuan awal pembangunan villa ini adalah sebagai hadiah dari pemerintah kolonial untuk menyambut kedatangan Putri Juliana ke Sulawesi Selatan. Namun, catatan sejarah menyebutkan bahwa sang putri sendiri tidak pernah menginjakkan kaki di bangunan ini karena alasan keamanan dan kondisi politik pada masa itu. Meskipun demikian, nama Yuliana tetap melekat dan bangunan ini dialihfungsikan menjadi rumah peristirahatan bagi para pejabat tinggi Belanda (Indische Woonhuizen) yang bertugas atau berkunjung ke wilayah Soppeng.

#

Keunikan Arsitektur: Perpaduan Indische Empire dan Lokal

Secara arsitektural, Villa Yuliana merupakan contoh brilian dari gaya Indische Empire Style yang populer di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Gaya ini merupakan adaptasi arsitektur Eropa terhadap iklim tropis Nusantara. Namun, yang membuat Villa Yuliana unik adalah adanya sentuhan lokal Bugis yang disematkan dalam konstruksinya.

Bangunan ini memiliki struktur dua lantai dengan atap yang sangat curam, menyerupai gaya rumah tradisional Bugis namun dengan material seng dan rangka kayu jati yang kokoh. Dindingnya tebal dengan jendela-jendela besar khas bangunan Belanda untuk memastikan sirkulasi udara tetap lancar di tengah cuaca tropis Soppeng yang lembap. Salah satu detail yang paling menonjol adalah keberadaan balkon di lantai dua yang memberikan pemandangan 360 derajat ke arah Kota Watansoppeng, termasuk pemandangan pohon-pohon besar yang menjadi habitat ribuan kelelawar (kalong), ikon dari Kabupaten Soppeng.

Konstruksi lantai dasar menggunakan ubin marmer tua, sementara lantai dua didominasi oleh kayu berkualitas tinggi. Tangga kayu yang menghubungkan kedua lantai tersebut masih asli dan menunjukkan tingkat kerajinan kayu yang sangat halus pada masanya.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Villa Yuliana tidak hanya berfungsi sebagai penginapan. Di masa lalu, gedung ini menjadi pusat pemantauan wilayah. Lokasinya yang berada di ketinggian (bukit) memungkinkan para opsir Belanda memantau pergerakan di seluruh penjuru Watansoppeng.

Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), fungsi bangunan ini berubah drastis. Villa Yuliana sempat diambil alih oleh tentara Jepang dan digunakan sebagai markas pertahanan serta pusat komunikasi. Setelah masa kemerdekaan, bangunan ini sempat telantar dan mengalami beberapa kali pergantian fungsi, termasuk sebagai rumah dinas pejabat pemerintah daerah Kabupaten Soppeng, sebelum akhirnya ditetapkan sebagai situs cagar budaya.

Satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa Villa Yuliana memiliki kembaran di Belanda. Konon, desain bangunan ini identik dengan salah satu bangunan di negeri kincir angin tersebut sebagai bentuk kerinduan para pejabat kolonial terhadap tanah air mereka.

#

Tokoh dan Kaitan dengan Kerajaan Soppeng

Keberadaan Villa Yuliana tidak lepas dari dinamika politik antara Belanda dan Kerajaan Soppeng (Datu Soppeng). Saat villa ini dibangun, pengaruh kekuasaan Belanda mulai menguat melalui perjanjian-perjanjian politik. Meskipun dibangun oleh Belanda, proses pembangunannya melibatkan tenaga kerja lokal dan mendapatkan restu dari penguasa setempat demi menjaga stabilitas hubungan diplomatik. Hal ini menunjukkan bahwa Villa Yuliana adalah titik temu antara kepentingan kolonialisme dan eksistensi monarki lokal di Sulawesi Selatan.

#

Pelestarian dan Alih Fungsi Menjadi Museum

Menyadari nilai sejarahnya yang tak ternilai, Pemerintah Kabupaten Soppeng bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sulawesi Selatan melakukan serangkaian upaya restorasi. Renovasi dilakukan dengan sangat hati-hati untuk mempertahankan keaslian material dan bentuk bangunan. Warna kuning gading dengan aksen hijau pada kusen jendela tetap dipertahankan sesuai dengan dokumentasi foto lama dari arsip Belanda.

Saat ini, Villa Yuliana telah resmi difungsikan sebagai Museum Daerah Villa Yuliana. Di dalamnya, pengunjung dapat melihat berbagai koleksi artefak sejarah, mulai dari peninggalan zaman prasejarah di Lembah Walennae, keramik-keramik kuno dari dinasti Tiongkok yang ditemukan di wilayah Soppeng, hingga atribut-atribut kebesaran Kerajaan Soppeng. Museum ini juga menyimpan foto-foto dokumentasi masa lalu yang menggambarkan perkembangan Kota Watansoppeng dari masa ke masa.

#

Makna Budaya dan Simbolisme

Bagi masyarakat Soppeng, Villa Yuliana bukan sekadar museum, melainkan identitas kota. Keberadaannya di puncak bukit di tengah kota, berdampingan dengan Masjid Raya dan dikelilingi oleh ribuan kelelawar yang bergelantungan di pohon-pohon tua, menciptakan pemandangan yang magis dan ikonik. Ada mitos lokal yang berkembang bahwa keberadaan villa ini dan kelelawar di sekitarnya adalah penjaga keseimbangan kota.

Secara simbolis, Villa Yuliana mewakili kemampuan masyarakat Soppeng dalam merawat warisan sejarah tanpa melupakan akar budaya sendiri. Bangunan ini menjadi pengingat akan masa-masa sulit kolonialisme, namun juga menjadi bukti kecemerlangan arsitektur yang mampu bertahan melintasi zaman.

#

Kesimpulan

Villa Yuliana adalah permata sejarah di Sulawesi Selatan. Dengan usia yang telah melebihi satu abad, bangunan ini tetap berdiri tegak menantang zaman. Melalui arsitekturnya yang megah, lokasinya yang strategis, dan koleksi museumnya yang edukatif, Villa Yuliana terus menjalankan perannya sebagai jembatan yang menghubungkan generasi masa kini dengan memori kolektif masa lalu Bumi Latemmamala. Mengunjungi Villa Yuliana bukan sekadar berwisata, melainkan melakukan perjalanan waktu untuk memahami betapa kompleks dan kayanya sejarah Nusantara.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Botta, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng
entrance fee
Rp 5.000 - Rp 10.000 per orang
opening hours
Senin - Sabtu, 08:00 - 16:00

Tempat Menarik Lainnya di Soppeng

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Soppeng

Pelajari lebih lanjut tentang Soppeng dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Soppeng