Kuliner Legendaris

Bubur Ayam Bunut

di Sukabumi, Jawa Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menelusuri Jejak Rasa Bubur Ayam Bunut: Legenda Kuliner dari Jantung Kota Sukabumi

Sukabumi, sebuah kota yang sejuk di kaki Gunung Gede Pangrango, tidak hanya dikenal dengan panorama alamnya yang asri, tetapi juga sebagai surga bagi para pecinta kuliner. Di antara deretan hidangan khas seperti moci dan soto, terdapat satu nama yang telah bertahta di hati masyarakat lokal maupun wisatawan selama puluhan tahun: Bubur Ayam Bunut. Lebih dari sekadar hidangan sarapan, Bubur Ayam Bunut adalah simbol identitas kuliner Sukabumi yang membawa narasi tentang ketekunan, tradisi, dan cita rasa yang tak lekang oleh waktu.

#

Sejarah dan Asal-Usul Nama Bunut

Kisah Bubur Ayam Bunut bermula pada awal tahun 1970-an. Nama "Bunut" sendiri bukanlah resep rahasia atau istilah teknis memasak, melainkan merujuk pada lokasi historis tempat warung ini pertama kali berdiri. Dahulu, kedai ini berlokasi di dekat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) R. Syamsudin, S.H., yang oleh warga lokal lebih akrab disapa dengan sebutan Rumah Sakit Bunut.

Adalah Bapak H. Ahid (Alm), sosok di balik kelezatan legendaris ini. Dimulai dari gerobak sederhana, beliau merintis usaha ini dengan konsistensi rasa yang luar biasa. Seiring berjalannya waktu, popularitasnya meledak. Pelanggan yang datang bukan lagi hanya mereka yang sedang membesuk kerabat di rumah sakit, melainkan pelancong dari luar kota yang sengaja singgah demi semangkuk kehangatan. Kini, pengelolaan Bubur Ayam Bunut telah memasuki generasi kedua, namun mereka tetap memegang teguh pakem resep asli yang diwariskan oleh sang pendiri.

#

Filosofi Tekstur dan Keunikan Rasa

Apa yang membedakan Bubur Ayam Bunut dengan bubur ayam dari daerah lain, seperti bubur gaya Jakarta atau Cirebon? Jawabannya terletak pada tekstur dan profil rasanya. Bubur Ayam Bunut dikenal memiliki tekstur yang sangat kental namun lembut, hasil dari proses pengolahan beras berkualitas tinggi yang dimasak dalam waktu lama.

Berbeda dengan bubur encer yang sering ditemukan di pinggir jalan, bubur ini memiliki kepadatan yang pas, sehingga mampu "mengikat" bumbu dan topping di atasnya. Rasa dasarnya gurih alami, berasal dari kaldu ayam asli yang dicampurkan saat proses perebusan beras. Tidak ada rasa penyedap instan yang berlebihan; semuanya terasa autentik dan bersih di lidah.

#

Komposisi Bahan dan Rahasia Dapur

Kekuatan utama Bubur Ayam Bunut terletak pada penggunaan bahan-bahan segar. Ayam yang digunakan adalah ayam kampung pilihan. Penggunaan ayam kampung memberikan kedalaman rasa pada kaldu dan tekstur serat daging yang lebih padat serta gurih dibandingkan ayam negeri.

Proses persiapannya pun masih mempertahankan tradisi. Daging ayam direbus hingga empuk, kemudian digoreng sebentar sebelum disuwir halus. Tulang-tulang ayam tidak dibuang, melainkan diolah kembali menjadi kaldu dasar yang menjadi "jiwa" dari setiap porsi bubur.

Satu komponen yang menjadi ciri khas tak terpisahkan adalah emping melinjo. Jika biasanya bubur ayam menggunakan kerupuk kanji berwarna-warni, Bubur Ayam Bunut menyajikan emping yang memberikan sentuhan rasa sedikit pahit-gurih dan renyah yang elegan. Selain itu, taburan kacang kedelai goreng, seledri yang diiris halus, dan bawang goreng yang melimpah memberikan tekstur yang kontras dengan kelembutan bubur.

#

Pengalaman menyantap Bubur Ayam Bunut belum lengkap tanpa kehadiran "pasukan" pelengkapnya. Di meja makan, pengunjung akan disuguhi piring-piring kecil berisi aneka sate-satean. Ada sate usus, sate ampela, sate hati, hingga sate telur puyuh yang dibumbui dengan bumbu kuning yang meresap hingga ke dalam.

Namun, yang paling unik dan wajib dicoba adalah "Ati Ampela Bunut" yang dimasak dengan bumbu semur manis-gurih. Selain itu, tersedia pula kroket dan martabak mini yang sering dicelupkan ke dalam bubur oleh warga lokal—sebuah kebiasaan makan unik yang menambah dimensi rasa baru. Bagi pecinta pedas, sambal hijau khas Bunut memberikan sengatan pedas yang segar tanpa menutupi rasa gurih buburnya.

#

Teknik Memasak Tradisional dan Warisan Budaya

Meskipun kini telah memiliki bangunan yang modern dan nyaman, teknik memasak di dapur Bubur Ayam Bunut tetap mempertahankan elemen tradisional. Penggunaan panci-panci besar (dandang) dan pengaturan api yang presisi adalah kunci. Beras tidak boleh gosong di dasar panci, sehingga harus diaduk dengan ritme tertentu selama berjam-jam.

Ini adalah bentuk dedikasi terhadap kualitas. Keluarga pemilik percaya bahwa kecepatan tidak boleh mengorbankan rasa. Inilah alasan mengapa meskipun banyak cabang atau tiruan yang muncul, rasa di gerai pusat tetap menjadi standar emas yang tak tergantikan. Hal ini mencerminkan nilai-nilai masyarakat Sunda di Sukabumi yang menjunjung tinggi keramahtamahan (soméah) melalui sajian makanan yang dipersiapkan dengan sepenuh hati.

#

Konteks Sosial dan Budaya Lokal

Di Sukabumi, menyantap Bubur Ayam Bunut telah menjadi ritual sosial. Pada akhir pekan, tempat ini menjadi titik temu berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari pejabat pemerintahan, pengusaha, hingga keluarga yang baru saja selesai berolahraga di Lapangan Merdeka atau kawasan Secapa.

Ada budaya "ngariung" (berkumpul) yang kental di sini. Meja-meja panjang sering kali penuh dengan tawa dan obrolan, diiringi kepulan uap panas dari mangkuk bubur. Bagi masyarakat Sukabumi yang merantau, pulang ke kampung halaman belum terasa sah jika belum mampir ke Bunut. Ini adalah bentuk nostalgia yang bisa dimakan.

#

Mengunjungi Bubur Ayam Bunut Hari Ini

Saat ini, pusat Bubur Ayam Bunut terletak di Jalan Siliwangi, Sukabumi. Tempatnya telah bertransformasi menjadi restoran yang luas dengan manajemen yang profesional, namun tetap mempertahankan suasana hangat. Menariknya, restoran ini tidak hanya menyajikan bubur ayam. Seiring perkembangan zaman, mereka memperluas menu dengan masakan Sunda lainnya seperti nasi timbel, ayam goreng, dan aneka jus buah segar, menjadikannya destinasi kuliner keluarga yang lengkap.

Namun, tetap saja, bintang utamanya adalah sang bubur. Pelayanan di sini sangat cepat, cerminan dari efisiensi kuliner modern tanpa meninggalkan akar tradisionalnya. Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau, mengingat kualitas bahan dan sejarah panjang yang menyertainya.

#

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Makanan

Bubur Ayam Bunut adalah bukti nyata bagaimana sebuah hidangan sederhana dapat berevolusi menjadi legenda yang mengharumkan nama daerah. Ia adalah perpaduan antara kualitas bahan, kesabaran dalam mengolah, dan penghormatan terhadap resep leluhur.

Bagi siapa pun yang berkunjung ke Sukabumi, menyempatkan diri duduk di kursi kayu Bubur Ayam Bunut, memesan satu porsi lengkap dengan emping dan sate usus, adalah cara terbaik untuk mengenal jiwa kota ini. Bubur ini bukan hanya tentang mengenyangkan perut, tetapi tentang merasakan sejarah dan kehangatan tradisi Jawa Barat dalam setiap suapannya. Di tengah arus modernisasi kuliner yang serba instan, Bubur Ayam Bunut tetap berdiri tegak, menjaga api dapur tetap menyala dan memastikan bahwa rasa legendaris ini akan terus dinikmati oleh generasi-generasi mendatang.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Siliwangi No. 93, Cikole, Kota Sukabumi
entrance fee
Mulai dari Rp 20.000 per porsi
opening hours
Setiap hari, 06:00 - 22:00

Tempat Menarik Lainnya di Sukabumi

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Sukabumi

Pelajari lebih lanjut tentang Sukabumi dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Sukabumi