Pusat Kebudayaan

Kampung Adat Ciptagelar

di Sukabumi, Jawa Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menjaga Marwah Alam dan Tradisi: Eksplorasi Mendalam Kampung Adat Ciptagelar

Kampung Adat Ciptagelar bukan sekadar sebuah pemukiman tradisional di lereng Gunung Halimun, Sukabumi; ia adalah episentrum peradaban Sunda Wiwitan yang masih teguh memegang teguh amanat leluhur di tengah arus modernisasi. Sebagai pusat kebudayaan yang dinamis, Ciptagelar berfungsi sebagai laboratorium hidup di mana ekologi, spiritualitas, dan teknologi tradisional berpadu harmonis. Terletak di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, kampung ini merupakan pusat dari kesatuan adat Kasepuhan Banten Kidul yang dipimpin oleh seorang Abah.

#

Filosofi Hidup dan Kemandirian Pangan

Inti dari kebudayaan Ciptagelar terletak pada penghormatan terhadap padi (pare). Bagi masyarakat Ciptagelar, padi adalah simbol kehidupan yang sakral, manifestasi dari Nyi Pohaci Sanghyang Asri. Salah satu program budaya paling krusial di sini adalah sistem pertanian organik yang mengikuti kalender astronomi tradisional (pranata mangsa).

Masyarakat dilarang keras menjual beras atau padi hasil panen mereka. Budaya ini melahirkan sistem ketahanan pangan yang luar biasa melalui ribuan leuit (lumbung padi). Aktivitas budaya utama yang bisa disaksikan adalah prosesi pemindahan padi ke dalam leuit yang dilakukan dengan penuh khidmat. Kemandirian ini bukan sekadar praktik ekonomi, melainkan program pelestarian nilai bahwa pangan adalah hak dasar yang tidak boleh dikomersialkan.

#

Ritual Adat dan Festival Tahunan: Seren Taun

Acara puncak yang menjadi magnet budaya internasional adalah Seren Taun. Ini bukan sekadar festival pariwisata, melainkan ritual syukur atas hasil panen selama setahun sekaligus permohonan doa untuk musim tanam berikutnya. Dalam Seren Taun, berbagai prosesi adat dilakukan, mulai dari Ngajaka (mengundang leluhur), Ngadiukeun (mendudukkan padi di lumbung utama), hingga puncaknya, yakni ritual penumbukan padi secara masal.

Festival ini menampilkan seluruh spektrum kesenian Sunda kuno. Ribuan orang dari berbagai daerah berkumpul, menciptakan ruang dialek budaya yang masif. Di sini, peran Ciptagelar sebagai pusat pengembangan budaya lokal terlihat jelas, di mana identitas kolektif masyarakat adat diperkuat melalui doa, tarian, dan makan bersama (ngaliwet) yang melibatkan ribuan warga dan tamu.

#

Kesenian Tradisional, Kerajinan, dan Pertunjukan

Kampung Adat Ciptagelar memelihara berbagai bentuk kesenian yang jarang ditemukan di tempat lain. Salah satu yang paling ikonik adalah Angklung Dogdog Lojor. Berbeda dengan angklung pada umumnya, Dogdog Lojor memiliki bentuk yang lebih panjang dan dimainkan dalam ritme yang lebih magis untuk mengiringi ritual pertanian.

Selain itu, pertunjukan Jipeng (perpaduan Tanji dan Topeng) serta Wayang Golek sering dipentaskan di panggung terbuka kampung. Dalam hal kerajinan, masyarakat Ciptagelar sangat mahir dalam seni anyaman bambu dan pembuatan perkakas pertanian tradisional yang ditempa di Gozali (pandai besi adat). Setiap produk kerajinan bukan hanya barang fungsional, tetapi mengandung simbolisme status sosial dan fungsi ritual tertentu. Para pemuda desa secara aktif dilibatkan dalam pembuatan kerajinan ini sebagai bagian dari regenerasi keterampilan.

#

Program Edukasi dan Keterlibatan Komunitas

Ciptagelar menjalankan sistem edukasi informal yang sangat efektif. Anak-anak di sini mendapatkan pendidikan ganda: pendidikan formal sesuai kurikulum negara dan pendidikan adat yang diajarkan langsung oleh para tetua (Baris Kolot). Program edukasi ini meliputi pengenalan etika perilaku (tata krama), pengenalan jenis-jenis tanaman obat di hutan, hingga teknik konstruksi rumah panggung tanpa paku yang tahan gempa.

Keterlibatan komunitas juga terlihat dalam sistem Gotong Royong yang disebut Rerepongan. Dalam membangun rumah atau infrastruktur desa, seluruh warga terlibat tanpa upah uang, melainkan sistem timbal balik tenaga. Program ini menjaga kohesi sosial tetap kuat dan memastikan bahwa pengetahuan teknis tradisional berpindah dari generasi tua ke generasi muda secara lisan dan praktik langsung.

#

Modernitas dalam Bingkai Tradisi: Ciptagelar TV dan Radio

Salah satu keunikan yang membedakan Ciptagelar dari kampung adat lainnya adalah pemanfaatan teknologi komunikasi. Di bawah kepemimpinan Abah Ugi Sugriana Rakasiwi, Ciptagelar memiliki stasiun televisi komunitas (Ciptagelar TV) dan radio komunitas.

Ini adalah program inovatif dalam pelestarian warisan budaya. Melalui media ini, pesan-pesan adat, jadwal ritual, hingga konten edukasi pertanian disiarkan ke seluruh penjuru desa. Teknologi tidak dianggap sebagai ancaman, melainkan alat untuk memperkuat jangkauan budaya. Ini menunjukkan bahwa Ciptagelar adalah pusat kebudayaan yang adaptif namun tetap memiliki filter ideologis yang kuat terhadap pengaruh luar yang merusak.

#

Arsitektur dan Pelestarian Warisan Budaya

Secara fisik, Ciptagelar adalah museum arsitektur terbuka. Seluruh bangunan diwajibkan menggunakan bahan alami: atap kiray atau ijuk, dinding bambu (bilik), dan struktur kayu dengan fondasi batu umpak. Desain rumah panggung ini memiliki filosofi "tidak menginjak bumi secara langsung" sebagai bentuk penghormatan.

Upaya pelestarian warisan budaya di sini juga mencakup perlindungan hutan tutupan. Masyarakat dilarang menebang pohon di area tertentu yang dianggap sakral (Leuweung Titipan). Peran Ciptagelar dalam pengembangan budaya lokal sangat krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem Gunung Halimun. Mereka membuktikan bahwa kearifan lokal adalah solusi nyata terhadap krisis lingkungan global.

#

Peran Ciptagelar dalam Pembangunan Budaya Lokal

Sebagai pusat kebudayaan, Ciptagelar menjadi titik referensi bagi peneliti, sosiolog, dan budayawan dari seluruh dunia. Namun, peran utamanya tetap bagi masyarakat lokal. Ciptagelar memberikan rasa bangga akan identitas Sunda yang murni. Di tengah gempuran budaya pop, Ciptagelar menawarkan alternatif gaya hidup yang tenang, mandiri, dan bermartabat.

Pemerintah Kabupaten Sukabumi dan Provinsi Jawa Barat mengakui Ciptagelar sebagai aset budaya tak benda yang sangat berharga. Pengembangan pariwisata di sini pun dikelola dengan sistem "wisata budaya yang bertanggung jawab", di mana tamu harus mengikuti aturan adat yang berlaku, seperti berpakaian sopan (menggunakan iket kepala bagi laki-laki dan kain bagi perempuan pada acara tertentu) serta menghormati larangan-larangan adat.

#

Penutup: Warisan untuk Masa Depan

Kampung Adat Ciptagelar menunjukkan bahwa kebudayaan bukanlah sesuatu yang statis atau sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah entitas yang hidup, bernapas, dan berevolusi. Melalui program-program seperti Seren Taun, kemandirian pangan melalui leuit, hingga pemanfaatan media digital komunitas, Ciptagelar berhasil menjaga marwah tradisi di era global.

Bagi siapa pun yang berkunjung, Ciptagelar menawarkan lebih dari sekadar pemandangan indah; ia menawarkan pelajaran tentang bagaimana manusia seharusnya berinteraksi dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Sebagai pusat kebudayaan, Ciptagelar tetap menjadi mercusuar bagi siapa saja yang ingin kembali menemukan akar jati diri Sunda yang luhur dan bersahaja.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Sirnaresmi, Cisolok, Kabupaten Sukabumi
entrance fee
Donasi sukarela
opening hours
24 Jam (izin kepada pemangku adat)

Tempat Menarik Lainnya di Sukabumi

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Sukabumi

Pelajari lebih lanjut tentang Sukabumi dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Sukabumi