Pusat Kebudayaan

Kampung Adat Tarung

di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Arsitektur Berjiwa: Simbolisme Rumah Adat Sumba

Inti dari pusat kebudayaan ini terletak pada deretan Uma Kalada (rumah besar) yang memiliki atap menara tinggi menjulang. Struktur bangunan ini bukan sekadar estetika, melainkan representasi kosmologi Marapu. Setiap rumah terbagi menjadi tiga bagian: kolong rumah untuk hewan ternak (simbol dunia bawah), bagian tengah untuk aktivitas manusia (dunia tengah), dan menara sebagai tempat persemayaman leluhur serta penyimpanan benda pusaka (dunia atas).

Program pelestarian arsitektur di Tarung melibatkan transfer pengetahuan antargenerasi dalam teknik konstruksi tanpa paku. Wisatawan dan peneliti dapat belajar bagaimana bambu, kayu kadimbil, dan alang-alang dirangkai menjadi struktur yang tahan gempa. Keunikan utama Tarung adalah keberadaan batu-batu kubur megalitik yang tersebar di pelataran kampung, yang hingga kini masih digunakan dalam upacara pemakaman adat, menjadikan kampung ini sebagai museum hidup yang autentik.

Aktivitas Budaya dan Program Edukasi

Sebagai pusat kebudayaan, Kampung Adat Tarung menawarkan berbagai program edukasi yang terstruktur bagi pengunjung dan generasi muda setempat. Salah satu program unggulannya adalah lokakarya Pahikung dan Lambaleko.

1. Seni Tenun Ikat Sumba: Pengunjung dapat mengikuti proses pembuatan kain tenun dari hulu ke hilir, mulai dari memintal kapas kapas, proses pewarnaan alami menggunakan akar mengkudu (kombu) dan nila (nila), hingga teknik menenun yang rumit. Motif-motif yang dihasilkan di Tarung, seperti motif kuda, ayam, dan pohon kehidupan (Andung), diajarkan beserta makna filosofis di baliknya.

2. Literasi Marapu: Program ini ditujukan untuk menjelaskan sistem kepercayaan lokal kepada dunia luar. Para tetua adat atau Rato berperan sebagai narasumber utama yang menjelaskan tentang tata cara persembahan, pembacaan hati ayam untuk meramal nasib, dan pentingnya menjaga harmoni dengan alam.

Kesenian Tradisional dan Pertunjukan

Kehidupan di Kampung Adat Tarung selalu diiringi oleh ritme musik dan gerak tari. Pertunjukan seni di sini dilakukan bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan bagian dari ritual.

  • Tari Woleka: Tarian penyambutan yang dinamis, diiringi oleh tabuhan gong dan tambur Sumba. Penari pria melambangkan ketangkasan prajurit, sementara penari wanita menunjukkan keanggunan.
  • Pajura (Tinju Tradisional): Dalam momen-momen tertentu, Tarung menjadi saksi ketangkasan pria Sumba dalam Pajura. Ini adalah permainan adu fisik yang bersifat ritual, yang biasanya dilakukan menjelang musim tanam sebagai bentuk permohonan kesuburan tanah.
  • Musik Jungga: Instrumen musik petik tradisional Sumba yang sering dimainkan di teras rumah saat petang, menyanyikan syair-syair tentang sejarah leluhur dan nasihat kehidupan.

Peristiwa Budaya: Wulla Poddu

Puncak dari seluruh aktivitas kebudayaan di Kampung Adat Tarung adalah festival Wulla Poddu (Bulan Suci/Bulan Pamali). Selama satu bulan penuh, biasanya pada bulan Oktober atau November, kampung ini bertransformasi menjadi pusat ritual paling sakral di Sumba Barat.

Selama Wulla Poddu, berlaku berbagai pantangan atau tabu bagi penduduk, seperti larangan mengadakan pesta, larangan menangisi orang mati, hingga larangan berburu hewan tertentu. Rangkaian kegiatannya meliputi ritual perburuan babi hutan, di mana hasil buruan akan menjadi pertanda bagi hasil panen di tahun mendatang. Festival ini adalah daya tarik utama yang menunjukkan betapa kuatnya komitmen masyarakat Tarung dalam menjaga tradisi leluhur di tengah arus modernisasi.

Kerajinan Tangan dan Ekonomi Kreatif

Selain tenun, Kampung Adat Tarung juga menjadi pusat produksi kerajinan logam dan kayu. Para perajin di sini memproduksi Parang Sumba (Katopo) dengan hulu yang diukir indah dari tanduk kerbau atau kayu jati. Parang ini bukan sekadar senjata, melainkan simbol harga diri dan status sosial pria Sumba.

Ada pula pembuatan perhiasan tradisional seperti Mamuli (perhiasan emas atau perak berbentuk rahim wanita) yang melambangkan kesuburan dan penghormatan kepada perempuan. Melalui koperasi kampung, hasil kerajinan ini dipasarkan untuk mendukung ekonomi komunitas tanpa menghilangkan nilai-nilai sakral dari benda-benda tersebut.

Pelestarian Warisan Budaya dan Peran Komunitas

Pasca kebakaran besar yang sempat melanda Kampung Tarung beberapa tahun silam, semangat gotong royong atau Gotong Royong masyarakat Sumba teruji. Pembangunan kembali kampung dilakukan dengan tetap memegang teguh aturan adat (Pemali). Hal ini membuktikan bahwa fungsi Tarung sebagai pusat kebudayaan didorong oleh ketahanan mental masyarakatnya.

Komunitas di Tarung secara aktif terlibat dalam pemetaan budaya dan pendokumentasian sejarah lisan. Mereka bekerja sama dengan pemerintah daerah Sumba Barat untuk memastikan bahwa pembangunan pariwisata tidak menggerus nilai-nilai asli. Program "Kampung Wisata Berbasis Adat" memastikan bahwa setiap wisatawan yang datang harus mengikuti protokol adat, seperti mengenakan kain sarung Sumba dan meminta izin kepada Rato sebelum memasuki area tertentu.

Peran dalam Pengembangan Budaya Lokal

Kampung Adat Tarung berfungsi sebagai "laboratorium sosial" bagi para peneliti, antropolog, dan seniman. Keberadaannya di jantung kota Waikabubak menjadikannya jembatan antara kehidupan urban dan tradisi agraris-megalitik. Tarung memberikan identitas yang kuat bagi Sumba Barat, memastikan bahwa di tengah kemajuan teknologi, masyarakat lokal tetap memiliki akar yang menghujam ke bumi.

Pusat kebudayaan ini juga menjadi sekolah alam bagi anak-anak Sumba. Setiap sore, terlihat anak-anak belajar menari atau memainkan gong di bawah bimbingan para orang tua. Ini adalah bentuk regenerasi budaya yang paling efektif, di mana tradisi tidak hanya disimpan di museum, tetapi dihidupi dalam keseharian.

Penutup: Intisari Kampung Tarung

Mengunjungi atau mempelajari Kampung Adat Tarung adalah sebuah perjalanan spiritual. Di sini, kita belajar bahwa kebudayaan bukanlah sesuatu yang statis, melainkan sesuatu yang bernapas dan beradaptasi. Melalui arsitektur yang megah, ritual Wulla Poddu yang sakral, serta keramahtamahan penduduknya yang memegang teguh ajaran Marapu, Kampung Adat Tarung berdiri tegak sebagai benteng terakhir peradaban megalitik di Nusantara. Sebagai pusat kebudayaan, Tarung tidak hanya menjaga masa lalu, tetapi juga memberikan arah bagi masa depan identitas Sumba di mata dunia.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Kelurahan Sobawawi, Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat
entrance fee
Rp 15.000 - Rp 25.000 (Donasi)
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Sumba Barat

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Sumba Barat

Pelajari lebih lanjut tentang Sumba Barat dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Sumba Barat