Situs Sejarah

Lapangan Pasola Wanokaka

di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul Historis dan Legenda Pembentukan

Sejarah Lapangan Pasola Wanokaka berakar kuat pada legenda rakyat tentang perselisihan dan rekonsiliasi. Menurut narasi lisan yang diwariskan turun-temurun, keberadaan tradisi di lapangan ini bermula dari kisah seorang pemimpin bernama Umbu Dulla di Kampung Rabar. Legenda menceritakan tentang hilangnya seorang istri petinggi yang kemudian ditemukan telah menikah lagi dengan pria dari kampung lain. Untuk menghindari pertumpahan darah yang tidak terkendali (perang saudara), disepakati sebuah ritual pengganti berupa permainan ketangkasan melempar lembing kayu (holla) sambil memacu kuda.

Secara periodisasi, sulit menentukan tahun pasti pembentukan lapangan ini secara administratif modern, namun para tetua adat (Rato) meyakini bahwa ritual di Wanokaka telah ada jauh sebelum kedatangan pengaruh kolonial Belanda di Sumba pada abad ke-19. Lapangan ini dipilih secara spesifik karena posisinya yang strategis di lembah yang subur, dikelilingi oleh perbukitan yang menampung kampung-kampung adat penyangga seperti Waigali, Prayulang, dan Lahona.

Karakteristik Lanskap dan Struktur Ruang Adat

Berbeda dengan situs sejarah di Jawa yang didominasi oleh struktur batu bata atau candi, Lapangan Pasola Wanokaka memiliki "arsitektur" berbasis lanskap alam yang sakral. Lapangan ini tidak memiliki pagar permanen yang membatasi luasnya, namun batas-batasnya ditentukan oleh garis imajiner yang dipahami secara adat.

Konstruksi sosial di sekitar lapangan ini melibatkan penempatan penonton dan peserta berdasarkan strata sosial dan asal kampung. Di sisi utara lapangan, biasanya terdapat area yang lebih tinggi yang diperuntukkan bagi para Rato (pemimpin adat) untuk melakukan pengamatan dan pembacaan tanda-tanda alam. Tanah di lapangan ini sengaja dibiarkan alami, tanpa pengerasan atau aspal, untuk menjaga koneksi langsung dengan bumi (Mother Earth) yang dalam kepercayaan Marapu harus diberikan "makan" berupa darah yang jatuh saat ritual berlangsung.

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Besar

Lapangan Pasola Wanokaka adalah saksi bisu dari ketahanan budaya Sumba terhadap arus modernisasi. Signifikansi sejarahnya terletak pada perannya sebagai mekanisme resolusi konflik tradisional. Di masa lalu, ketika ketegangan antar-klan meningkat, lapangan inilah yang menjadi tempat untuk menyalurkan energi agresif secara ritualistik dan teratur.

Peristiwa sejarah paling krusial yang terjadi di sini setiap tahunnya adalah munculnya "Nyale" (cacing laut berwarna-warni) di pantai yang berdekatan, yang kemudian diikuti dengan prosesi menuju lapangan. Jumlah dan warna Nyale yang ditemukan oleh para Rato akan menentukan "nasib" atau ramalan panen bagi masyarakat Wanokaka setahun ke depan. Jika Nyale gemuk dan sehat, maka ritual di lapangan akan berlangsung penuh sukacita karena pertanda kemakmuran.

Tokoh Penting dan Peran Rato Adat

Keberlangsungan Lapangan Pasola Wanokaka tidak lepas dari peran para tokoh adat atau Rato. Tokoh-tokoh seperti Rato dari klan Waigali memegang otoritas tertinggi dalam menentukan waktu pelaksanaan ritual berdasarkan kalender lunar (bulan gelap dan bulan terang). Para tokoh ini bertindak sebagai mediator antara dunia nyata dan dunia gaib. Di masa kolonial, para pemimpin adat di Wanokaka dikenal gigih mempertahankan integritas ritual ini meskipun otoritas Belanda saat itu sering kali merasa khawatir akan potensi kerusuhan yang dipicu oleh ribuan penunggang kuda bersenjata lembing.

Kedudukan Budaya dan Religi: Marapu dan Kesuburan

Bagi masyarakat lokal, Lapangan Pasola Wanokaka adalah "Kuil Terbuka". Dalam teologi Marapu, darah yang menetes ke tanah lapangan akibat luka para pemain Pasola bukanlah sebuah kecelakaan, melainkan pengorbanan suci. Darah tersebut diyakini akan menyuburkan tanah dan menjamin keberhasilan panen padi. Tanpa adanya ritual di lapangan ini, masyarakat percaya akan terjadi ketidakseimbangan kosmos yang berujung pada bencana kekeringan atau wabah penyakit.

Keunikan sejarah lainnya adalah adanya aturan adat "Podo", yakni masa tenang sebelum hari raya Pasola di mana warga dilarang mengenakan perhiasan mencolok, mengadakan pesta, atau memukul gong secara sembarangan. Aturan ini menjaga kesucian lapangan dan area sekitarnya hingga hari puncak tiba.

Status Konservasi dan Upaya Pelestarian

Saat ini, Lapangan Pasola Wanokaka telah ditetapkan sebagai salah satu daya tarik wisata budaya utama di Nusa Tenggara Timur. Pemerintah Kabupaten Sumba Barat bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melakukan upaya konservasi non-fisik dengan mencatatkan Pasola sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Upaya restorasi di lokasi ini lebih difokuskan pada pemeliharaan akses jalan serta pembangunan tribun penonton yang tidak mengganggu estetika tradisional dan kesakralan situs. Tantangan terbesar dalam pelestarian situs ini adalah modernisasi yang mulai merambah generasi muda Sumba, namun melalui pendidikan adat di kampung-kampung penyangga Wanokaka, nilai sejarah lapangan ini tetap terjaga kuat.

Fakta Unik Sejarah Lapangan Wanokaka

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa lembing yang digunakan dalam ritual di lapangan ini harus terbuat dari kayu khusus yang tidak boleh diruncingkan dengan logam secara berlebihan, melainkan harus sesuai dengan standar ukuran yang ditetapkan leluhur agar "adil" bagi lawan. Selain itu, sejarah mencatat bahwa Lapangan Wanokaka adalah salah satu dari sedikit tempat di dunia di mana tradisi perang kavaleri zaman besi masih dipraktikkan secara aktif dalam skala besar di abad ke-21 tanpa kehilangan esensi spiritual aslinya.

Sebagai situs sejarah, Lapangan Pasola Wanokaka bukan hanya tentang masa lalu, melainkan simbol keberlanjutan identitas manusia Sumba. Ia adalah ruang di mana sejarah, keberanian, dan pengabdian kepada leluhur menyatu dalam debu yang beterbangan dari kuku-kuku kuda sandelwood yang berlari kencang.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Kecamatan Wanokaka, Kabupaten Sumba Barat
entrance fee
Gratis (Kecuali saat festival berlangsung)
opening hours
Buka setiap hari (Puncak acara pada Februari/Maret)

Tempat Menarik Lainnya di Sumba Barat

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Sumba Barat

Pelajari lebih lanjut tentang Sumba Barat dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Sumba Barat