Situs Sejarah

Istana Dalam Loka

di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Kemegahan Istana Dalam Loka: Saksi Bisu Kejayaan Kesultanan Sumbawa

Istana Dalam Loka berdiri sebagai monumen kayu paling megah di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Terletak di pusat Kota Sumbawa Besar, bangunan ini bukan sekadar peninggalan fisik, melainkan representasi filosofis dari peradaban Islam dan kearifan lokal suku Samawa. Sebagai salah satu rumah panggung kayu terbesar di dunia, Istana Dalam Loka merangkum narasi panjang tentang kedaulatan, diplomasi, dan spiritualitas masyarakat Sumbawa.

#

Asal-Usul dan Latar Belakang Sejarah

Istana Dalam Loka, yang secara harfiah berarti "Istana Dunia", dibangun pada tahun 1885 pada masa pemerintahan Sultan Jalaluddin III (1883–1893). Pembangunan istana ini dipicu oleh kebutuhan akan pusat pemerintahan yang baru setelah istana sebelumnya, Istana Bala Balong, hangus terbakar dalam sebuah musibah kebakaran besar yang melanda kompleks kesultanan.

Sultan Jalaluddin III menginginkan sebuah struktur yang tidak hanya mampu menampung aktivitas pemerintahan, tetapi juga simbol ketahanan dan keagungan. Di bawah arahan arsitek lokal, pembangunan ini melibatkan ratusan pekerja dari berbagai penjuru wilayah Sumbawa. Pengerjaannya memakan waktu sekitar sembilan bulan, sebuah durasi yang relatif singkat mengingat skala bangunan yang masif dan kerumitan detail kayunya.

#

Arsitektur dan Filosofi Konstruksi

Keunikan utama Istana Dalam Loka terletak pada arsitektur rumah panggungnya yang murni terbuat dari kayu jati tanpa menggunakan satu pun paku besi. Seluruh sambungan bangunan menggunakan sistem pasak kayu dan pengikat alami. Istana ini ditopang oleh 99 tiang kayu jati besar, sebuah angka yang secara sengaja dipilih untuk merepresentasikan Asmaul Husna (99 nama baik Allah SWT) dalam ajaran Islam.

Struktur bangunan terdiri dari dua bangunan kembar yang menyatu, yang disebut sebagai Loka (Istana). Secara vertikal, istana ini terbagi menjadi beberapa bagian penting:

1. Lantai Utama: Digunakan sebagai ruang sidang, ruang tamu kehormatan, dan tempat tinggal keluarga sultan. Ruang utamanya, yang disebut Lantai Atas, memiliki langit-langit yang tinggi untuk sirkulasi udara yang baik, mengingat iklim Sumbawa yang cenderung panas.

2. Kamar-Kamar Khusus: Di sisi timur terdapat deretan kamar untuk putri-putri sultan, sementara sisi barat diperuntukkan bagi tamu resmi dan pejabat kesultanan.

3. Tangga Utama (Pendak): Salah satu fitur paling ikonik adalah tangga masuk yang berupa bidang miring (rampa) kayu yang lebar. Desain ini dimaksudkan agar tamu-tamu terhormat, termasuk sultan yang mungkin sedang berusia lanjut, dapat masuk dengan mudah tanpa harus melangkah tinggi.

Secara filosofis, orientasi bangunan menghadap ke arah selatan, yang secara tradisional diartikan menghadap ke arah "Bukit Tinggi" atau tempat yang dihormati, sekaligus membelakangi arah angin laut yang kencang.

#

Signifikansi Sejarah dan Tokoh Terkait

Istana Dalam Loka menjadi pusat gravitasi politik di wilayah Sunda Kecil pada akhir abad ke-19. Selama masa pemerintahan Sultan Jalaluddin III, Sumbawa memperkuat posisinya sebagai pelabuhan perdagangan penting untuk komoditas kuda, kayu sepang, dan hasil bumi lainnya.

Istana ini juga menjadi saksi transisi politik yang krusial ketika pengaruh kolonial Belanda mulai menguat di wilayah timur Nusantara. Meskipun berada di bawah tekanan politik luar, Kesultanan Sumbawa tetap mempertahankan otoritas budayanya melalui aktivitas di Dalam Loka. Tokoh-tokoh penting seperti Sultan Muhammad Kaharuddin III, yang memerintah di awal abad ke-20, juga menghabiskan masa-masa penting kepemimpinannya di lingkungan istana ini sebelum akhirnya pusat pemerintahan berpindah ke bangunan yang lebih modern (Istana Bala Putih) pada tahun 1932.

#

Peran Budaya dan Religiusitas

Masyarakat Samawa memegang teguh semboyan "Adat Barenti Ko Syara, Syara Barenti Ko Kitabullah" (Adat bersendi Syariat, Syariat bersendi Kitabullah). Prinsip ini tercermin sepenuhnya dalam tata ruang Istana Dalam Loka.

Setiap ukiran pada pilar dan tiang istana menghindari bentuk-bentuk makhluk hidup (hewan atau manusia) sesuai dengan ajaran Islam, dan lebih mengutamakan motif flora atau geometri yang rumit. Selain itu, istana ini berfungsi sebagai pusat pembelajaran agama. Pada masa kejayaannya, para ulama sering diundang ke istana untuk memberikan tausiyah kepada keluarga kerajaan dan masyarakat sekitar, menjadikan istana ini sebagai mercusuar keislaman di Pulau Sumbawa.

#

Upaya Pelestarian dan Restorasi

Seiring berjalannya waktu, kayu-kayu tua Istana Dalam Loka mengalami pelapukan akibat cuaca dan usia. Setelah tidak lagi digunakan sebagai tempat tinggal resmi sultan pada tahun 1930-an, bangunan ini sempat mengalami masa pengabaian. Namun, menyadari nilai sejarahnya yang tak ternilai, Pemerintah Indonesia melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mulai melakukan serangkaian restorasi besar pada tahun 1980-an.

Restorasi tersebut dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menjaga keaslian material. Kayu jati kualitas terbaik didatangkan dari berbagai daerah untuk mengganti tiang-tiang yang sudah keropos. Saat ini, Istana Dalam Loka telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional. Fungsinya kini beralih menjadi museum yang menyimpan berbagai artefak kesultanan, meskipun struktur bangunannya sendiri adalah artefak terbesar dan paling berharga.

#

Fakta Unik dan Kekuatan Struktur

Satu fakta unik yang jarang diketahui adalah ketahanan bangunan ini terhadap gempa bumi. Karena sistem konstruksinya menggunakan pasak dan sendi kayu yang fleksibel, Istana Dalam Loka mampu "bergoyang" mengikuti getaran gempa tanpa mengalami keruntuhan struktural yang fatal. Hal ini terbukti dari beberapa kali gempa besar yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara, di mana bangunan modern di sekitarnya hancur, namun Dalam Loka tetap berdiri teguh.

Selain itu, tata letak istana yang dikelilingi oleh halaman luas dahulunya berfungsi sebagai lapangan pacuan kuda dan tempat berkumpulnya rakyat saat upacara adat Mudat. Hal ini menunjukkan bahwa istana tidak dirancang sebagai benteng yang tertutup, melainkan sebagai rumah besar yang inklusif bagi rakyatnya.

#

Penutup: Warisan untuk Masa Depan

Istana Dalam Loka adalah bukti nyata bahwa arsitektur tradisional Indonesia memiliki kecanggihan teknis dan kedalaman filosofis yang luar biasa. Sebagai situs sejarah, ia memberikan pelajaran tentang bagaimana sebuah peradaban mampu menyatukan nilai-nilai spiritual dengan kebutuhan fungsional. Bagi para wisatawan dan peneliti, mengunjungi Dalam Loka bukan hanya sekadar melihat bangunan tua, melainkan melakukan perjalanan waktu menuju era keemasan Kesultanan Sumbawa, di mana kayu dan kearifan lokal berpadu menjadi sebuah mahakarya yang abadi.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Seketeng, Kec. Sumbawa, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat
entrance fee
Rp 10.000 - Rp 20.000
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 16:00

Tempat Menarik Lainnya di Sumbawa

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Sumbawa

Pelajari lebih lanjut tentang Sumbawa dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Sumbawa