Situs Sejarah

Desa Wisata Pariangan

di Tanah Datar, Sumatera Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Peradaban di Nagari Pariangan: Titik Nol Kebudayaan Minangkabau

Desa Wisata Pariangan, atau yang secara tradisional dikenal sebagai Nagari Pariangan, bukan sekadar destinasi wisata biasa. Terletak di lereng Gunung Marapi, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, tempat ini menyandang predikat sebagai "Nagari Tertua" di Ranah Minang. Dengan ketinggian sekitar 500 hingga 700 meter di atas permukaan laut, Pariangan menjadi saksi bisu lahirnya tatanan sosial, hukum adat, dan arsitektur khas yang kini dikenal dunia sebagai identitas etnis Minangkabau.

#

Asal-Usul dan Legenda Pembentukan

Secara historis dan mitologis, keberadaan Pariangan tercatat dalam Tambo Minangkabau (prosa sejarah lisan). Menurut legenda, nenek moyang orang Minangkabau berasal dari keturunan Iskandar Zulkarnain yang berlayar dan menemukan puncak Gunung Marapi yang kala itu masih dikelilingi air. Seiring menyusutnya air, mereka turun dan membangun pemukiman pertama di Pariangan.

Secara etimologi, nama "Pariangan" diyakini berasal dari kata "Parahyangan" yang berarti tempat para dewa atau tempat yang suci. Namun, dalam konteks lokal, ia sering dikaitkan dengan kata "Priangan" yang merujuk pada kesenangan atau kedamaian. Nagari ini menjadi pusat pemerintahan pertama sebelum menyebar ke wilayah Luhak Nan Tigo (Luhak Agam, Luhak Lima Puluh Kota, dan Luhak Tanah Datar).

#

Arsitektur dan Tata Kota Tradisional

Karakteristik arsitektur di Pariangan mencerminkan kearifan lokal dalam menyikapi topografi lereng gunung yang curam. Salah satu struktur paling ikonik adalah Masjid Ishlah, yang dibangun pada abad ke-19. Meskipun telah mengalami renovasi, masjid ini tetap mempertahankan gaya arsitektur kuno dengan atap limas bertingkat yang dipengaruhi oleh corak arsitektur Tibet atau vernacular Asia Tenggara, bukan kubah Timur Tengah. Uniknya, di dalam area masjid terdapat sumber air panas alami yang digunakan jemaah untuk bersuci.

Rumah Gadang di Pariangan memiliki detail konstruksi yang spesifik. Berbeda dengan wilayah pesisir, Rumah Gadang di sini banyak yang menggunakan dinding bambu anyaman (sasak) yang dikombinasikan dengan kayu jati atau surian. Struktur bangunannya tidak menggunakan paku, melainkan sistem pasak yang membuatnya tahan terhadap guncangan gempa—sebuah teknologi tradisional yang telah teruji berabad-abad di jalur vulkanik Sumatera. Pola pemukiman mengikuti kontur tanah, menciptakan pemandangan bertingkat yang sangat artistik.

#

Signifikansi Historis dan Tokoh Penting

Pariangan adalah tempat lahirnya sistem demokrasi tertua di Nusantara. Di sinilah dua tokoh legendaris, Datuk Katumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang, merumuskan sistem adat. Datuk Katumanggungan menyusun sistem Koto Piliang yang cenderung aristokratis, sementara Datuk Perpatih Nan Sebatang menyusun sistem Bodi Caniago yang sangat demokratis (egaliter).

Perpaduan kedua hukum adat ini dikenal sebagai *Adat Nan Sejati*. Di Pariangan pula terdapat Sawah Satampang Baniah, sepetak sawah pertama yang menurut legenda dibuka oleh nenek moyang mereka. Sawah ini hingga kini dianggap sebagai situs sakral dan simbol kedaulatan pangan serta awal mula peradaban agraris di Minangkabau.

#

Situs-Situs Keramat dan Fakta Unik

Beberapa situs sejarah yang spesifik hanya ditemukan di Pariangan antara lain:

1. Makam Panjang Tantejo Gurhano: Seorang arsitek sekaligus tokoh adat yang berperan besar dalam merancang tatanan nagari. Makamnya memiliki panjang yang tidak biasa (sekitar 7-9 meter), yang melambangkan kebesaran pengaruhnya.

2. Batu Lantak Tigo: Sebuah situs batu yang melambangkan batas wilayah Luhak Nan Tigo. Batu ini merupakan simbol persatuan tiga wilayah utama Minangkabau.

3. Rangkiang: Lumbung padi tradisional yang berderet di depan rumah-rumah warga, menunjukkan status sosial dan ketahanan pangan komunitas.

Satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa Pariangan merupakan salah satu dari sedikit nagari yang masih mempertahankan pola Surau sebagai pusat pendidikan pemuda sebelum mereka merantau. Di sini, pemuda belajar agama, bela diri (Silek), dan adat istiadat secara intensif.

#

Kepentingan Religius dan Budaya

Transisi dari kepercayaan animisme/hindu-budha ke Islam di Pariangan terjadi secara harmonis. Hal ini terlihat dari keberadaan menhir-menhir kuno yang masih terjaga di sekitar area pemukiman dan pemakaman. Masyarakat Pariangan memegang teguh filosofi "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah" (Adat bersendikan agama Islam, agama Islam bersendikan Al-Qur'an).

Desa ini menjadi pusat pembelajaran adat bagi pemangku kepentingan dari seluruh Sumatera Barat. Setiap upacara pengangkatan penghulu (Datuk) di Pariangan selalu menjadi referensi bagi nagari-nagari lain karena kesetiaannya pada pakem asli.

#

Pelestarian dan Pengakuan Internasional

Pada tahun 2012, majalah pariwisata internasional Travel Budget dari Amerika Serikat menobatkan Pariangan sebagai salah satu desa terindah di dunia, bersanding dengan Desa Wengen di Swiss dan Eze di Prancis. Pengakuan ini membawa dampak besar pada upaya pelestarian.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan Pariangan sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional. Upaya konservasi difokuskan pada pemugaran Rumah Gadang yang sudah mulai lapuk tanpa menghilangkan nilai otentisitasnya. Program "Nagari Mandiri Wisata" juga diluncurkan untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi dari sektor pariwisata tidak merusak tatanan sosial dan fisik desa yang sudah berusia ratusan tahun.

Hingga saat ini, Pariangan tetap menjadi "Laboratorium Hidup" bagi para sejarawan dan antropolog. Desa ini membuktikan bahwa kemajuan zaman tidak harus menghapuskan jejak masa lalu; melalui pemeliharaan arsitektur, penghormatan terhadap situs-situs keramat, dan regenerasi nilai adat, Pariangan terus berdiri teguh sebagai jantung dari identitas Minangkabau.

📋 Informasi Kunjungan

address
Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar
entrance fee
Sukarela / Parkir kendaraan
opening hours
Setiap hari, 24 Jam

Tempat Menarik Lainnya di Tanah Datar

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Tanah Datar

Pelajari lebih lanjut tentang Tanah Datar dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Tanah Datar