Situs Sejarah

Klenteng Boen Tek Bio

di Tangerang, Banten

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Jejak Peradaban Tionghoa Benteng: Sejarah dan Kemegahan Klenteng Boen Tek Bio

Klenteng Boen Tek Bio merupakan permata sejarah yang terletak di jantung kawasan Pasar Lama, Kota Tangerang, Banten. Sebagai salah satu rumah ibadah tertua di kawasan Tangerang, klenteng ini bukan sekadar bangunan religius, melainkan saksi bisu kristalisasi budaya masyarakat "Cina Benteng" yang telah menetap di tepian Sungai Cisadane selama berabad-abad. Nama "Boen Tek Bio" sendiri memiliki makna filosofis yang mendalam: Boen berarti sastra, Tek berarti kebajikan, dan Bio berarti tempat ibadah. Secara keseluruhan, ia melambangkan tempat untuk memupuk kebajikan melalui pengetahuan dan spiritualitas.

#

Asal-Usul dan Periode Pendirian

Akar sejarah Klenteng Boen Tek Bio membentang hingga abad ke-17. Menurut catatan sejarah dan tradisi lisan setempat, klenteng ini didirikan pada tahun 1684 oleh perkumpulan masyarakat Tionghoa di Tangerang. Keberadaannya berkaitan erat dengan kedatangan migran Tionghoa yang mendarat di Teluk Naga pada tahun 1407 di bawah pimpinan Chen Ci Lung.

Pendirian klenteng ini terjadi pada masa di mana pengaruh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) mulai menguat di wilayah Banten dan Batavia. Lokasinya di sisi timur Sungai Cisadane dipilih karena posisi strategisnya sebagai jalur perdagangan utama kala itu. Pada awalnya, bangunan ini hanyalah sebuah struktur sederhana yang terbuat dari bambu dan atap rumbia, sebelum akhirnya mengalami renovasi besar-besaran menjadi bangunan permanen seiring dengan kemakmuran ekonomi masyarakat Tionghoa di wilayah tersebut.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, Klenteng Boen Tek Bio menampilkan gaya tradisional Tiongkok Selatan yang sangat kental, khususnya pengaruh dari provinsi Fujian. Salah satu ciri khas yang menonjol adalah atap berbentuk pelana dengan ujung melengkung ke atas yang dikenal sebagai gaya Yanwei (ekor walet). Di puncak atap, terdapat sepasang naga yang mengapit mutiara api, simbol perlindungan dan keharmonisan.

Memasuki gerbang utama, pengunjung akan disambut oleh sepasang patung singa batu (Cishi) yang melambangkan penjaga kesucian tempat ibadah. Seluruh struktur bangunan didominasi oleh warna merah dan emas—merah melambangkan kebahagiaan, sementara emas melambangkan kemuliaan. Di dalam ruang utama, terdapat tiang-tiang penyangga (kolom) kayu yang kokoh, dihiasi dengan ukiran kaligrafi Tionghoa yang berisi ajaran-ajaran moral.

Keunikan lain terletak pada lantai keramiknya yang masih mempertahankan estetika kuno, serta lonceng besar (Genta) dan tambur yang digunakan dalam upacara keagamaan. Detail konstruksi kayu di langit-langit menggunakan teknik tou-kung, sebuah sistem penyambung kayu tradisional tanpa paku yang memungkinkan bangunan tetap fleksibel namun kokoh terhadap getaran gempa.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Klenteng Boen Tek Bio mencatat sejarah penting dalam perkembangan identitas masyarakat Cina Benteng. Istilah "Cina Benteng" sendiri muncul karena kedekatan pemukiman mereka dengan benteng pertahanan Belanda (Fort Makassar) yang dulu berdiri di tepi Cisadane. Klenteng ini berfungsi sebagai pusat integrasi sosial, di mana tradisi Tiongkok bercampur dengan budaya lokal Tangerang.

Salah satu peristiwa bersejarah yang paling monumental adalah upacara Gotong Toapekong yang diadakan setiap 12 tahun sekali (tahun Naga). Tradisi ini telah dilakukan sejak abad ke-19 dan melibatkan pengarakan patung-patung dewa mengelilingi kota. Peristiwa ini bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga momen di mana masyarakat dari berbagai latar belakang etnis berkumpul, menunjukkan tingkat toleransi yang tinggi di Tangerang sejak masa kolonial.

#

Tokoh dan Periode Terkait

Meskipun catatan mengenai arsitek spesifiknya tidak terdokumentasi secara individual, keberadaan klenteng ini tidak lepas dari peran para pemimpin komunitas Tionghoa atau Kapitein der Chinezen di Tangerang. Pada abad ke-19, tokoh-tokoh dari keluarga Oey dan Lim tercatat memberikan kontribusi besar dalam pendanaan renovasi klenteng.

Selama masa pendudukan Jepang dan masa revolusi kemerdekaan Indonesia, Boen Tek Bio berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi masyarakat sipil. Klenteng ini menjadi simbol ketahanan komunitas di tengah gejolak politik yang melanda Hindia Belanda hingga menjadi Indonesia.

#

Fungsi Religius dan Budaya

Boen Tek Bio adalah klenteng Tridharma, yang melayani penganut Taoisme, Buddhisme, dan Konfusianisme. Altar utama didedikasikan kepada Kwan Im Hud Zu (Dewi Welas Asih). Selain itu, terdapat altar untuk Kwan Kong (Dewa Keadilan) dan Thian Siang Seng Bo (Dewi Laut), yang mencerminkan latar belakang leluhur mereka sebagai penyeberang lautan.

Secara budaya, klenteng ini adalah pelestari kesenian unik seperti Cokek (tarian tradisional perpaduan Tionghoa-Betawi) dan musik Gambang Kromong. Di sinilah akulturasi budaya terlihat sangat nyata, di mana instrumen musik Tiongkok seperti Tehyan bersinergi dengan alat musik lokal.

#

Status Preservasi dan Restorasi

Pada tahun 1904, Klenteng Boen Tek Bio mengalami renovasi besar yang memberikan bentuk bangunan seperti yang kita lihat sekarang. Segala material bangunan, termasuk ubin dan beberapa pilar kayu, didatangkan langsung dari Tiongkok. Pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang Cagar Budaya telah menetapkan Klenteng Boen Tek Bio sebagai Bangunan Cagar Budaya.

Upaya restorasi dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menjaga keaslian materialnya. Pihak yayasan klenteng secara rutin melakukan pengecatan ulang menggunakan pewarna alami dan memastikan bahwa setiap bagian yang rusak diganti dengan material yang serupa agar nilai historisnya tidak luntur. Restorasi terakhir pada bagian atap dan ornamen naga dilakukan dengan melibatkan pengrajin khusus yang memahami pakem arsitektur Tiongkok kuno.

#

Fakta Unik dan Warisan

Satu hal yang jarang diketahui adalah bahwa Boen Tek Bio memiliki keterkaitan spiritual dengan Klenteng Boen San Bio dan Boen Hay Bio di Tangerang. Ketiganya membentuk "Tiga Serangkai" klenteng tua yang menjaga wilayah Tangerang dari berbagai penjuru mata angin. Selain itu, lonceng kuno yang ada di dalam klenteng merupakan sumbangan dari seorang pejabat kolonial Belanda sebagai bentuk penghormatan terhadap komunitas Tionghoa setempat, sebuah bukti langka adanya pengakuan resmi pada masa itu.

Hingga saat ini, Klenteng Boen Tek Bio tetap berdiri tegak di tengah modernisasi Kota Tangerang. Ia bukan sekadar museum yang beku, melainkan institusi yang hidup, terus menjalankan fungsinya sebagai penjaga moral, pusat kebudayaan, dan simbol kerukunan antarumat beragama di Provinsi Banten. Keberadaannya mengingatkan kita bahwa sejarah Indonesia terbentuk dari jalinan berbagai etnis yang saling menguatkan dalam perjalanan waktu.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Bhakti No.14, Pasar Lama, Kec. Tangerang, Kota Tangerang
entrance fee
Gratis
opening hours
24 Jam

Tempat Menarik Lainnya di Tangerang

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Tangerang

Pelajari lebih lanjut tentang Tangerang dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Tangerang