Bendungan Batutegi
di Tanggamus, Lampung
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Konteks Historis dan Visi Pembangunan
Pembangunan Bendungan Batutegi dimulai pada tahun 1994 dan diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada tanggal 8 Maret 2004. Proyek ambisius ini lahir dari kebutuhan mendesak untuk mengatur debit air Sungai Way Sekampung yang sering menyebabkan banjir di musim hujan namun mengalami kekeringan ekstrem di musim kemarau.
Secara historis, pembangunan ini melibatkan kolaborasi internasional, terutama dukungan pendanaan dan teknis dari badan kerjasama internasional Jepang (JICA). Pembangunannya memakan waktu hampir satu dekade karena kompleksitas medan dan skala material yang harus dipindahkan. Batutegi dirancang untuk menjadi tulang punggung irigasi bagi lebih dari 66.000 hektar lahan pertanian di Lampung, sekaligus menjadi sumber energi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan kapasitas 2 x 14 Megawatt.
Prinsip Desain dan Gaya Arsitektur
Secara arsitektural, Bendungan Batutegi mengadopsi tipe Zoned Rockfill Dam dengan Inti Tanah Liat (Clay Core). Prinsip desain ini dipilih karena fleksibilitasnya terhadap guncangan seismik, mengingat Lampung berada di zona rawan gempa karena kedekatannya dengan Sesar Semangko.
Struktur utama bendungan ini memiliki tinggi mencapai 122 meter dari dasar pondasi, dengan panjang puncak (crest) sekitar 690 meter. Lebar puncaknya mencapai 12 meter, memungkinkan akses kendaraan untuk pemeliharaan. Desainnya menonjolkan estetika fungsionalisme; setiap elemen visual, mulai dari kemiringan lereng bendungan hingga pola perlapisan batu (rip-rap) pada permukaan luar, dirancang untuk efisiensi hidrolik dan stabilitas struktural jangka panjang.
Inovasi Struktural dan Fitur Unik
Salah satu fitur arsitektural yang paling mencolok dari Batutegi adalah struktur Spillway (bangunan pelimpah). Spillway ini dirancang tanpa pintu (un-gated), yang berarti air akan meluap secara otomatis ke saluran peluncur jika permukaan air waduk melebihi ambang batas tertentu. Desain peluncur spillway ini memiliki geometri yang presisi untuk meredam energi kinetik air yang jatuh dari ketinggian ratusan meter agar tidak merusak struktur di bawahnya.
Selain itu, terdapat menara pengambilan (intake tower) yang berdiri megah di tengah genangan air. Menara ini berfungsi untuk mengatur aliran air ke turbin PLTA dan saluran irigasi. Keunikan transmisi airnya terletak pada terowongan pengelak (diversion tunnel) yang kemudian difungsikan kembali sebagai saluran outlet, sebuah contoh efisiensi desain ruang bawah tanah yang sangat rumit.
Material yang digunakan dalam pembangunan ini mayoritas berasal dari sumber daya lokal. Jutaan meter kubik batu andesit digali dari perbukitan sekitarnya, menciptakan harmoni material antara bangunan dengan alam sekitarnya. Penggunaan inti tanah liat yang sangat kedap air di tengah struktur batu memberikan kepadatan yang luar biasa, menjadikan bendungan ini salah satu struktur paling masif di Pulau Sumatera.
Signifikansi Budaya dan Sosial
Bagi masyarakat Tanggamus dan Lampung secara umum, Batutegi telah bertransformasi dari sekadar bangunan teknis menjadi simbol identitas daerah. Nama "Batutegi" sendiri berasal dari bahasa lokal; "Batu" yang berarti batu dan "Tegi" yang berarti tegak atau berdiri. Nama ini merujuk pada adanya dua batu besar yang berdiri tegak di area tersebut sebelum pembangunan, yang kini menjadi legenda lokal yang dihormati.
Secara sosial, bendungan ini telah mengubah pola hidup masyarakat. Ketersediaan air yang stabil sepanjang tahun memungkinkan petani melakukan panen hingga tiga kali setahun, yang secara langsung meningkatkan taraf ekonomi provinsi. Selain itu, bendungan ini menciptakan ekosistem baru di mana sektor perikanan darat berkembang pesat, menciptakan lapangan kerja bagi ribuan warga di sekitar waduk.
Pengalaman Pengunjung dan Estetika Lansekap
Sebagai objek wisata arsitektur, Bendungan Batutegi menawarkan pengalaman visual yang dramatis. Saat pengunjung memasuki kawasan bendungan, mereka disambut oleh hamparan air seluas 3.560 hektar yang dikelilingi oleh hutan hijau yang rimbun. Kontras antara permukaan air yang tenang dengan struktur beton dan susunan batu yang kaku menciptakan komposisi pemandangan yang megah.
Area puncak bendungan sering menjadi lokasi utama bagi pengunjung untuk menikmati skala masif dari proyek ini. Dari ketinggian 122 meter, seseorang dapat melihat lembah di bawahnya dan menyadari betapa besarnya volume air yang ditahan oleh dinding buatan manusia ini. Desain lansekap di sekitar bendungan juga diperhatikan, dengan penataan vegetasi dan area terbuka yang memungkinkan masyarakat menikmati udara sejuk khas pegunungan Tanggamus.
Peran Modern dan Keberlanjutan
Saat ini, Bendungan Batutegi terus berfungsi sebagai infrastruktur vital yang dikelola oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung. Pemeliharaan rutin dilakukan menggunakan teknologi pemantauan sensor untuk mendeteksi pergeseran struktur sekecil apa pun. Hal ini menunjukkan bahwa arsitektur Batutegi adalah "bangunan hidup" yang terus dipantau integritasnya demi keselamatan ribuan jiwa di hilir sungai.
Batutegi adalah bukti nyata bagaimana arsitektur sipil dapat mengubah bentang alam tanpa sepenuhnya merusaknya, melainkan memberikan nilai tambah fungsional yang sangat besar bagi peradaban. Ia tetap tegak (tegi) sebagai penjaga kedaulatan pangan dan energi di gerbang selatan Pulau Sumatera, menghubungkan kecanggihan teknik manusia dengan kekuatan alam yang liar.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Tanggamus
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Tanggamus
Pelajari lebih lanjut tentang Tanggamus dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Tanggamus