Masjid Raya Sultan Ahmadsyah
di Tanjungbalai, Sumatera Utara
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Asal-Usul dan Periode Pendirian
Masjid Raya Sultan Ahmadsyah didirikan pada masa pemerintahan Sultan Asahan yang ke-IX, yakni Sultan Ahmadsyah. Pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 1884 dan selesai pada tahun 1886. Keputusan Sultan Ahmadsyah untuk membangun masjid ini didorong oleh visi untuk memperkuat identitas Islam di wilayah Kesultanan Asahan, sekaligus menggantikan masjid lama yang kapasitasnya tidak lagi memadai bagi pertumbuhan penduduk di Tanjungbalai yang saat itu sedang berkembang pesat sebagai pusat perdagangan.
Lokasi masjid dipilih secara strategis di dekat tepian Sungai Asahan, yang pada abad ke-19 merupakan urat nadi transportasi dan perdagangan internasional. Keberadaan masjid ini menandai era kemakmuran Kesultanan Asahan di bawah kepemimpinan Sultan Ahmadsyah, yang dikenal sebagai sosok yang religius dan visioner dalam menata tata kota Tanjungbalai.
Gaya Arsitektur dan Detail Konstruksi
Keunikan utama Masjid Raya Sultan Ahmadsyah terletak pada perpaduan gaya arsitekturnya yang eklektik. Bangunan ini mencerminkan sinkretisme estetika antara tradisi Melayu lokal, pengaruh arsitektur Mughal India, serta sentuhan kolonial Eropa yang sedang tren di Semenanjung Malaya dan Sumatera Timur saat itu.
Secara struktural, bangunan utama masjid berbentuk persegi dengan atap tumpang yang merupakan ciri khas arsitektur vernakular Nusantara. Namun, pengaruh Timur Tengah dan India terlihat jelas pada bentuk kubah dan menaranya. Salah satu detail yang paling menonjol adalah penggunaan material konstruksi yang didatangkan langsung dari luar negeri. Konon, ubin lantai dipesan khusus dari Belanda, sementara beberapa elemen dekoratif marmer didatangkan dari Singapura dan India.
Bagian dalam masjid didominasi oleh tiang-tiang penyangga yang kokoh dengan ornamen kaligrafi yang halus. Mihrab atau tempat imam memimpin shalat dihiasi dengan ukiran kayu jati yang sangat detail, menunjukkan kemahiran pengrajin lokal pada masa itu. Jendela-jendela besar dengan kaca patri (stained glass) memberikan pencahayaan alami yang dramatis sekaligus sirkulasi udara yang baik, menyesuaikan dengan iklim tropis Sumatera Utara yang lembap.
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting
Masjid ini memiliki peran sentral dalam peristiwa "Revolusi Sosial" di Sumatera Timur pada tahun 1946. Ketika pergolakan politik melanda wilayah kesultanan-kesultanan di Sumatera Utara, Masjid Raya Sultan Ahmadsyah menjadi tempat perlindungan bagi keluarga istana dan masyarakat sipil. Bangunan ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat spiritual, tetapi juga sebagai ruang publik tempat disampaikannya maklumat-maklumat penting terkait kemerdekaan Republik Indonesia di wilayah Tanjungbalai dan Asahan.
Selain itu, masjid ini menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan banyak ulama besar di Sumatera Timur. Tradisi pembacaan Kitab Kuning dan pengajian lintas generasi di serambi masjid telah berlangsung selama lebih dari satu abad, menjadikan masjid ini sebagai mercusuar intelektual Islam di pesisir timur Sumatera.
Tokoh Penting dan Dinasti Kesultanan
Nama masjid ini secara langsung merujuk pada Sultan Ahmadsyah (1854-1888), penguasa yang memberikan perhatian besar pada pembangunan infrastruktur religi. Selain sang Sultan, nama-nama seperti Sultan Alwi dan Sultan Syaibun juga terkait erat dengan pemeliharaan masjid ini di masa-masa setelahnya. Di kompleks masjid ini juga terdapat pemakaman keluarga diraja Kesultanan Asahan, yang mempertegas status masjid sebagai pusat spiritual dinasti. Keberadaan makam para sultan di area masjid menjadikannya situs ziarah sejarah yang penting, menghubungkan masyarakat kontemporer dengan garis keturunan pendiri kota.
Status Pelestarian dan Upaya Restorasi
Sebagai Situs Cagar Budaya, Masjid Raya Sultan Ahmadsyah telah melalui beberapa tahap renovasi. Namun, Pemerintah Kota Tanjungbalai dan Balai Pelestarian Kebudayaan tetap berkomitmen untuk mempertahankan keaslian struktur utamanya. Restorasi yang dilakukan pada dekade terakhir difokuskan pada penguatan fondasi dan perbaikan atap tanpa mengubah bentuk geometri aslinya.
Upaya pelestarian tidak hanya menyentuh fisik bangunan, tetapi juga dokumen-dokumen sejarah berupa naskah kuno dan foto-foto lama yang disimpan di area administrasi masjid. Tantangan utama dalam pelestarian adalah ancaman banjir dari luapan Sungai Asahan, sehingga sistem drainase di sekitar situs terus ditingkatkan untuk memastikan bangunan bersejarah ini tetap kering dan kokoh.
Kepentingan Budaya dan Religi di Masa Kini
Hingga hari ini, Masjid Raya Sultan Ahmadsyah tetap menjadi ikon identitas bagi masyarakat Tanjungbalai. Setiap hari besar Islam, seperti Idul Fitri dan Idul Adha, masjid ini menjadi titik pusat perayaan yang melibatkan ribuan jamaah. Tradisi khas seperti "Bubur Pedas" saat bulan Ramadan seringkali dibagikan di halaman masjid, sebuah tradisi kuliner Melayu yang telah ada sejak zaman kesultanan.
Keberadaan masjid ini membuktikan bahwa meskipun kekuasaan politik kesultanan telah berakhir, warisan budayanya tetap hidup dan relevan. Bagi wisatawan dan peneliti, masjid ini menawarkan studi mendalam tentang bagaimana arsitektur dapat menjadi medium dialog antarbudaya dan saksi keteguhan iman sebuah komunitas di tengah perubahan zaman. Dengan segala kemegahan dan nilai sejarah yang dikandungnya, Masjid Raya Sultan Ahmadsyah berdiri tegak sebagai permata sejarah Sumatera Utara yang tak ternilai harganya.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Tanjungbalai
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Tanjungbalai
Pelajari lebih lanjut tentang Tanjungbalai dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Tanjungbalai