Titik Nol Islam Nusantara
di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Akar Sejarah dan Periode Pembentukan
Eksistensi Barus sebagai pusat peradaban Islam tertua di Indonesia didasarkan pada catatan-catatan kuno dari berbagai bangsa seperti Yunani, Arab, India, hingga Tiongkok. Nama "Barus" sudah dikenal dunia sejak abad ke-2 Masehi melalui tulisan Claudius Ptolemaeus, seorang geografer Yunani, yang menyebutkan adanya pelabuhan bernama Barousai.
Secara spesifik, penetapan titik nol ini merujuk pada periode abad ke-7 hingga ke-10 Masehi. Pada masa itu, Barus menjadi pelabuhan internasional yang sangat vital karena merupakan satu-satunya sumber penghasil kapur barus (camphor) dan kemenyan dengan kualitas terbaik di dunia. Kapur barus sangat dicari oleh bangsa Mesir kuno untuk proses mumifikasi dan oleh bangsa Arab serta Tiongkok untuk keperluan medis dan wewangian. Jalur perdagangan inilah yang membawa para saudagar dan pendakwah dari jazirah Arab (khususnya dari Hadramaut) mendarat di pesisir Tapanuli Tengah, membawa ajaran tauhid di tengah masyarakat lokal.
Arsitektur dan Detail Konstruksi Monumen
Monumen Titik Nol Islam Nusantara diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, pada tanggal 24 Maret 2017. Secara arsitektural, monumen ini dirancang dengan estetika modern namun sarat simbolisme spiritual. Struktur utamanya berdiri kokoh di pinggir pantai Barus, menghadap ke Samudera Hindia yang luas, melambangkan keterbukaan Nusantara terhadap dunia luar.
Monumen ini memiliki pilar-pilar yang menjulang tinggi yang melambangkan rukun Islam dan kekuatan iman. Material yang digunakan didominasi oleh batu alam dan beton berkualitas tinggi untuk menahan korosi air laut. Di sekitar monumen, terdapat pelataran luas yang sering digunakan untuk kegiatan keagamaan dan edukasi. Desainnya yang minimalis sengaja dibuat agar tidak mendominasi pemandangan alam sekitar, melainkan menjadi titik fokus yang mengajak pengunjung merenungi perjalanan sejarah yang panjang di tanah tersebut.
Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait
Keberadaan situs ini mengubah narasi sejarah yang selama ini berkembang bahwa Islam baru masuk ke Nusantara pada abad ke-13 melalui Samudera Pasai. Penemuan di Barus membuktikan bahwa kontak pertama terjadi jauh lebih awal, bahkan pada masa Khulafaur Rasyidin atau awal Dinasti Umayyah.
Salah satu peristiwa sejarah yang krusial adalah ditemukannya berbagai artefak berupa keramik Dinasti Tang, koin-koin kuno Timur Tengah, serta fragmen prasasti yang menggunakan aksara Arab kuno. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi sinkretisme budaya dan interaksi ekonomi yang sangat maju di Barus. Pelabuhan Barus pada masa itu berfungsi sebagai "melting pot" di mana budaya lokal Batak pesisir bersentuhan dengan budaya kosmopolitan dari Arab, Persia, dan India.
Tokoh Penting dan Makam Kuno
Berbicara mengenai Titik Nol Islam Nusantara tidak terlepas dari keberadaan kompleks pemakaman kuno yang terletak tidak jauh dari monumen utama, yaitu Makam Papan Tinggi dan Makam Mahligai. Di tempat-tempat inilah bersemayam tokoh-tokoh besar yang merupakan pionir dakwah Islam di Nusantara.
Makam Papan Tinggi, yang terletak di atas bukit dengan ratusan anak tangga, diyakini sebagai makam Syekh Mahmud bin Abdurrahman bin Muadz bin Jabal, seorang ulama dari tanah Arab. Panjang nisan di kompleks ini mencapai beberapa meter, menunjukkan penghormatan yang sangat tinggi terhadap sosok tersebut. Selain itu, di Makam Mahligai terdapat nisan-nisan kuno yang mencatat nama-nama seperti Syekh Rukunuddin yang wafat pada tahun 44 Hijriah (sekitar 672 Masehi). Bukti epigrafi ini menjadi fakta unik yang tak terbantahkan mengenai usia tua peradaban Islam di Barus.
Status Konservasi dan Upaya Restorasi
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta pemerintah daerah Tapanuli Tengah, telah menetapkan kawasan Barus sebagai kawasan cagar budaya nasional. Restorasi dilakukan secara berkala, terutama pada akses jalan menuju makam-makam di perbukitan agar memudahkan para peziarah dan peneliti.
Upaya pelestarian juga mencakup digitalisasi naskah-naskah kuno dan pemetaan situs-situs arkeologi yang masih tersembunyi di bawah perkebunan warga. Meskipun tantangan alam seperti abrasi pantai mengancam keberadaan monumen, penguatan struktur pantai telah dilakukan untuk menjaga agar titik historis ini tetap tegak berdiri bagi generasi mendatang.
Urgensi Budaya dan Keagamaan
Bagi masyarakat Indonesia, Titik Nol Islam Nusantara memiliki nilai religius yang mendalam. Tempat ini menjadi tujuan wisata religi utama di Sumatera Utara. Setiap tahunnya, ribuan umat Muslim datang untuk berziarah dan melakukan napak tilas sejarah. Secara budaya, situs ini menjadi simbol harmoni. Masyarakat Barus yang heterogen—terdiri dari berbagai etnis dan agama—hidup berdampingan secara damai, mencerminkan nilai-nilai "Islam Nusantara" yang moderat, toleran, dan menghargai kearifan lokal.
Penetapan Barus sebagai titik nol juga berfungsi sebagai pemantik kebanggaan nasional bahwa bangsa Indonesia telah menjadi bagian dari jaringan global peradaban dunia sejak masa yang sangat silam. Dengan memahami sejarah Barus, masyarakat diajak untuk melihat Islam bukan sebagai unsur asing, melainkan sebagai bagian integral yang telah membentuk identitas keindonesiaan selama lebih dari seribu tahun.
Sebagai penutup, Titik Nol Islam Nusantara di Tapanuli Tengah adalah saksi bisu kejayaan maritim dan spiritualitas bangsa. Ia berdiri sebagai pengingat bahwa dari harumnya kapur barus, cahaya peradaban baru menyebar ke seluruh pelosok negeri, membentuk karakter nusantara yang kita kenal hari ini.
📋 Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Tapanuli Tengah
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Tapanuli Tengah
Pelajari lebih lanjut tentang Tapanuli Tengah dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Tapanuli Tengah