Situs Sejarah

Museum Rumah Bundar

di Tarakan, Kalimantan Utara

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Museum Rumah Bundar: Saksi Bisu Perang Dunia II di Bumi Tarakan

Museum Rumah Bundar merupakan salah satu cagar budaya paling ikonik di Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Sebagai bagian dari jaringan situs sejarah yang tersebar di pulau ini, museum ini tidak hanya sekadar bangunan tua, melainkan monumen hidup yang merekam jejak kolonialisme Belanda, pendudukan Jepang, hingga operasi pembebasan oleh tentara Sekutu. Terletak di Jalan Danau Jempang, Kelurahan Pamusian, museum ini berdiri kokoh sebagai simbol ketahanan dan perubahan zaman di wilayah perbatasan Indonesia.

#

Asal-Usul dan Periode Pembangunan

Pembangunan Museum Rumah Bundar berkaitan erat dengan eksploitasi sumber daya alam di Tarakan, khususnya minyak bumi. Pada awal abad ke-20, Tarakan dikenal sebagai salah satu lumbung minyak terbesar di Hindia Belanda yang dikelola oleh Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Setelah kehancuran besar-besaran akibat taktik "bumi hangus" yang dilakukan Belanda saat Jepang masuk pada tahun 1942, infrastruktur di Tarakan rata dengan tanah.

Gedung yang kini menjadi Museum Rumah Bundar dibangun pada tahun 1945 oleh tentara Australia yang tergabung dalam pasukan Sekutu (NICA). Awalnya, bangunan ini tidak dirancang sebagai museum, melainkan sebagai rumah tinggal darurat bagi pegawai sipil pemerintah Hindia Belanda yang kembali ke Tarakan setelah Jepang menyerah. Pemilihan bentuk yang unik didasari oleh kebutuhan akan hunian yang cepat dibangun, fungsional, dan menggunakan material yang tersedia di sisa-sisa medan perang.

#

Karakteristik Arsitektur Jengki dan "Nissen Hut"

Keunikan utama Museum Rumah Bundar terletak pada gaya arsitekturnya yang berbeda dari bangunan kolonial pada umumnya. Bangunan ini mengadopsi gaya Nissen Hut, sebuah desain prefabrikasi yang ditemukan oleh Mayor Peter Norman Nissen dari militer Inggris pada Perang Dunia I. Desain ini kemudian diproduksi massal selama Perang Dunia II karena efisiensi material dan kemudahan mobilisasi.

Struktur bangunan memiliki atap melengkung setengah lingkaran yang terbuat dari seng gelombang (galvalum) yang menyatu hingga ke permukaan tanah, sehingga tidak memiliki dinding samping yang tegak lurus. Bagian depan dan belakang bangunan berbentuk datar dengan ventilasi sederhana untuk mengatur sirkulasi udara di iklim tropis Tarakan yang lembap. Lantainya terbuat dari beton, memberikan kestabilan pada struktur ringan di atasnya. Bentuk atap melengkung ini secara aerodinamis sangat kuat dalam menghadapi angin kencang dan efektif dalam mengalirkan air hujan, sebuah inovasi arsitektur militer yang sangat praktis pada masanya.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Penting

Museum Rumah Bundar berdiri di atas tanah yang pernah menjadi ajang pertempuran sengit. Tarakan adalah titik pertama di Indonesia yang diinvasi oleh Jepang pada Januari 1942 karena cadangan minyaknya yang melimpah. Tiga tahun kemudian, pada Mei 1945, Tarakan kembali menjadi medan tempur dalam "Operasi Oboe One", di mana Divisi ke-9 Australia mendarat di Pantai Lingkas untuk merebut kembali pulau ini dari tangan Jepang.

Gedung ini menjadi saksi periode transisi kekuasaan yang krusial. Kehadirannya menandai fase pembangunan kembali Tarakan pasca-perang. Dalam konteks sejarah global, keberadaan rumah model Nissen di Tarakan membuktikan pengaruh teknologi militer Barat yang dibawa ke Asia Tenggara selama kampanye Pasifik. Setiap lekukan seng pada bangunan ini menyimpan memori kolektif tentang suara tembakan artileri dan deru pesawat tempur yang dahulu memenuhi langit Kalimantan Utara.

#

Tokoh dan Koleksi Artefak

Meskipun tidak merujuk pada satu tokoh individu tertentu sebagai pemilik, bangunan ini sangat identik dengan kehadiran Brigadir Jenderal David Whitehead yang memimpin pasukan Australia dalam perebutan Tarakan. Di dalam museum, pengunjung dapat menemukan berbagai artefak yang menjadi bukti nyata kekejaman dan dinamika perang di Tarakan.

Koleksi museum mencakup berbagai peninggalan militer seperti baling-baling pesawat tempur, botol-botol minuman kuno milik tentara Jepang dan Sekutu, helm baja, hingga sisa-sisa amunisi dan senjata. Selain itu, terdapat foto-foto dokumentasi hitam putih yang memperlihatkan kondisi Kota Tarakan yang hancur lebur akibat pengeboman udara, serta foto-foto para pejuang lokal yang membantu tentara Sekutu dalam mengusir penjajah Jepang. Salah satu koleksi unik adalah peralatan rumah tangga peninggalan masa kolonial yang menunjukkan sisi humanis kehidupan di tengah konflik.

#

Upaya Pelestarian dan Restorasi

Sebagai bagian dari Cagar Budaya yang dilindungi oleh Undang-Undang No. 11 Tahun 2010, Museum Rumah Bundar dikelola oleh Pemerintah Kota Tarakan melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata. Upaya restorasi terus dilakukan untuk menjaga integritas struktur bangunan, terutama pada bagian atap seng yang rentan terhadap korosi akibat udara laut.

Pemerintah setempat berupaya mengintegrasikan Museum Rumah Bundar ke dalam paket wisata sejarah "Tarakan Heritage". Restorasi yang dilakukan tetap mempertahankan keaslian bentuk dan material aslinya agar nilai historisnya tidak hilang. Lingkungan sekitar museum juga ditata sedemikian rupa dengan taman yang asri, menjadikannya pusat edukasi sejarah bagi generasi muda di Kalimantan Utara agar mereka tidak melupakan peran strategis daerahnya dalam panggung sejarah dunia.

#

Pentingnya Budaya dan Edukasi

Bagi masyarakat Tarakan, Museum Rumah Bundar bukan sekadar objek wisata, melainkan identitas kota. Museum ini berfungsi sebagai pusat studi bagi para peneliti dan pelajar untuk memahami dampak Perang Dunia II di Indonesia bagian timur. Secara budaya, museum ini mengingatkan warga akan keragaman latar belakang penduduk Tarakan yang sejak dulu telah berinteraksi dengan berbagai bangsa, mulai dari Belanda, Jepang, hingga Australia.

Keberadaan museum ini juga menjadi pengingat akan pentingnya perdamaian. Dengan melihat sisa-sisa kehancuran perang yang dipamerkan, pengunjung diajak untuk merefleksikan harga mahal dari sebuah kemerdekaan. Museum Rumah Bundar tetap tegak berdiri sebagai monumen ketangguhan, sebuah sisa peradaban yang berhasil bertahan dari badai api perang menuju era pembangunan Indonesia modern.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Danau Jempang, Pamusian, Kec. Tarakan Tengah, Kota Tarakan
entrance fee
Gratis (Donasi sukarela)
opening hours
Senin - Sabtu, 08:00 - 16:00

Tempat Menarik Lainnya di Tarakan

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Tarakan

Pelajari lebih lanjut tentang Tarakan dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Tarakan