Candi Pringapus
di Temanggung, Jawa Tengah
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Menelusuri Jejak Keagungan Candi Pringapus: Permata Hindu di Lereng Gunung Sindoro
Candi Pringapus bukan sekadar tumpukan batu andesit yang membisu di Desa Pringapus, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung. Situs ini merupakan saksi bisu kejayaan peradaban Mataram Kuno yang merepresentasikan harmoni antara arsitektur, spiritualitas, dan keindahan alam Jawa Tengah. Berada di ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut, candi ini menawarkan narasi sejarah yang mendalam mengenai pemujaan Dewa Siwa di wilayah pedalaman karesidenan Kedu.
#
Asal-Usul Historis dan Masa Pendirian
Secara historis, Candi Pringapus diyakini dibangun pada tahun 772 Saka atau 850 Masehi. Penentuan angka tahun ini didasarkan pada prasasti yang ditemukan di sekitar lokasi, yang merujuk pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya. Periode ini merupakan masa keemasan pembangunan candi-candi Hindu di Jawa Tengah, di mana pengaruh seni pahat dan arsitektur mencapai puncaknya sebelum pusat pemerintahan berpindah ke Jawa Timur.
Candi ini merupakan bagian dari gugusan situs purbakala di lereng timur Gunung Sindoro. Keberadaannya berkaitan erat dengan konsep kesuburan dan perlindungan terhadap wilayah pertanian di sekitarnya. Nama "Pringapus" sendiri diambil dari nama desa setempat, namun secara spiritual, situs ini didedikasikan sebagai tempat pemujaan terhadap wahana (kendaraan) Dewa Siwa, yaitu lembu Nandi.
#
Arsitektur dan Detail Konstruksi yang Unik
Salah satu karakteristik paling mencolok dari Candi Pringapus adalah kategorinya sebagai candi perwara (pendamping). Berbeda dengan kompleks Prambanan yang memiliki banyak candi besar, Candi Pringapus yang berdiri saat ini sebenarnya adalah bangunan yang berfungsi menghadap candi utama yang kini sudah tidak utuh lagi.
Arsitektur Candi Pringapus mengusung gaya Jawa Tengah bagian utara, namun dengan kehalusan relief yang mendekati gaya Jawa Tengah bagian selatan. Bahan utamanya adalah batu andesit berkualitas tinggi. Struktur bangunan terdiri dari kaki candi, tubuh candi, dan atap candi yang berbentuk limas berundak.
Relief pada Candi Pringapus sangat istimewa karena detailnya yang sangat tajam dan artistik. Di dinding luar, terdapat pahatan Kala (raksasa penjaga) yang nampak lebih "ramah" dan artistik dibandingkan motif Kala di candi-candi periode sebelumnya. Terdapat pula relief Kinara-Kinari (makhluk surgawi berwujud setengah manusia setengah burung) yang digambarkan sedang memegang instrumen musik atau bunga, menyimbolkan keharmonisan alam semesta.
#
Keberadaan Arca Nandi dan Signifikansi Keagamaan
Fokus utama di dalam bilik (garba griha) Candi Pringapus adalah Arca Nandi. Nandi digambarkan dalam posisi menderu atau duduk bersimpuh dengan kaki terlipat. Keunikan Arca Nandi di Pringapus terletak pada ukurannya yang proporsional dan detail hiasan pada lehernya (genta) yang dipahat dengan sangat teliti.
Dalam kosmologi Hindu-Siwa, Nandi bukan sekadar hewan peliharaan, melainkan simbol dharma (kebenaran) dan kesetiaan. Keberadaan candi khusus untuk Nandi menunjukkan bahwa masyarakat Temanggung kuno memiliki pengabdian yang sangat tinggi terhadap sekte Siwa Pasupata. Situs ini berfungsi sebagai tempat meditasi dan pemujaan bagi para pemeluk Hindu yang memohon berkah kesuburan tanah dan keselamatan dari bencana vulkanik Gunung Sindoro.
#
Tokoh dan Periode Terkait
Pembangunan Candi Pringapus terjadi pada masa transisi kekuasaan dan integrasi antara Dinasti Sanjaya (Hindu) dan Dinasti Syailendra (Buddha). Rakai Pikatan, yang dikenal karena toleransi beragamanya melalui pernikahan dengan Pramodawardhani, kemungkinan besar memberikan dukungan penuh terhadap pembangunan tempat suci ini sebagai bagian dari penguatan legitimasi politik di wilayah Kedu utara.
Situs ini juga mencerminkan pengaruh seni rupa dari India Selatan yang telah diadaptasi dengan kearifan lokal Jawa. Hal ini terlihat dari bentuk atap yang memiliki kemiripan dengan gaya Vimana, namun dengan hiasan Ratna (puncak candi Hindu) yang khas Jawa.
#
Upaya Pelestarian dan Restorasi
Kondisi Candi Pringapus yang kita lihat sekarang adalah hasil dari upaya restorasi yang panjang. Pada awal penemuannya oleh pemerintah kolonial Belanda, candi ini ditemukan dalam kondisi runtuh dan tertimbun tanah serta material vulkanik.
Restorasi besar-besaran dilakukan pada tahun 1930 oleh jawatan purbakala Hindia Belanda (Oudheidkundige Dienst). Para arkeolog saat itu melakukan teknik anastylosis, yaitu menyusun kembali batu-batu asli ke posisi semula dengan bantuan kerangka penguat. Hingga saat ini, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X terus melakukan perawatan rutin, termasuk pembersihan lumut dan penataan taman di sekitar situs untuk menjaga stabilitas tanah.
#
Fakta Sejarah Unik: Hubungan dengan Candi Perot
Salah satu fakta unik yang jarang diketahui adalah hubungan spasial antara Candi Pringapus dengan Candi Perot yang letaknya hanya berjarak sekitar 300 meter. Dahulu, keduanya diyakini merupakan satu kesatuan kompleks percandian yang besar. Namun, Candi Perot mengalami kerusakan parah akibat bencana alam dan pencurian arca di masa lalu, sehingga kini hanya tersisa reruntuhan batu. Keberadaan Candi Pringapus yang masih berdiri tegak menjadi satu-satunya representasi utuh dari kemegahan arsitektur di kawasan tersebut.
#
Makna Budaya bagi Masyarakat Modern
Bagi masyarakat Temanggung saat ini, Candi Pringapus bukan hanya objek wisata sejarah. Situs ini dianggap sebagai "paku bumi" yang menjaga keseimbangan spiritual daerah Ngadirejo. Setiap tahun, beberapa kelompok penghayat dan umat Hindu masih melakukan kunjungan untuk berdoa di tempat ini, terutama pada hari-hari suci seperti Nyepi atau Galungan.
Secara edukatif, Candi Pringapus menjadi laboratorium hidup bagi para peneliti sejarah untuk mempelajari teknik drainase kuno dan sistem penguncian batu (interlocking) tanpa semen yang diaplikasikan oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Keberadaannya menegaskan bahwa sejak abad ke-9, wilayah Temanggung telah menjadi pusat peradaban yang mapan dengan penguasaan teknologi konstruksi yang luar biasa.
Dengan latar belakang Gunung Sindoro yang megah, Candi Pringapus tetap berdiri sebagai monumen keabadian. Ia mengingatkan generasi masa kini tentang pentingnya menjaga warisan leluhur yang mengandung nilai-nilai estetika, toleransi, dan penghormatan terhadap alam semesta. Melalui pelestarian yang berkelanjutan, Candi Pringapus akan terus bercerita kepada dunia tentang kejayaan masa lalu Nusantara yang takkan pernah pudar oleh waktu.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Temanggung
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kamiJelajahi Temanggung
Pelajari lebih lanjut tentang Temanggung dan tempat-tempat menarik lainnya.
Lihat Profil Temanggung