Situs Sejarah

Situs Liyangan

di Temanggung, Jawa Tengah

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menyingkap Tabir Peradaban Mataram Kuno: Eksplorasi Mendalam Situs Liyangan

Situs Liyangan bukan sekadar tumpukan batu candi biasa; ia adalah sebuah kapsul waktu yang terkubur di bawah lapisan material vulkanik Gunung Sindoro selama lebih dari seribu tahun. Terletak di Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, situs ini menawarkan potret unik tentang kehidupan permukiman masa klasik Indonesia yang tidak ditemukan di situs-situs besar lainnya seperti Borobudur atau Prambanan.

#

Asal-Usul Historis dan Penemuan yang Tak Terduga

Keberadaan Situs Liyangan pertama kali terungkap pada tahun 2008 oleh para penambang pasir lokal. Terletak di lereng timur laut Gunung Sindoro pada ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut, situs ini awalnya tertutup oleh material piroklastik sedalam 10 hingga 12 meter. Penemuan ini mengejutkan dunia arkeologi karena yang ditemukan bukan hanya struktur tunggal, melainkan sebuah kompleks luas yang mencakup area hunian, tempat ibadah, dan lahan pertanian.

Berdasarkan analisis radiokarbon dan temuan keramik, Situs Liyangan diperkirakan berasal dari abad ke-2 hingga ke-11 Masehi. Puncak kejayaannya diyakini terjadi pada masa Kerajaan Mataram Kuno (Dinasti Sanjaya). Uniknya, Liyangan memberikan bukti bahwa wilayah ini telah dihuni jauh sebelum candi-candi besar di Jawa Tengah dibangun, menunjukkan kontinuitas peradaban yang panjang di lereng Sindoro.

#

Arsitektur dan Tata Ruang: Kota yang Terstruktur

Berbeda dengan situs arkeologi lain yang didominasi oleh bangunan keagamaan, Situs Liyangan menampilkan tata ruang permukiman yang sangat kompleks. Area ini terbagi menjadi empat bagian utama (terassering) yang mencerminkan hierarki fungsi dan elevasi tanah.

1. Area Hunian: Ditemukan sisa-sisa tiang kayu yang telah menjadi arang, menunjukkan bahwa rumah-rumah pada masa itu menggunakan material organik yang didirikan di atas batur (pondasi) batu. Ini memberikan gambaran konkret mengenai arsitektur rumah rakyat jelata dan bangsawan Mataram Kuno.

2. Area Peribadatan: Terdapat beberapa struktur candi dan batur pemujaan. Candi-candi di Liyangan memiliki gaya arsitektur yang khas, dengan profil kaki yang sederhana namun kokoh, menunjukkan pengaruh Hindu Siwa yang kuat.

3. Area Pertanian: Salah satu temuan paling spektakuler adalah sisa-sisa lahan pertanian kuno yang masih menyisakan jejak tanaman padi dan palawija yang terkarbonisasi. Ini membuktikan bahwa sistem irigasi dan manajemen lahan sudah sangat maju saat itu.

4. Jalanan Kuno: Ditemukan jalan setapak yang disusun dari batu-batu sungai (batu koral), menghubungkan satu area ke area lainnya, yang menunjukkan adanya perencanaan kota yang matang.

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Bencana

Situs Liyangan sering disebut sebagai "Pompeii dari Jawa". Hal ini dikarenakan situs ini "diawetkan" secara paksa oleh letusan dahsyat Gunung Sindoro yang terjadi sekitar abad ke-10 atau ke-11. Material vulkanik yang mengubur situs ini justru melindungi artefak dari pelapukan cuaca dan penjarahan manusia selama berabad-abad.

Peristiwa bencana ini memberikan data kronologis yang akurat bagi para sejarawan. Lapisan tanah yang membungkus Liyangan menunjukkan bahwa pemukiman ini sempat mengalami beberapa kali fase hunian sebelum akhirnya ditinggalkan sepenuhnya akibat aktivitas vulkanik yang masif. Hal ini juga berkaitan erat dengan teori perpindahan pusat kekuasaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok, yang salah satu pemicunya diyakini adalah bencana alam besar.

#

Tokoh dan Periode Terkait

Meskipun tidak ditemukan prasasti yang menyebutkan nama raja secara spesifik di lokasi utama, artefak yang ditemukan seperti keramik dari masa Dinasti Tang (Tiongkok) menunjukkan bahwa Liyangan berada dalam jaringan perdagangan internasional pada abad ke-9 dan ke-10. Pengaruh Dinasti Sanjaya sangat kental terlihat pada gaya ikonografi sisa-sisa arca dan relief yang ditemukan, mempertegas posisi Liyangan sebagai wilayah penting di bawah otoritas kerajaan pusat di bumi Mataram.

#

Kepentingan Budaya dan Religi

Liyangan berfungsi sebagai pusat spiritual sekaligus sosial. Keberadaan mata air (petirtaan) di sekitar situs menunjukkan bahwa air memegang peranan sakral dalam kehidupan masyarakatnya. Ritual penyucian dan pemujaan terhadap dewa-dewa Hindu, khususnya Siwa, terintegrasi dengan kegiatan agraris sehari-hari. Hal ini mencerminkan konsep Local Genius masyarakat Jawa kuno yang mampu memadukan ajaran agama impor dengan kearifan lokal dalam mengelola alam pegunungan.

#

Status Preservasi dan Upaya Restorasi

Saat ini, Situs Liyangan dikelola oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX. Tantangan utama dalam preservasi adalah lokasi situs yang berada di tengah kawasan penambangan pasir aktif. Pemerintah telah menetapkan kawasan ini sebagai Cagar Budaya untuk menghentikan kerusakan lebih lanjut akibat alat berat.

Proses ekskavasi masih terus berlanjut hingga saat ini, mengingat luas situs diperkirakan mencapai lebih dari 4 hektar dan baru sebagian kecil yang berhasil disingkap. Upaya restorasi dilakukan dengan sangat hati-hati, terutama pada struktur batu yang sempat bergeser akibat tekanan material vulkanik. Situs ini sekarang juga dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah edukatif yang memungkinkan pengunjung melihat langsung proses ekskavasi arkeologi.

#

Fakta Unik dan Temuan Penting

Beberapa fakta unik yang membedakan Liyangan dari situs lain meliputi:

  • Temuan Arang Kayu: Ditemukannya sisa kayu bangunan yang tidak hancur menjadi abu, melainkan menjadi arang berstruktur utuh, memungkinkan peneliti mengidentifikasi jenis pohon yang digunakan untuk membangun rumah pada masa Mataram Kuno.
  • Sistem Drainase: Ditemukannya saluran pembuangan air yang terbuat dari batu, menunjukkan pemahaman tinggi mengenai sanitasi lingkungan di lereng gunung.
  • Peralatan Domestik: Penemuan alat-alat rumah tangga seperti gerabah, beliung persegi, dan perhiasan memberikan gambaran stratifikasi sosial masyarakat penghuninya.

Sebagai kesimpulan, Situs Liyangan adalah saksi bisu kejayaan peradaban agraris dan spiritual Jawa Tengah masa lampau. Ia bukan hanya sekadar monumen batu, melainkan sebuah narasi lengkap tentang bagaimana manusia masa lalu beradaptasi, beriman, dan akhirnya tunduk pada kekuatan alam di bawah bayang-bayang Gunung Sindoro. Melalui Liyangan, kita belajar bahwa sejarah bukan hanya tentang raja-raja besar, tetapi juga tentang denyut nadi kehidupan masyarakat biasa yang membangun fondasi budaya Nusantara.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Dusun Liyangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung
entrance fee
Rp 10.000 per orang
opening hours
Setiap hari, 07:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Temanggung

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Temanggung

Pelajari lebih lanjut tentang Temanggung dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Temanggung