Situs Sejarah

Makam Arung Palakka

di Wajo, Sulawesi Selatan

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Asal-Usul Historis dan Periode Pembangunan

Arung Palakka lahir di Soppeng pada tahun 1634 dan wafat pada tahun 1696. Meskipun ia dikenal sebagai Raja Bone ke-15, makamnya tidak terletak di tanah kelahirannya, melainkan di Bontobiraeng, Kecamatan Somba Opu, Gowa. Pemilihan lokasi ini sangat simbolis; ia dimakamkan di jantung wilayah pusat kekuasaan Kerajaan Gowa-Tallo, kerajaan yang pernah menjadi rival terberatnya namun akhirnya tunduk di bawah pengaruhnya setelah Perang Makassar (1666–1669).

Kompleks makam ini dibangun sesaat setelah wafatnya sang pemimpin pada akhir abad ke-17. Pembangunannya menandai berakhirnya era hegemoni Gowa dan dimulainya dominasi Bone di Sulawesi Selatan yang didukung oleh kekuatan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Keberadaan makam ini di Gowa juga menunjukkan posisi Arung Palakka yang saat itu telah diakui sebagai penguasa de facto di wilayah tersebut setelah ia berhasil membebaskan rakyat Bone dan Soppeng dari penindasan.

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Secara arsitektural, Makam Arung Palakka menampilkan karakteristik khas makam raja-raja Sulawesi Selatan pada masa transisi Islam. Bentuk bangunan makam utama menggunakan gaya punden berundak yang dipadukan dengan pengaruh arsitektur Islam lokal. Struktur utamanya terbuat dari batu padas atau batu gunung yang disusun sedemikian rupa tanpa menggunakan semen modern, melainkan campuran putih telur dan kapur sebagai perekat tradisional.

Ciri khas yang paling menonjol dari makam ini adalah bentuk nisan dan jiratnya. Makam Arung Palakka berada di dalam sebuah cungkup atau bangunan pelindung yang megah. Nisan tersebut bertipe "Aceh" atau "Bugis-Makassar" yang memiliki ukiran kaligrafi Arab serta motif sulur-suluran (flora) yang halus. Bentuk makamnya menyerupai replika istana kecil dengan atap tumpang, mencerminkan strata sosial sang penghuni sebagai penguasa tertinggi. Di sekitar makam utama, terdapat makam-makam lain yang merupakan keluarga dekat dan pengikut setia, termasuk makam istrinya, I Mariam Karaeng Pattingalloang.

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait

Situs ini berkaitan erat dengan salah satu peristiwa paling transformatif dalam sejarah Indonesia Timur: Perjanjian Bungaya. Arung Palakka adalah tokoh sentral yang memimpin perlawanan rakyat Bugis terhadap dominasi Sultan Hasanuddin dari Gowa. Perlawanan ini dipicu oleh praktik kerja paksa (maradeka) yang dialami rakyat Bone dan Soppeng dalam pembangunan parit pertahanan di Makassar.

Kemenangan Arung Palakka, yang dibantu oleh laksamana Cornelis Speelman dari VOC, mengubah peta politik Sulawesi secara permanen. Situs makam ini menjadi bukti nyata bagaimana seorang tokoh mampu memobilisasi massa melintasi batas-batas kerajaan (Bone, Soppeng, dan faksi-faksi di Wajo) untuk mencapai kemerdekaan politik kaumnya. Bagi masyarakat Wajo, keterkaitan dengan Arung Palakka bersifat kompleks; sebagian faksi di Wajo pada masa itu mendukung Gowa, sementara yang lain berpihak pada perjuangan pembebasan Arung Palakka, menciptakan dialektika sejarah yang memperkaya identitas lokal.

Tokoh dan Periodisasi Kekuasaan

Arung Palakka memimpin pada periode yang dikenal sebagai "Pax Bone," di mana stabilitas relatif tercapai di Sulawesi Selatan di bawah kepemimpinannya yang tegas. Ia dikenal dengan gelar Petta Malampee Gemme’na yang berarti "Tuan yang Berambut Panjang," merujuk pada sumpahnya untuk tidak memotong rambut sebelum berhasil membebaskan rakyatnya dari penjajahan Gowa.

Selain Arung Palakka, di kompleks ini juga terdapat makam Arung Tibojong, seorang panglima perang yang setia. Keberadaan tokoh-tokoh ini dalam satu kompleks menegaskan struktur hierarki militer dan politik yang kuat pada masa itu. Periode ini juga menandai sinkretisme budaya yang kuat, di mana hukum adat Bugis (Pangngadereng) mulai diintegrasikan secara formal dengan ajaran Islam di bawah naungan kekuasaan Bone.

Pelestarian dan Restorasi

Sebagai Situs Cagar Budaya, Makam Arung Palakka berada di bawah perlindungan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIX. Upaya restorasi telah dilakukan beberapa kali untuk menjaga keutuhan batu padas yang rentan terhadap pelapukan akibat cuaca tropis dan pertumbuhan lumut. Pemerintah daerah juga telah membenahi fasilitas di sekitar situs, seperti akses jalan dan pusat informasi, untuk mendukung kegiatan wisata sejarah.

Meskipun telah mengalami beberapa kali renovasi pada bagian pagar dan cungkup luar, struktur asli makam tetap dipertahankan untuk menjaga nilai otentisitasnya. Tantangan utama pelestarian saat ini adalah menjaga keseimbangan antara fungsi situs sebagai tempat ziarah yang sakral dengan fungsinya sebagai objek wisata edukasi bagi generasi muda.

Kepentingan Budaya dan Religi

Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, Makam Arung Palakka bukan sekadar peninggalan arkeologis. Situs ini dianggap sebagai tempat keramat (saukang) oleh sebagian masyarakat. Banyak peziarah datang dari berbagai penjuru, termasuk dari Kabupaten Wajo dan Bone, untuk melakukan ritual doa dan penghormatan.

Secara budaya, makam ini adalah simbol keberanian (mabbulo sipeppa) dan keteguhan janji. Nilai-nilai Siri' na Pesse (harga diri dan empati) sangat kental terasa saat menelusuri riwayat hidup tokoh yang dimakamkan di sini. Bagi warga Wajo, keberadaan makam ini menjadi pengingat akan pentingnya persatuan antarkerajaan Bugis-Makassar dan kerumitan diplomasi di masa lampau.

Fakta Sejarah Unik

Satu fakta unik yang jarang diketahui adalah bahwa meskipun Arung Palakka bekerja sama dengan Belanda (VOC), ia tetap mempertahankan kedaulatan adatnya dan sering kali berselisih paham dengan pejabat Belanda jika kebijakan mereka merugikan rakyatnya. Selain itu, kompleks makam ini terletak di wilayah yang dikenal sebagai "Bontobiraeng," yang secara harfiah berarti "Bukit Kegembiraan," sebuah kontras yang menarik mengingat tempat ini menjadi peristirahatan terakhir seorang pejuang yang menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam perang dan pengasingan.

Makam ini juga menjadi saksi bisu transisi penulisan sejarah dari tradisi lisan dan Lontara ke dokumentasi tertulis kolonial yang lebih sistematis. Hingga hari ini, Makam Arung Palakka tetap berdiri kokoh sebagai identitas kolektif masyarakat Sulawesi Selatan, menghubungkan masa lalu yang penuh gejolak dengan masa kini yang damai.

📋 Informasi Kunjungan

address
Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo
entrance fee
Gratis / Donasi
opening hours
Setiap hari, 08:00 - 17:00

Tempat Menarik Lainnya di Wajo

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Wajo

Pelajari lebih lanjut tentang Wajo dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Wajo