Masjid Tua Tosora
di Wajo, Sulawesi Selatan
Dipublikasikan: Januari 2025
Tentang
Jejak Kejayaan Kerajaan Wajo: Menelusuri Sejarah dan Arsitektur Masjid Tua Tosora
Masjid Tua Tosora bukan sekadar struktur batu yang melapuk dimakan usia; ia adalah monumen bisu yang merangkum pasang surut peradaban Islam di tanah Bugis, khususnya di wilayah Wajo, Sulawesi Selatan. Terletak di Desa Tosora, Kecamatan Majauleng, situs ini merupakan sisa-misan kejayaan masa lalu saat Tosora masih berfungsi sebagai ibu kota Kerajaan Wajo. Sebagai salah satu situs sejarah paling terkemuka di Sulawesi Selatan, Masjid Tua Tosora menawarkan narasi mendalam mengenai perlawanan, spiritualitas, dan kecerdasan arsitektural masyarakat lokal di masa lampau.
#
Asal-Usul dan Periode Pendirian
Masjid Tua Tosora didirikan pada tahun 1621, tepatnya pada masa pemerintahan Arung Matowa Wajo ke-15, La Sangkuru Patau Mulajaji Sultan Muhammad Safiuddin. Pendirian masjid ini menandai era keemasan Islam di Wajo, setelah kerajaan ini secara resmi memeluk agama Islam pada tahun 1610. Pembangunannya tidak lepas dari peran para ulama besar yang datang ke tanah Bugis untuk menyebarkan syiar Islam, menjadikan Tosora sebagai pusat pendidikan dan penyebaran agama yang disegani di semenanjung selatan Sulawesi.
Pada abad ke-17, Tosora bukan hanya pusat pemerintahan, tetapi juga benteng pertahanan yang kuat. Masjid ini dibangun di dalam kompleks kota berbenteng yang dikelilingi oleh parit-parit pertahanan dan tembok tanah yang luas. Keberadaan masjid di jantung ibu kota menunjukkan bahwa nilai-nilai teokrasi mulai terintegrasi dengan sistem pemerintahan adat Bugis saat itu.
#
Arsitektur dan Detail Konstruksi yang Unik
Secara arsitektural, Masjid Tua Tosora menampilkan keunikan yang membedakannya dari masjid-masjid kuno lainnya di Nusantara. Struktur utamanya tidak menggunakan kayu sebagaimana lazimnya arsitektur tradisional Bugis, melainkan menggunakan susunan batu gunung yang direkatkan dengan campuran bahan tradisional.
Salah satu fakta unik mengenai konstruksinya adalah penggunaan putih telur, kapur, dan pasir sebagai bahan perekat (mortar). Teknik ini memberikan kekuatan luar biasa sehingga sisa-sisa dinding masjid masih mampu berdiri kokoh meski telah berusia lebih dari empat abad. Dindingnya memiliki ketebalan yang mengesankan, menyerupai struktur benteng, yang mencerminkan fungsi ganda bangunan di masa perang.
Masjid ini awalnya memiliki atap tumpang (tumpang tiga) yang menjadi ciri khas arsitektur masjid kuno di Indonesia, namun atap tersebut telah lama hancur akibat peperangan. Di bagian dalam, terdapat sisa-sisa pilar yang dulunya menopang struktur atap. Meski kini hanya menyisakan dinding tanpa atap, tata letak mihrab (ruang imam) masih terlihat jelas, menunjukkan arah kiblat yang presisi secara astronomis pada masanya.
#
Peristiwa Bersejarah dan Signifikansi Politik
Masjid Tua Tosora menjadi saksi bisu dari peristiwa paling dramatis dalam sejarah Wajo, yaitu Perang Makassar (1667-1669) dan pengepungan Tosora oleh pasukan Belanda (VOC) yang dibantu oleh pasukan sekutu lokal. Karena keteguhan rakyat Wajo dalam menolak Perjanjian Bongaya, Tosora menjadi target penghancuran.
Pada tahun 1670, pasukan VOC menyerang Tosora dengan meriam-meriam besar. Masjid ini, yang juga digunakan sebagai tempat perlindungan dan koordinasi strategi perang, mengalami kerusakan parah akibat hantaman artileri. Lubang-lubang bekas peluru meriam pada sisa dinding masjid menjadi bukti otentik betapa dahsyatnya pertempuran yang terjadi. Kekalahan Wajo dalam perang tersebut mengakibatkan kota Tosora perlahan ditinggalkan, namun reruntuhan masjid ini tetap berdiri sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme.
#
Tokoh Penting dan Makam Keramat
Situs Masjid Tua Tosora tidak dapat dipisahkan dari keberadaan makam-makam tokoh besar di sekitarnya. Salah satu tokoh paling menonjol yang dimakamkan di kompleks ini adalah Syekh Jamaluddin Al-Akbar Al-Husaini. Beliau adalah seorang ulama besar keturunan cucu Nabi Muhammad SAW yang diyakini sebagai leluhur dari banyak wali di Nusantara (Wali Songo). Keberadaan makam beliau menjadikan situs ini sebagai destinasi wisata religi yang sangat dihormati, di mana peziarah datang dari berbagai penjuru Indonesia bahkan mancanegara.
Selain Syekh Jamaluddin, di sekitar masjid juga terdapat makam para Arung Matowa (raja) Wajo dan keluarga bangsawan lainnya. Kedekatan antara rumah ibadah dan pemakaman raja-raja ini menegaskan konsep kepemimpinan dalam masyarakat Bugis yang menyatukan peran "Sayyid" (ulama) dan "Arung" (raja).
#
Status Pelestarian dan Upaya Restorasi
Saat ini, Masjid Tua Tosora dikategorikan sebagai Cagar Budaya di bawah pengawasan Balai Pelestarian Kebudayaan. Pemerintah daerah Wajo bersama pemerintah pusat telah melakukan berbagai upaya konservasi untuk mencegah kerusakan lebih lanjut akibat faktor alam dan cuaca.
Restorasi yang dilakukan bersifat konservatif, yakni mempertahankan bentuk asli reruntuhan tanpa membangun kembali secara utuh guna menjaga nilai historisnya. Pembangunan cungkup atau atap pelindung di atas area makam Syekh Jamaluddin telah dilakukan untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Selain itu, penataan lingkungan di sekitar situs terus ditingkatkan agar dapat menjadi pusat edukasi sejarah bagi generasi muda.
#
Makna Budaya dan Religi di Masa Kini
Bagi masyarakat Wajo, Masjid Tua Tosora adalah identitas kolektif. Ia adalah pengingat akan masa di mana Wajo memegang prinsip Maradeka to Wajoe, najajiang alena, na mabberebe ri ade'na (Rakyat Wajo merdeka, dilahirkan merdeka, dan hanya tunduk pada hukum adat). Nilai kemerdekaan ini berpadu dengan ketauhidan yang terpancar dari reruntuhan masjid.
Setiap tahun, ribuan orang mengunjungi situs ini, terutama pada hari-hari besar Islam atau menjelang bulan Ramadan. Keberadaan masjid ini membuktikan bahwa meskipun sebuah bangunan fisik dapat hancur oleh perang, nilai spiritualitas dan sejarah yang dikandungnya tetap abadi dalam ingatan masyarakat. Masjid Tua Tosora bukan sekadar puing batu, melainkan "permata" sejarah yang terus menyinari peradaban Sulawesi Selatan dengan narasi keteguhan iman dan keberanian.
π Informasi Kunjungan
Tempat Menarik Lainnya di Wajo
Tim GeoKepo
Penulis & Peneliti KontenTim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.
Pelajari lebih lanjut tentang tim kami