Bangunan Ikonik

Tugu Yogyakarta

di Yogyakarta, Yogyakarta

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Genealogi Bentuk: Dari Golong-Gilig ke Pal Putih

Memahami arsitektur Tugu Yogyakarta memerlukan pemahaman atas dua fase bentuk yang berbeda. Tugu pertama dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755, sesaat setelah berdirinya Kasultanan Yogyakarta. Desain aslinya dikenal sebagai Tugu Golong-Gilig. Secara struktural, tugu ini memiliki tiang berbentuk silinder (gilig) dan puncaknya berbentuk bulat atau bola (golong). Tinggi aslinya mencapai 25 meter, jauh lebih menjulang dibandingkan struktur yang kita lihat hari ini.

Secara filosofis, bentuk golong-gilig melambangkan Manunggalnya Kawula Gusti, sebuah prinsip penyatuan antara rakyat dengan raja, atau manusia dengan Sang Pencipta. Namun, bencana gempa tektonik hebat pada 10 Juni 1867 meruntuhkan struktur ini. Pemerintah kolonial Belanda melalui residen Dietrich Greeve kemudian merenovasi tugu tersebut pada tahun 1889 dengan perubahan desain yang sangat drastis dan signifikan. Rancangan baru ini dikerjakan di bawah pengawasan Opzichter Waterstaet, YPF van Brussel, dan secara resmi diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VII.

Karakteristik Arsitektur dan Ornamen Ikonik

Struktur yang berdiri saat ini, yang dikenal sebagai Tugu Pal Putih, mengadopsi gaya arsitektur kolonial yang lebih formal dan kaku, dengan ketinggian yang dipangkas menjadi hanya 15 meter. Meskipun bentuk silinder aslinya hilang, desain baru ini memperkenalkan elemen dekoratif yang sangat detail dan sarat simbolisme.

Tugu ini terdiri dari tiga bagian utama: landasan (pedestal), badan tugu, dan puncak (cupola). Landasan tugu bertingkat dengan denah persegi. Pada setiap sisi badan tugu, terdapat prasasti yang menggunakan aksara Jawa, menceritakan proses pembangunan kembali tugu tersebut. Keunikan arsitekturalnya terletak pada penggunaan ornamen yang menyerupai tetesan air atau kristal di bagian transisi antara badan dan puncak.

Puncak tugu berubah menjadi bentuk kerucut yang runcing (obelisk), berbeda total dengan bentuk bulat pada era sebelumnya. Di beberapa bagian, terdapat ukiran berbentuk daun lumbu (talas) dan motif tradisional lainnya yang dipadukan dengan garis-garis tegas khas bangunan Eropa abad ke-19. Warna dominan putih dengan sentuhan prada emas pada detail-detail tertentu memberikan kesan sakral dan elegan, yang juga menjadi alasan penamaan "Pal Putih".

Poros Imajiner: Kedudukan Arsitektural dalam Tata Ruang

Salah satu aspek paling unik dari arsitektur Tugu Yogyakarta bukanlah pada bangunannya sendiri, melainkan letak koordinatnya. Tugu merupakan bagian integral dari Poros Imajiner Yogyakarta yang membentang lurus dari utara ke selatan: Gunung Merapi – Tugu – Kraton Yogyakarta – Panggung Krapyak – Laut Selatan.

Secara arsitektur lanskap, Tugu berfungsi sebagai titik pandang (vista) bagi Sultan saat melakukan meditasi di Bangsal Manguntur Tangkil di Kraton. Jika ditarik garis lurus, Tugu berada tepat di utara Kraton, melambangkan konsentrasi dan arah tujuan hidup. Keberadaan Tugu memastikan bahwa tata ruang kota Yogyakarta memiliki sumbu simetri yang kuat, sebuah prinsip desain yang jarang ditemukan pada kota-kota tradisional Jawa lainnya yang biasanya lebih organik.

Inovasi Struktural dan Material

Meskipun terlihat seperti tugu batu solid, rekonstruksi tahun 1889 menggunakan teknik konstruksi yang lebih modern pada masanya untuk memastikan ketahanan terhadap gempa, belajar dari kegagalan struktur pertama. Material utama terdiri dari batu bata dan semen berkualitas tinggi dengan lapisan plaster halus yang dicat putih.

Detail ornamennya tidak dibuat dengan pahatan batu kasar, melainkan menggunakan cetakan presisi yang mencerminkan pengaruh industrialisasi bangunan kolonial. Pagar yang mengelilingi tugu—meskipun telah mengalami beberapa kali renovasi—dirancang untuk melindungi struktur utama sekaligus memberikan ruang bagi publik untuk mengapresiasi keindahan bangunan dari jarak yang aman.

Signifikansi Budaya dan Pengalaman Pengunjung

Bagi masyarakat Yogyakarta, Tugu adalah lebih dari sekadar beton dan semen. Ia adalah identitas. Secara sosial, Tugu menjadi titik kumpul dalam berbagai peristiwa bersejarah, mulai dari perjuangan kemerdekaan hingga perayaan budaya modern. Dalam konteks pariwisata, Tugu merupakan magnet utama.

Pengalaman pengunjung saat ini telah ditingkatkan dengan penataan kawasan pedestrian di sekelilingnya. Pencahayaan spotlight yang dipasang di bawah tanah memberikan efek dramatis pada malam hari, menonjolkan tekstur dan detail ukiran emas pada badan tugu. Meskipun berada di tengah arus lalu lintas yang padat, Tugu tetap memancarkan ketenangan arsitektural yang kontras dengan hiruk-pikuk kota di sekelilingnya.

Penutup: Simbol Ketangguhan Arsitektur

Tugu Yogyakarta adalah contoh sempurna bagaimana arsitektur mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan esensi spiritualnya. Transformasi dari bentuk Golong-Gilig yang organik ke Pal Putih yang geometris mencerminkan dialektika antara tradisi Jawa dan pengaruh eksternal. Sebagai sebuah ikon, ia tetap berdiri teguh, mengingatkan setiap orang yang memandangnya tentang pentingnya keselarasan antara pemimpin, rakyat, alam, dan Tuhan—sebuah pesan yang dibungkus rapi dalam estetika bangunan yang tak lekang oleh waktu.

📋 Informasi Kunjungan

address
Jl. Jend. Sudirman, Gowongan, Kec. Jetis, Kota Yogyakarta
entrance fee
Gratis
opening hours
24 Jam

Tempat Menarik Lainnya di Yogyakarta

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Yogyakarta

Pelajari lebih lanjut tentang Yogyakarta dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Yogyakarta