Kuil11 Februari 2026

Panduan Festival Dongeng dan Seni Internasional Erau

Pendahuluan

A Guide to the Erau International Folklore and Art Festival adalah jendela menuju kemegahan budaya Kalimantan Timur yang tak tertandingi. Diselenggarakan di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, festival ini bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan sebuah manifestasi hidup dari sejarah panjang Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, kesultanan tertua di Indonesia. Kata "Erau" sendiri berasal dari bahasa lokal "Eroh" yang berarti suasana ramai, riuh rendah, dan penuh sukacita. Suasana ini mencerminkan kegembiraan kolektif rakyat dalam mensyukuri karunia Tuhan dan menghormati leluhur.

Sebagai salah satu festival budaya terbesar di Nusantara, Erau telah bertransformasi menjadi ajang internasional yang mempertemukan tradisi lokal dengan kesenian mancanegara melalui International Folklore and Art Festival (EIFAF). Pengunjung yang datang akan disuguhi perpaduan magis antara ritual sakral yang dilakukan di dalam keraton (Istana Sultan) dan pertunjukan seni kontemporer yang meriah di jalanan kota. Bagi para pelancong budaya, menghadiri Erau adalah kesempatan langka untuk menyaksikan bagaimana sebuah tradisi kuno tetap relevan dan dijaga dengan penuh kehormatan di tengah arus modernisasi. Di sini, setiap tarian, setiap tabuhan gendang, dan setiap kain yang dikenakan memiliki makna filosofis yang mendalam, menjadikan Tenggarong sebagai pusat gravitasi budaya selama festival berlangsung.

Sejarah & Latar Belakang

Akar sejarah Erau bermula pada masa pemerintahan Sultan Kutai pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti, sekitar abad ke-13. Awalnya, Erau diadakan sebagai bagian dari upacara Tijak Tanah dan Mandi ke Tepian ketika sang Sultan mencapai usia dewasa atau saat penobatan raja. Festival ini merupakan bentuk legitimasi kekuasaan sekaligus sarana bagi Sultan untuk berinteraksi langsung dengan rakyatnya. Selama berabad-abad, tradisi ini tetap terjaga meskipun pusat pemerintahan berpindah-pindah, hingga akhirnya menetap di Tenggarong.

Secara historis, Erau adalah hak eksklusif Kesultanan. Namun, seiring dengan perubahan zaman dan bergabungnya Kesultanan ke dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, pelaksanaan Erau kini dikelola melalui kerja sama antara pihak Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. Pada tahun 2013, festival ini naik kelas ke kancah global dengan menggandeng International Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Arts (CIOFF), organisasi di bawah naungan UNESCO.

Penambahan elemen internasional ini tidak melunturkan nilai asli Erau. Sebaliknya, hal ini memperkaya perspektif budaya di mana delegasi dari berbagai negara seperti Rusia, Turki, Korea Selatan, dan Thailand datang ke Tenggarong untuk bertukar tradisi. Namun, inti dari Erau tetaplah ritual adat yang dipimpin oleh keluarga Sultan. Keberadaan Museum Mulawarman, yang dulunya merupakan istana kediaman Sultan, menjadi saksi bisu bagaimana sejarah panjang ini tetap bernapas. Latar belakang sejarah yang kuat inilah yang membuat Erau berbeda dari festival seni biasa; ia adalah ritual suci yang dibalut dalam kemeriahan pesta rakyat.

Daya Tarik Utama

Daya tarik Erau terletak pada rangkaian ritualnya yang eksotis dan partisipasi mancanegara yang dinamis. Berikut adalah beberapa elemen utama yang wajib disaksikan:

1. Upacara Beluluh dan Menjamu Benua

Sebelum festival dimulai secara resmi bagi publik, dilakukan ritual Beluluh, yaitu prosesi penyucian diri bagi Sultan dari unsur-unsur jahat. Setelah itu, dilakukan Menjamu Benua, di mana para sesepuh adat memberikan sesajian di tiga titik kota Tenggarong (Kepala Benua, Tengah Benua, dan Ekor Benua) sebagai bentuk permohonan izin kepada makhluk halus dan leluhur agar acara berjalan lancar tanpa hambatan.

2. Prosesi Mendirikan Ayu

Ini adalah tanda dimulainya Erau secara resmi. Ayu adalah sejenis tiang dari kayu yang dibungkus kain kuning dan dihiasi dengan janur serta telur. Sultan sendiri yang akan memimpin prosesi ini di dalam keraton. Suasana mistis sangat terasa ketika bunyi musik gamelan khas Kutai mulai berkumandang, menandakan bahwa "gerbang" perayaan telah dibuka.

3. Pertunjukan Seni Internasional (EIFAF)

Di panggung utama, Anda akan menyaksikan kontras yang indah. Di satu saat, penari Dayak dengan kostum bulu enggang yang megah akan tampil memukau, dan di saat berikutnya, delegasi dari Eropa Timur mungkin akan membawakan tarian rakyat mereka yang enerjik. Keberagaman ini menciptakan dialog antarbudaya yang sangat kuat di lapangan terbuka atau stadion lokal.

4. Tradisi Mengulur Naga dan Belimbur

Puncak dari segala rangkaian Erau adalah ritual Mengulur Naga. Dua buah replika naga raksasa yang dibuat dari rotan dan kain dibawa menyusuri Sungai Mahakam menuju Kutai Lama. Setelah naga "dilarung" atau dilepaskan bagian kepalanya ke sungai, dimulailah tradisi Belimbur. Ini adalah momen di mana seluruh warga kota, dari pejabat hingga turis, saling menyiramkan air sungai Mahakam. Belimbur melambangkan pembersihan diri dari sifat-sifat buruk dan kesialan. Jalanan Tenggarong akan berubah menjadi arena perang air yang penuh tawa dan persaudaraan.

5. Beseprah (Makan Bersama)

Salah satu momen paling hangat adalah Beseprah, di mana Sultan duduk bersama rakyatnya di atas hamparan kain panjang untuk makan bersama. Ribuan jenis makanan tradisional disajikan dan siapa saja boleh ikut serta. Ini adalah simbol kesetaraan dan kedekatan pemimpin dengan masyarakatnya tanpa sekat kasta.

Tips Perjalanan & Logistik

Menghadiri Erau memerlukan perencanaan yang matang karena kota Tenggarong akan sangat padat selama festival berlangsung.

  • Waktu Pelaksanaan: Erau biasanya diadakan antara bulan Juli hingga September. Pastikan untuk memantau kalender event resmi dari Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara atau media sosial Kesultanan, karena tanggal pastinya mengikuti perhitungan kalender adat dan koordinasi dengan CIOFF.
  • Transportasi: Bandara terdekat adalah Bandara Internasional Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto di Samarinda atau Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan di Balikpapan. Dari Samarinda, Tenggarong dapat ditempuh dalam 1-1,5 jam perjalanan darat. Tersedia opsi travel, taksi online, atau penyewaan mobil pribadi.
  • Akomodasi: Tenggarong memiliki beberapa hotel dan guesthouse, namun kapasitasnya terbatas saat festival. Sangat disarankan untuk memesan akomodasi minimal 2 bulan sebelumnya. Jika penuh, Anda bisa menginap di Samarinda dan melakukan perjalanan pulang-pergi setiap hari.
  • Etika dan Berpakaian: Karena banyak ritual bersifat sakral, berpakaianlah yang sopan. Saat memasuki area keraton atau Museum Mulawarman, kenakan pakaian yang tertutup. Selama acara Belimbur, siapkan pakaian ganti dan lindungi perangkat elektronik Anda dengan tas kedap air (dry bag), karena Anda pasti akan basah kuyup.
  • Perlengkapan: Cuaca di Kalimantan Timur cenderung panas dan lembap. Gunakan tabir surya, topi, dan bawa air minum yang cukup. Jangan lupa membawa kamera dengan memori besar, karena setiap sudut festival ini sangat fotogenik.

Kuliner & Pengalaman Lokal

Kuliner adalah bagian tak terpisahkan dari pengalaman Erau. Selama festival, akan banyak pasar kaget dan stan makanan yang menyajikan hidangan khas Kutai yang jarang ditemukan di tempat lain.

Salah satu yang wajib dicoba adalah Nasi Bekepor. Ini adalah nasi gurih yang dimasak dengan rempah-rempah, ikan asin, dan disajikan dengan sambal raja serta sayur asam kutai. Rasanya yang kaya akan rempah mencerminkan pengaruh budaya pesisir yang kuat. Selain itu, cicipi Gence Ruan, yaitu ikan gabus bakar yang dilumuri sambal goreng khas yang pedas dan segar.

Untuk kudapan manis, carilah Roti Gelap atau Kue Terang Bulan versi lokal. Jangan lewatkan juga kesempatan untuk mencicipi buah-buahan eksotis Kalimantan jika sedang musim, seperti durian lai (durian berwarna oranye) atau elai.

Selain urusan perut, pengalaman lokal yang paling berkesan adalah berinteraksi dengan pengrajin lokal. Di sekitar area festival, Anda bisa menemukan pengrajin Sulam Tumpar (bordir khas Dayak) atau pembuat manik-manik. Membeli produk mereka bukan hanya mendapatkan kenang-kenangan unik, tetapi juga membantu mendukung ekonomi kreatif masyarakat lokal. Menghabiskan sore hari dengan duduk di tepian Sungai Mahakam sambil menikmati pemandangan jembatan Kutai Kartanegara yang ikonik akan melengkapi pengalaman Anda di Tenggarong.

Kesimpulan

Erau International Folklore and Art Festival adalah lebih dari sekadar tontonan; ia adalah sebuah perjalanan spiritual dan budaya yang mendalam. Di sini, batas-batas antara masa lalu dan masa kini, serta antara lokal dan global, melebur menjadi satu harmoni yang indah. Melalui ritual Belimbur yang menyucikan dan kemeriahan tarian mancanegara, Erau mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga akar tradisi sambil tetap terbuka pada dunia luar. Mengunjungi Tenggarong selama Erau akan memberikan Anda perspektif baru tentang kekayaan Indonesia yang sesungguhnya—sebuah bangsa yang besar karena keberagaman budayanya yang tetap terjaga dengan penuh kebanggaan dan kehormatan.

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?