Panduan Wisata Pulau Sebesi: Pulau Tersembunyi di Dekat Krakatau
Pulau Sebesi terletak di Selat Sunda, hanya 16 kilometer dari Gunung Anak Krakatau yang legendaris. Pulau vulkanik kecil di Lampung Selatan ini masih jarang dikenal wisatawan mancanegara. Itulah yang membuatnya layak dikunjungi.
Pulau ini luasnya sekitar 1.600 hektar dengan titik tertinggi 844 meter. Sekitar 2.000 orang tinggal di sini, kebanyakan di Desa Tejang. Mereka bekerja sebagai nelayan, petani, dan pengelola homestay. Suasananya tenang. Pantainya sepi sebagian besar hari.
Kenapa Harus ke Sini
Daya tarik utama adalah pemandangannya. Saat cuaca cerah, Anda bisa melihat Anak Krakatau mengeluarkan asap di cakrawala. Tidak ada tempat lain yang memberikan kursi depan semacam ini ke salah satu gunung berapi paling terkenal di dunia. Letusan Krakatau tahun 1883 terdengar sampai 4.800 kilometer jauhnya di Australia. Abu vulkaniknya menewaskan 36.000 orang. Sebesi selamat karena angin mendorong ledakan ke arah berlawanan.
Pantai di sini seperti Bali 30 tahun lalu. Pasir putih. Air jernih. Tidak ada beach club. Tidak ada pedagang sarung. Tidak ada keramaian. Pantai Gubuk Seng dan Pantai Segenom Ujung adalah spot utama. Anda bisa berjalan mengelilingi seluruh garis pantai dalam satu sore.
Terumbu karangnya masih bagus. Peneliti sudah menghitung 168 spesies ikan dari 28 famili di sekitar pulau. Spot snorkeling termasuk Pulau Sebuku di dekatnya dan perairan sekitar Dermaga Tejang. Anda mungkin melihat penyu sisik. Warga setempat menjalankan program konservasi dan kadang mempersilakan pengunjung melihat mereka melepaskan tukik ke laut.
Aktivitas yang Bisa Dilakukan
Snorkeling dan diving. Spot terbaik ada di Pulau Sebuku Besar dan Pulau Sebuku Kecil, pulau kecil sekitar 2,5 kilometer ke utara. Airnya jernih sampai kedalaman 10 meter. Tutupan karangnya sehat. Hati hati dengan ubur ubur dan bulu babi.
Trekking ke puncak. Pendakian ke atas Sebesi memakan waktu sekitar 3 jam sekali jalan. Jalurnya mulai dari Kampung Segenom. Anda melewati perkebunan kopi dan desa kecil di ketinggian 550 meter. Jalurnya membingungkan di dekat puncak, jadi sewalah pemandu lokal. Puncaknya tertutup hutan, jadi pemandangannya terbatas. Di hari cerah Anda mungkin bisa melihat Krakatau di antara pepohonan.
Island hopping. Operator perahu bisa mengantar Anda ke Pulau Umang Umang, yang punya pasir putih dan pemandangan Krakatau. Sebagian wisatawan membandingkannya dengan Banda Neira. Trip harian ke Anak Krakatau sendiri bisa dilakukan saat aktivitas vulkanik rendah. Naik ke kawah saat ini dilarang. Anda bisa mendarat di pantai dan berjalan di sekitar kaki gunung.
Sunrise dan sunset. Dermaga Tejang menghadap timur, cocok untuk spot sunrise. Sore hari, pantai barat menangkap cahaya terakhir dengan siluet Krakatau di kejauhan.
Camping. Beberapa pantai cukup datar untuk mendirikan tenda. Sebagian wisatawan membawa peralatan dan tidur di tepi air. Pulau ini gelap di malam hari, jadi bintang bintang terlihat jelas.
Cara ke Sana
Dari Jakarta, berkendar ke Pelabuhan Merak dan naik feri ke Bakauheni di Lampung. Ferinya memakan waktu sekitar 2 jam. Dari Bakauheni, berkendar ke Dermaga Canti dekat Kalianda. Ini memakan waktu sekitar 45 menit.
Di Canti, naik perahu ke Pulau Sebesi. Perjalanannya memakan waktu 1,5 sampai 2 jam tergantung kondisi laut. Perahu berharga sekitar Rp 25.000 sampai 50.000 per orang untuk satu tempat duduk di perahu bersama. Sewa perahu pribadi lebih mahal.
Kebanyakan wisatawan melakukan ini sebagai trip 3 hari. Paket open trip tersedia dari operator tur di Jakarta dan Bandar Lampung. Biasanya sudah termasuk transportasi, makan, penginapan, dan transfer perahu dengan harga sekitar Rp 1,3 sampai 1,5 juta per orang.
Tempat Menginap
Homestay yang dikelola keluarga lokal adalah pilihan utama. Kamar kamar sederhana tapi bersih. Diharapkan ada tempat tidur, kipas angin, dan kamar mandi bersama. Harganya rata rata Rp 300.000 per malam. Beberapa tempat menyediakan makan.
Villa Pondok Sebesi Indah milik Pak Hayun ada di dekat dermaga. Punya kamar kamar menghadap pantai dan menjadi basis umum bagi pendaki dan snorkeler.
Tidak ada hotel mewah di sini. Tidak ada resort. Tidak ada kolam renang. Jika Anda menginginkan AC dan layanan kamar, ini bukan tujuan Anda.
Waktu Terbaik Berkunjung
Musim kemarau berlangsung dari Mei sampai September. Laut lebih tenang. Visibilitas untuk snorkeling lebih baik. Penyeberangan perahu lebih lancar. Musim hujan membawa air lebih kasar dan kadang pembatalan trip.
Cek laporan aktivitas vulkanik sebelum merencanakan trip ke Krakatau. Gunung berapi ini aktif beberapa tahun terakhir, dan pihak berwajib kadang membatasi akses.
Yang Harus Dibawa
Tabir surya. Matahari khatulistiwa sangat terik.
Peralatan snorkeling. Beberapa operator menyewakan, tapi kualitasnya berbeda beda.
Uang tunai. Tidak ada ATM di pulau.
Pengusir serangga. Malam tropis membawa nyamuk.
Senter. Pulau ini listriknya terbatas di malam hari.
Tips Praktis
Pesan pemandu lokal untuk pendakian ke puncak. Jalurnya tidak ditandai dengan baik, dan mudah tersesat.
Hati hati ubur ubur saat snorkeling. Mereka muncul musiman.
Mulai pendakian sebelum fajar jika bisa. Panasnya terik menjelang siang.
Bawa camilan. Ada warung kecil, tapi pilihannya terbatas.
Hormati karang. Warga berusaha melindunginya. Menginjaknya merusak pertumbuhan bertahun tahun.
Siapa yang Harus Berkunjung
Wisatawan yang menginginkan pantai tenang tanpa suasana Bali. Orang orang yang tertarik gunung berapi dan geologi. Snorkeler dan diver yang mencari terumbu karang sehat. Siapa saja yang mau menukar kenyamanan dengan tempat yang masih terasa liar.
Siapa yang Sebaiknya Skip
Siapa pun yang butuh akomodasi mewah. Keluarga dengan anak kecil mungkin menemukan perjalanan perahu dan fasilitas sederhana cukup menantang. Wisatawan dengan waktu terbatas di Indonesia mungkin lebih baik memprioritaskan Komodo atau Raja Ampat saja.