Situs Sejarah

Museum Lewu Hante

di Barito Timur, Kalimantan Tengah

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menelusuri Jejak Peradaban Dayak Ma’anyan di Museum Lewu Hante, Barito Timur

Museum Lewu Hante bukan sekadar bangunan kayu yang berdiri kokoh di Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. Destinasi ini merupakan representasi fisik dari filosofi hidup, struktur sosial, dan ketahanan budaya suku Dayak Ma’anyan. Terletak di Desa Taniran, Kecamatan Benua Lima, museum ini menjadi saksi bisu transformasi masyarakat Barito Timur dari masa prasejarah, era kerajaan, hingga masa kemerdekaan Indonesia.

#

Asal-Usul Historis dan Periode Pendirian

Nama "Lewu Hante" berasal dari bahasa Dayak Ma’anyan; Lewu berarti rumah atau kampung, dan Hante berarti besar. Secara harfiah, Lewu Hante berarti "Rumah Besar". Secara historis, bangunan ini mengacu pada konsep Rumah Betang (Rumah Panjang) yang menjadi pusat kehidupan komunal suku Dayak di masa lampau.

Pembangunan Museum Lewu Hante sebagai lembaga konservasi dimulai secara formal pada era 1990-an di bawah prakarsa pemerintah daerah setempat. Tujuannya adalah untuk menyelamatkan artefak-artefak peninggalan leluhur Dayak Ma’anyan yang mulai tercecer. Meskipun bangunannya merupakan replika modern dari struktur tradisional, lokasi dan filosofi pembangunannya tetap berpijak pada situs-situs pemukiman kuno masyarakat Taniran yang telah ada sejak berabad-abad silam sebagai benteng pertahanan terhadap serangan luar.

#

Arsitektur dan Detail Konstruksi

Museum Lewu Hante mengadopsi arsitektur Rumah Betang khas Dayak Ma’anyan yang memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan Betang di wilayah Kalimantan Tengah lainnya. Struktur utamanya adalah rumah panggung yang sangat tinggi, mencapai 3 hingga 5 meter dari permukaan tanah. Hal ini secara historis berfungsi untuk menghindari serangan binatang buas serta sebagai strategi pertahanan militer saat terjadi perang antarkelompok atau asang.

Material utama yang digunakan adalah kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) atau kayu besi, yang dikenal karena kekuatannya yang mampu bertahan ratusan tahun. Fondasi bangunan didukung oleh tiang-tiang kayu bulat besar yang tertanam jauh ke dalam tanah. Tangga pintu masuk, yang disebut hejan, dibuat dari satu batang kayu ulin utuh yang diberi takikan sebagai pijakan. Keunikan arsitekturnya terletak pada orientasi bangunan yang membujur dari timur ke barat, melambangkan siklus kehidupan manusia yang lahir (terbit matahari) dan kembali ke sang pencipta (terbenam matahari).

#

Signifikansi Sejarah dan Peristiwa Terkait

Lewu Hante mencerminkan sistem pemerintahan tradisional Dayak Ma’anyan yang dikenal dengan sistem Patitis. Dahulu, Rumah Besar semacam ini berfungsi sebagai balai pertemuan para tokoh adat atau Pangulu untuk memutuskan perkara hukum adat serta merencanakan strategi pertanian.

Salah satu fakta sejarah yang melekat pada kawasan ini adalah keterkaitannya dengan Kerajaan Nan Sarunai, sebuah kerajaan kuno Dayak Ma’anyan yang pernah berjaya sebelum runtuh akibat serangan dari Majapahit (peristiwa yang dikenal dalam lisan lokal sebagai Nan Sarunai Usak Jawa). Museum ini menyimpan memori kolektif tentang kejayaan Nan Sarunai melalui replika benda pusaka dan catatan lisan yang dipamerkan di dalamnya. Selain itu, kawasan Barito Timur juga menjadi jalur penting bagi penyebaran agama Kristen dan Islam di pedalaman Kalimantan pada abad ke-19, yang jejak interaksinya dapat ditemukan dalam pengaruh motif hias di beberapa artefak museum.

#

Tokoh dan Periode Penting

Sejarah Museum Lewu Hante tidak lepas dari peran para tokoh adat Ma’anyan yang gigih mempertahankan tradisi Watu Dhamma. Di masa kolonial, wilayah Barito Timur merupakan basis pertahanan pejuang lokal melawan Belanda. Tokoh-tokoh seperti Panglima Batur dan pejuang dari suku Ma’anyan sering menggunakan rumah-rumah besar sebagai tempat persembunyian dan konsolidasi kekuatan. Museum ini mendedikasikan ruang tertentu untuk mengenang semangat heroisme tersebut melalui koleksi senjata tradisional seperti Mandau, Lonjo (tombak), dan Sipet (sumpit) yang pernah digunakan dalam pertempuran nyata.

#

Kepentingan Budaya dan Religi

Lewu Hante memiliki kedalaman nilai religi, khususnya bagi penganut kepercayaan Kaharingan. Di dalam atau di sekitar museum, sering ditemukan ornamen yang berkaitan dengan ritual kematian atau Pesta Iraw Sangkai. Koleksi museum mencakup Guci atau Balanga kuno yang bernilai tinggi, yang bagi masyarakat Ma’anyan bukan sekadar wadah air, melainkan simbol status sosial dan alat tukar dalam hukum adat.

Terdapat pula patung-patung kayu yang disebut Sapundu, yang berfungsi sebagai tiang pengikat hewan kurban dalam upacara pemakaman tingkat tinggi. Keberadaan benda-benda ini menegaskan bahwa Lewu Hante bukan hanya tempat penyimpanan barang mati, melainkan ruang sakral yang menghubungkan generasi sekarang dengan roh para leluhur (Nanyu).

#

Status Preservasi dan Upaya Restorasi

Sebagai Situs Sejarah di bawah naungan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Barito Timur, Museum Lewu Hante terus mengalami upaya pemugaran. Tantangan utama dalam preservasi situs ini adalah cuaca ekstrem dan kelembapan yang dapat merusak material kayu.

Restorasi besar dilakukan untuk memperkuat struktur tiang utama dan mengganti atap sirap kayu ulin yang mulai melapuk. Pemerintah daerah juga mulai mendigitalisasi informasi koleksi museum agar dapat diakses oleh peneliti internasional. Meskipun beberapa bagian bangunan telah mengalami modernisasi demi kenyamanan pengunjung, keaslian bentuk dan tata ruang interior tetap dipertahankan sesuai pakem adat Ma’anyan.

#

Fakta Sejarah Unik

Salah satu fakta unik dari Museum Lewu Hante adalah keberadaan koleksi alat musik tradisional Garantung (gong) yang memiliki nada spesifik yang digunakan untuk memanggil warga desa jika ada keadaan darurat. Selain itu, museum ini menyimpan rahasia tentang motif batik khas Barito Timur yang polanya diambil dari ukiran-ukiran kayu yang terdapat pada dinding asli Lewu Hante kuno. Motif tersebut bercerita tentang pohon kehidupan (Batang Garing) yang menjadi pusat kosmologi suku Dayak.

Secara keseluruhan, Museum Lewu Hante di Barito Timur adalah monumen identitas yang sangat vital. Ia berdiri sebagai pengingat bahwa di tengah arus modernisasi, akar budaya Dayak Ma’anyan tetap tertancap kuat melalui tiang-tiang ulin yang menyangga kebanggaan sejarah Kalimantan Tengah. Berkunjung ke museum ini menawarkan pengalaman melintasi waktu, memahami bagaimana manusia di masa lalu berharmoni dengan alam dan sesamanya dalam satu atap yang sama.

📋 Informasi Kunjungan

address
Taniran, Kecamatan Benua Lima, Kabupaten Barito Timur
entrance fee
Sukarela
opening hours
Senin - Sabtu, 08:00 - 16:00

Tempat Menarik Lainnya di Barito Timur

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Barito Timur

Pelajari lebih lanjut tentang Barito Timur dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Barito Timur