Pusat Kebudayaan

Hutan Adat Kampung Sahan

di Bengkayang, Kalimantan Barat

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Menjaga Marwah Dayak Bakati: Eksplorasi Budaya di Hutan Adat Kampung Sahan

Hutan Adat Kampung Sahan, yang terletak di Desa Sahan, Kecamatan Lumar, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, bukan sekadar hamparan pepohonan hijau seluas ratusan hektar. Lokasi ini telah bertransformasi menjadi pusat kebudayaan hidup (living culture center) bagi masyarakat Dayak Bakati. Sebagai benteng terakhir pertahanan tradisi, Hutan Adat Kampung Sahan, atau yang secara lokal dikenal dengan sebutan Tembawang Sahan, memegang peranan krusial dalam mengintegrasikan pelestarian alam dengan penguatan identitas kultural suku Dayak.

#

Filosofi Tembawang dan Pengelolaan Tradisional

Pusat kebudayaan ini berakar pada konsep Tembawang, yaitu sistem agroforestri tradisional di mana masyarakat menanam pohon buah, tanaman obat, dan pohon industri di lahan bekas pemukiman leluhur. Di Kampung Sahan, keberadaan pohon Tengkawang (Shorea stenoptera) menjadi ruh dari kebudayaan mereka. Masyarakat Dayak Bakati di sini memandang hutan bukan sebagai objek komoditas, melainkan sebagai subjek budaya yang memiliki jiwa. Pengelolaan hutan dilakukan melalui hukum adat yang ketat, di mana penebangan pohon tanpa izin komunitas dapat dikenakan sanksi adat berupa denda pati atau kewajiban mengganti rugi dalam bentuk ritual tertentu.

#

Aktivitas Budaya dan Program Unggulan

Di jantung Hutan Adat Kampung Sahan, berbagai program kebudayaan dirancang untuk menghubungkan generasi muda dengan akar leluhur mereka. Salah satu program unggulan adalah "Sekolah Alam Tembawang". Dalam program ini, anak-anak dan remaja diajarkan cara mengidentifikasi jenis-jenis pohon endemik, teknik memanen hasil hutan non-kayu secara berkelanjutan, dan memahami filosofi di balik setiap ritual yang berkaitan dengan alam.

Selain itu, terdapat program rekonstruksi sejarah lisan. Para tetua adat (Tuai Adat) secara rutin berkumpul di rumah pertemuan untuk menuturkan silsilah keluarga, asal-usul kampung, dan mitologi Dayak Bakati kepada para pengunjung dan generasi penerus. Aktivitas ini bertujuan untuk memastikan bahwa sejarah lokal tetap terjaga meski arus modernisasi masuk ke wilayah Bengkayang.

#

Seni Tradisional dan Kerajinan Khas Sahan

Kekayaan budaya di Hutan Adat Sahan tercermin kuat dalam seni pertunjukan dan kerajinannya. Salah satu tarian yang sering dipentaskan di area terbuka hutan adalah Tari Nyemot. Tarian ini merupakan representasi syukur atas hasil panen dan keharmonisan antara manusia dengan mahluk penghuni hutan. Musik pengiringnya menggunakan instrumen tradisional seperti Sape (alat musik petik) dan Gong yang memiliki nada khas Dayak Bakati.

Dalam bidang kerajinan, Hutan Adat Sahan menjadi sumber bahan baku utama untuk seni anyaman. Para perempuan Dayak Bakati di pusat kebudayaan ini mengembangkan kerajinan Bidai, yaitu tikar tradisional yang terbuat dari kulit kayu dan rotan. Motif yang digunakan bukan sekadar hiasan, melainkan simbol-simbol alam seperti motif pucuk rebung dan motif akar yang melambangkan kekuatan serta pertumbuhan. Uniknya, di sini pengunjung dapat mengikuti workshop pembuatan minyak Tengkawang, yang dikenal sebagai "Mentega Kalimantan". Proses pembuatannya mulai dari menjemur biji, menumbuk, hingga memerasnya secara tradisional merupakan pertunjukan teknologi lokal yang tak ternilai harganya.

#

Edukasi dan Keterlibatan Masyarakat

Hutan Adat Kampung Sahan berfungsi sebagai laboratorium sosial. Masyarakat terlibat aktif dalam program "Ekowisata Berbasis Adat". Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat pemandangan, tetapi diwajibkan mengikuti tata krama lokal, seperti meminta izin kepada roh penjaga hutan melalui ritual sederhana saat memasuki wilayah tertentu.

Edukasi mengenai pengobatan tradisional juga menjadi daya tarik utama. Masyarakat Sahan masih mempraktikkan penggunaan akar-akaran dan daun dari hutan sebagai obat herbal. Program identifikasi tanaman obat ini sering melibatkan peneliti dan mahasiswa dari berbagai daerah, menjadikan Kampung Sahan sebagai pusat pengetahuan botani tradisional di Kalimantan Barat.

#

Perhelatan Budaya dan Festival Tahunan

Momen paling krusial dalam kalender budaya Kampung Sahan adalah upacara Gawai Dayak atau Nyadangk. Ini adalah festival pasca-panen yang dirayakan dengan kemegahan ritual dan kegembiraan komunal. Di Hutan Adat Sahan, festival ini diisi dengan ritual Ngatara, yaitu persembahan kepada sang pencipta (Jubata) atas melimpahnya buah Tengkawang dan hasil bumi lainnya.

Selama festival berlangsung, diadakan berbagai perlombaan tradisional seperti menyumpit, pangkak gasing, dan lomba memasak makanan tradisional di dalam bambu (Lemang). Festival ini menjadi magnet bagi wisatawan mancanegara dan domestik, sekaligus menjadi ajang bagi masyarakat Bengkayang untuk memamerkan ketahanan pangan dan kedaulatan budaya mereka.

#

Pelestarian Warisan Budaya dan Peran Strategis

Pelestarian warisan budaya di Hutan Adat Sahan dilakukan melalui pendekatan "Konservasi Berbasis Budaya". Masyarakat percaya bahwa menjaga hutan berarti menjaga martabat adat. Jika hutan rusak, maka hilanglah bahan baku untuk ritual, hilanglah inspirasi untuk seni, dan hilanglah identitas sebagai orang Dayak.

Pusat kebudayaan ini memainkan peran strategis dalam pembangunan daerah di Bengkayang. Dengan menjadikan Hutan Adat sebagai destinasi budaya, ekonomi masyarakat lokal meningkat tanpa harus merusak lingkungan. Penjualan produk turunan Tengkawang seperti sabun, kosmetik, dan bahan pangan telah menjadi sumber pendapatan baru yang selaras dengan nilai-nilai pelestarian.

#

Tantangan dan Harapan Masa Depan

Sebagai pusat kebudayaan, Hutan Adat Kampung Sahan menghadapi tantangan besar dari ekspansi perkebunan monokultur di sekitarnya. Namun, dengan pengakuan resmi dari pemerintah melalui skema Hutan Adat, posisi tawar masyarakat Sahan semakin kuat. Ke depannya, pengembangan museum hidup di dalam kawasan hutan direncanakan untuk mendokumentasikan setiap spesies tanaman dan hubungannya dengan mantra-mantra adat yang ada.

Hutan Adat Kampung Sahan adalah bukti nyata bahwa kemajuan jaman tidak harus mengorbankan tradisi. Di sini, di bawah naungan pohon-pohon raksasa Bengkayang, kebudayaan Dayak Bakati terus bernapas, bergerak, dan beradaptasi. Pusat kebudayaan ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan visi masa depan tentang bagaimana manusia seharusnya hidup berdampingan dengan alam dalam balutan kearifan lokal yang luhur. Melalui setiap anyaman bidai, denting sape, dan ritual di bawah pohon Tengkawang, Hutan Adat Sahan terus menyuarakan pesan penting: bahwa menjaga budaya adalah menjaga kehidupan itu sendiri.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Desa Sahan, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang
entrance fee
Sukarela
opening hours
Dengan janji temu/Izin tokoh adat

Tempat Menarik Lainnya di Bengkayang

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Bengkayang

Pelajari lebih lanjut tentang Bengkayang dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Bengkayang