Situs Sejarah

Keraton Sambaliung

di Berau, Kalimantan

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Keraton Sambaliung: Jejak Megah Kesultanan di Tepian Sungai Kelay

Keraton Sambaliung bukan sekadar bangunan tua yang berdiri di tepian Sungai Kelay; ia adalah monumen hidup yang merekam pasang surut kekuasaan, diplomasi kolonial, dan kearifan lokal masyarakat Berau di Kalimantan Timur. Sebagai salah satu situs sejarah paling terkemuka di Kabupaten Berau, keraton ini menjadi saksi bisu pembagian kekuasaan di Bumi Batiwakkal dan kegigihan para pemimpinnya dalam menjaga kedaulatan di tengah himpitan pengaruh bangsa Eropa.

#

Asal-Usul Historis dan Pembagian Kerajaan Berau

Sejarah Keraton Sambaliung tidak dapat dilepaskan dari peristiwa besar pada abad ke-19, yaitu perpecahan Kesultanan Berau. Sebelum tahun 1810, wilayah Berau dikuasai oleh satu kesultanan tunggal. Namun, akibat dinamika politik internal dan pengaruh politik pecah belah (devide et impera) yang dijalankan oleh pemerintah Hindia Belanda, Kesultanan Berau akhirnya terbagi menjadi dua entitas politik: Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung.

Kesultanan Sambaliung resmi berdiri sebagai entitas mandiri dengan penguasa pertamanya, Sultan Alimuddin yang lebih dikenal dengan gelar Raja Alam. Keraton yang berdiri saat ini di Kecamatan Sambaliung merupakan pusat pemerintahan yang dibangun untuk menegaskan eksistensi kesultanan baru tersebut. Lokasinya yang strategis di pertemuan sungai memudahkan pengawasan terhadap jalur perdagangan dan transportasi air yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Kalimantan saat itu.

#

Arsitektur: Perpaduan Kayu Ulin dan Estetika Melayu-Pesisir

Secara arsitektural, Keraton Sambaliung menampilkan karakteristik bangunan kayu tradisional Kalimantan yang sangat kuat, namun mendapat sentuhan pengaruh kolonial dan Melayu. Material utama yang digunakan adalah kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) atau kayu besi, yang dikenal karena ketahanannya terhadap cuaca ekstrem dan air. Penggunaan ulin memastikan struktur bangunan tetap kokoh meski telah berusia lebih dari satu abad.

Bangunan keraton berbentuk rumah panggung dengan tiang-tiang penyangga yang tinggi, sebuah adaptasi cerdas terhadap kondisi geografis tepian sungai yang rawan banjir. Atapnya berbentuk limasan, yang merupakan ciri khas bangunan bangsawan di Nusantara. Salah satu detail yang paling mencolok adalah keberadaan ukiran-ukiran halus pada bagian lisplang dan jendela, yang memadukan motif flora khas Dayak dan pola geometris Melayu.

Warna kuning mendominasi bagian luar bangunan, melambangkan kemuliaan dan martabat keluarga kerajaan dalam tradisi Melayu-Nusantara. Di bagian depan keraton, terdapat tangga kayu yang lebar yang mengarah langsung ke ruang tamu utama atau balairung, tempat sultan dahulu menerima tamu-tamu kehormatan dan mengadakan pertemuan adat.

#

Peran Penting Raja Alam dan Perlawanan Terhadap Penjajah

Nama Keraton Sambaliung akan selalu identik dengan sosok Sultan Alimuddin atau Raja Alam. Beliau dikenal sebagai pahlawan lokal yang gigih menentang campur tangan Belanda dalam urusan internal kesultanan. Raja Alam menolak berbagai perjanjian yang dianggap merugikan rakyat Berau, terutama terkait monopoli perdagangan hasil hutan dan laut.

Akibat perlawanannya, Raja Alam sempat diasingkan oleh Belanda ke Makassar pada tahun 1834. Namun, semangatnya tidak padam. Keberanian beliau dalam mempertahankan kedaulatan Sambaliung menjadikannya simbol perlawanan rakyat Berau. Keraton ini pun berfungsi sebagai basis konsolidasi kekuatan bagi para pengikut setianya selama masa-masa konflik dengan pemerintah kolonial. Keberadaan prasasti kayu yang ditulis dalam aksara Arab-Melayu di kompleks keraton menjadi bukti otentik mengenai garis keturunan dan legitimasi kekuasaan para Sultan Sambaliung.

#

Makna Budaya dan Keagamaan

Bagi masyarakat Berau, Keraton Sambaliung adalah pusat spiritual dan kebudayaan. Sebagai penganut Islam yang taat, para sultan menjadikan keraton sebagai pusat penyebaran agama. Di sekitar keraton, nilai-nilai keislaman bercampur harmonis dengan adat istiadat setempat. Salah satu tradisi yang masih terjaga hingga kini adalah upacara Manutung Jukut (membakar ikan) dan perayaan hari jadi Kabupaten Berau yang selalu melibatkan prosesi adat di keraton ini.

Di dalam bangunan keraton, tersimpan berbagai artefak berharga yang memiliki nilai sakral. Terdapat singgasana sultan, pakaian kebesaran yang ditenun dengan benang emas, senjata tradisional seperti keris dan tombak, serta peralatan rumah tangga antik dari keramik Tiongkok dan Eropa. Koleksi ini menunjukkan betapa luasnya jaringan perdagangan dan diplomasi yang dijalin oleh Kesultanan Sambaliung pada masa jayanya.

#

Pelestarian dan Upaya Restorasi

Saat ini, Keraton Sambaliung telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh pemerintah Indonesia. Mengingat material dasarnya adalah kayu, tantangan utama dalam pelestariannya adalah pelapukan dan ancaman rayap. Beberapa kali upaya pemugaran telah dilakukan oleh pemerintah daerah bekerja sama dengan ahli konservasi untuk memastikan struktur asli tidak berubah.

Meskipun telah beralih fungsi menjadi museum, keraton ini tetap dihuni oleh keturunan sultan yang bertindak sebagai pemangku adat. Hal ini memberikan nilai tambah bagi wisatawan, karena mereka dapat berinteraksi langsung dengan keluarga kerajaan dan mendengar penuturan sejarah secara lisan. Lingkungan sekitar keraton juga ditata dengan taman yang asri, menjadikannya destinasi wisata sejarah unggulan yang edukatif di Kalimantan Timur.

#

Fakta Unik dan Warisan Dunia

Salah satu fakta unik dari Keraton Sambaliung adalah keberadaan buaya yang diawetkan di dalam kompleks keraton. Menurut legenda setempat, terdapat hubungan mistis antara keluarga sultan dengan penguasa sungai (buaya), yang mencerminkan kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan alam antara manusia dan predator sungai.

Secara keseluruhan, Keraton Sambaliung adalah representasi dari identitas masyarakat Berau. Ia bukan hanya sekadar bangunan kayu ulin yang megah, melainkan simbol ketangguhan sebuah identitas budaya yang mampu bertahan melewati zaman kerajaan, masa kolonial, hingga era modern saat ini. Mengunjungi keraton ini berarti menelusuri kembali jejak-jejak kejayaan maritim dan diplomatik di pesisir utara Kalimantan yang hampir terlupakan oleh waktu.

πŸ“‹ Informasi Kunjungan

address
Jl. Raja Alam, Sambaliung, Kabupaten Berau
entrance fee
Donasi sukarela
opening hours
Senin - Sabtu, 09:00 - 16:00

Tempat Menarik Lainnya di Berau

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Berau

Pelajari lebih lanjut tentang Berau dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Berau