Bangunan Ikonik

Masjid Agung Keraton Buton (Masjid Agung Al-Muqarrabin)

di Buton, Sulawesi Tenggara

Dipublikasikan: Januari 2025

Tentang

Kemegahan Arsitektur Masjid Agung Keraton Buton: Simbol Spiritualitas dan Kedaulatan Kesultanan

Masjid Agung Keraton Buton, yang secara resmi dikenal sebagai Masjid Agung Al-Muqarrabin, bukan sekadar tempat peribadatan umat Muslim di Sulawesi Tenggara. Berdiri kokoh di atas bukit di dalam kompleks Benteng Keraton Buton, Bau-Bau, masjid ini merupakan mahakarya arsitektur yang merepresentasikan puncak kejayaan peradaban Islam di Nusantara Timur. Sebagai salah satu masjid tertua di Indonesia, bangunannya menyimpan narasi panjang tentang integrasi antara nilai-nilai teologis, kearifan lokal suku Buton, dan sistem pemerintahan kesultanan yang unik.

#

Konteks Sejarah dan Akar Konstruksi

Pembangunan Masjid Agung Keraton Buton berkaitan erat dengan masa pemerintahan Sultan Buton ke-19, Sultan Sakiyuddin Durratul Falak, pada abad ke-18 (sekitar tahun 1712). Namun, akar sejarahnya merujuk jauh ke belakang pada masa masuknya Islam ke Buton. Berbeda dengan banyak masjid agung di Jawa yang mengadopsi gaya arsitektur Hindu-Jawa (tajug), Masjid Al-Muqarrabin memiliki identitas visual yang sangat spesifik terhadap budaya Wolio.

Struktur yang kita lihat hari ini merupakan hasil renovasi dan penguatan dari bangunan sebelumnya. Pembangunannya melibatkan gotong royong seluruh rakyat dari berbagai penjuru kesultanan, di mana setiap elemen bangunan dianggap sebagai representasi dari persatuan rakyat Buton di bawah naungan Islam. Letaknya yang berada di titik tertinggi benteng terluas di dunia ini memberikan fungsi ganda: sebagai pusat spiritual sekaligus titik pantau strategis untuk pertahanan.

#

Prinsip Desain dan Estetika Arsitektur Wolio

Secara arsitektural, Masjid Agung Keraton Buton mengadopsi bentuk bangunan panggung yang kemudian dimodifikasi menjadi struktur permanen. Salah satu ciri khas yang paling mencolok adalah atapnya yang berbentuk limas tumpang dua. Atap ini tidak menggunakan kubah logam seperti masjid modern, melainkan mempertahankan siluet tradisional yang melambangkan lapisan langit atau tingkatan spiritualitas dalam tasawuf.

Material utama yang digunakan pada masa awal pembangunan adalah batu gunung yang direkatkan dengan campuran kapur, pasir, dan putih telur sebagai bahan pengikat alami yang sangat kuat. Teknik ini terbukti efektif membuat bangunan bertahan selama berabad-abad melawan cuaca ekstrem dan gempa bumi. Interior masjid didominasi oleh kayu-kayu jati dan kayu lokal pilihan yang diukir dengan motif geometris dan flora, menghindari penggambaran makhluk hidup sesuai dengan syariat Islam.

#

Inovasi Struktural dan Elemen Unik: Angka-Angka Mistis

Keunikan utama Masjid Agung Keraton Buton terletak pada filosofi angka yang diterapkan pada elemen strukturnya. Hampir setiap bagian bangunan memiliki makna simbolis:

1. Tiang Penyangga (Tiang 12): Bangunan ini ditopang oleh 12 buah tiang utama. Angka 12 ini merujuk pada jumlah pemimpin atau aparat dalam struktur pemerintahan Kesultanan Buton (Sara Buton). Tiang-tiang ini tidak hanya berfungsi sebagai penyangga beban, tetapi juga pengingat akan tanggung jawab pemimpin terhadap rakyatnya.

2. Lubang Rahasia (Pusat Bumi): Di dalam masjid, terdapat sebuah lubang yang konon disebut sebagai "Pusat Bumi" (Pusena Tanah). Secara arsitektural, ini adalah elemen yang sangat tidak biasa untuk sebuah masjid. Lubang ini dipercaya mengeluarkan aroma harum pada waktu-waktu tertentu dan menjadi pusat orientasi spiritual bagi masyarakat Buton.

3. Jumlah Anak Tangga dan Pintu: Terdapat 7 buah pintu masuk yang melambangkan tujuh lubang pada tubuh manusia, serta jumlah anak tangga yang diatur sedemikian rupa untuk melambangkan perjalanan manusia menuju Tuhan.

4. Bedug Raksasa: Masjid ini memiliki bedug (Ganda) yang ukurannya sangat besar, diletakkan di sisi bangunan. Bedug ini bukan hanya penanda waktu salat, tetapi dahulu berfungsi sebagai alat komunikasi massa untuk mengumpulkan rakyat dalam keadaan darurat atau upacara adat.

#

Tiang Bendera "Macua": Keajaiban Teknik Tradisional

Di halaman depan masjid, terdapat sebuah tiang bendera kayu yang dikenal sebagai Kasulana Tombi. Tiang ini memiliki ketinggian lebih dari 20 meter dan telah berdiri selama ratusan tahun tanpa lapuk meskipun terpapar panas dan hujan. Keajaiban teknis tiang ini terletak pada pemilihan jenis kayu dan proses pengawetannya yang dilakukan secara tradisional oleh para tukang kayu kesultanan. Tiang ini melambangkan kedaulatan Kesultanan Buton yang berdiri tegak di bawah panji Islam.

#

Signifikansi Budaya dan Sosial

Masjid Al-Muqarrabin adalah jantung dari kebudayaan Buton. Hingga saat ini, masjid ini menjadi lokasi utama pelaksanaan upacara adat Santiago, yaitu ziarah makam sultan-sultan terdahulu, serta upacara Ma'atanoana, sebuah tradisi doa bersama untuk keselamatan negeri.

Masjid ini juga menjadi pusat pendidikan agama. Di masa lalu, serambi masjid digunakan sebagai tempat berdiskusi para ulama dan pejabat kesultanan untuk memutuskan hukum adat yang selaras dengan hukum Islam. Sinkretisme yang harmonis antara adat Wolio dan syariat Islam terpancar kuat dalam cara masyarakat memperlakukan masjid ini—bukan hanya sebagai benda cagar budaya, tetapi sebagai entitas yang hidup.

#

Pengalaman Pengunjung dan Penggunaan Saat Ini

Bagi wisatawan dan peziarah, mengunjungi Masjid Agung Keraton Buton menawarkan pengalaman sensorik yang mendalam. Begitu memasuki area benteng, pengunjung akan disambut oleh suasana hening dan magis. Angin sejuk dari Laut Banda sering kali berhembus masuk melalui jendela-jendela kayu yang lebar, menciptakan sirkulasi udara alami yang membuat bagian dalam masjid tetap dingin meski tanpa pendingin ruangan.

Saat ini, masjid tetap berfungsi penuh sebagai masjid jami' untuk salat lima waktu dan salat Jumat. Pengunjung diwajibkan mengenakan pakaian sopan dan mengikuti tata krama setempat, seperti melepas alas kaki jauh sebelum mencapai selasar. Di sekitar masjid, pengunjung juga dapat melihat sisa-sisa reruntuhan istana kesultanan dan makam Sultan Murhum (Sultan Buton pertama yang memeluk Islam), yang memperkuat narasi sejarah di kawasan tersebut.

#

Kesimpulan

Masjid Agung Keraton Buton (Al-Muqarrabin) adalah sebuah monumen kecerdasan arsitektur masa lalu yang berhasil memadukan fungsi, estetika, dan filosofi. Keberadaannya membuktikan bahwa arsitektur Islam di Indonesia memiliki karakter yang sangat beragam dan sangat dipengaruhi oleh konteks lokalnya. Dengan tiang-tiang kayunya yang kokoh, atap limasnya yang bersahaja, dan rahasia "Pusat Bumi" di dalamnya, masjid ini akan terus berdiri sebagai penjaga identitas masyarakat Buton dan permata arsitektur Sulawesi Tenggara yang tak ternilai harganya.

📋 Informasi Kunjungan

address
Kompleks Benteng Keraton Buton, Kota Baubau
entrance fee
Gratis (Donasi sukarela)
opening hours
Setiap hari, waktu ibadah

Tempat Menarik Lainnya di Buton

Tim GeoKepo

Penulis & Peneliti Konten

Tim GeoKepo adalah sekelompok penulis dan peneliti yang passionate tentang geografi Indonesia. Kami berdedikasi untuk membuat pembelajaran geografi menjadi menyenangkan dan dapat diakses oleh semua orang. Setiap artikel ditulis dengan riset mendalam untuk memastikan akurasi dan kualitas konten.

Pelajari lebih lanjut tentang tim kami
Apakah artikel ini membantu?

Jelajahi Buton

Pelajari lebih lanjut tentang Buton dan tempat-tempat menarik lainnya.

Lihat Profil Buton